Lebih dari 30 kapal komersial tercatat bergerak menuju Selat Hormuz dari dua arah sekaligus, menandakan jalur pelayaran strategis itu tetap aktif meski sorotan terhadap keamanan navigasi masih tinggi. Data MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti menunjukkan arus kapal datang dari Teluk Persia dan Teluk Oman, dengan sebagian besar kapal dari sisi Teluk Persia berupa kapal kargo kering, sementara dari sisi Teluk Oman terlihat sejumlah kapal tanker minyak ikut melintas menuju jalur yang sama.
Pergerakan ini menjadi sinyal penting bagi perdagangan laut internasional karena Selat Hormuz memegang peran besar dalam distribusi barang dan energi. Saat status jalur sempat menjadi perhatian, aktivitas kapal yang tetap mengalir menunjukkan bahwa lalu lintas maritim di kawasan itu belum berhenti, meski keadaan di sekitarnya masih dipantau ketat.
Dari arah Teluk Persia, terdata 23 kapal mendekati selat tersebut. Komposisi kapal di jalur ini didominasi kapal kargo kering, sehingga pergerakan yang terlihat bukan hanya terkait energi, tetapi juga perdagangan barang umum yang tetap berjalan di tengah situasi kawasan yang sensitif.
Sementara itu, dari Teluk Oman ada delapan kapal yang juga menuju Selat Hormuz. Enam di antaranya merupakan kapal tanker minyak, dan kondisi ini kembali menegaskan pentingnya selat itu bagi rantai pasok energi global yang sangat bergantung pada kelancaran jalur sempit tersebut.
Kondisi terbukanya jalur pelayaran itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kapal komersial dapat melintasi Selat Hormuz secara penuh selama gencatan senjata berlangsung. Pernyataan tersebut memberi kepastian sementara bagi operator kapal dan pelaku pasar yang memantau jalur ini secara ketat.
Meski begitu, keterbukaan jalur tidak berarti pengawasan longgar. Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyampaikan bahwa kapal sipil hanya boleh berlayar di rute yang sudah ditentukan, dan aturan itu disebut sebagai bagian dari “tatanan baru” navigasi di selat tersebut.
Pernyataan tersebut membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap berada dalam koridor yang diawasi. Bagi kapal komersial, termasuk tanker minyak dan kapal kargo, kepastian soal rute menjadi sama pentingnya dengan status jalur yang terbuka, karena perubahan kecil saja dapat memengaruhi kelancaran distribusi barang dan energi.
Di sisi lain, pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyebut blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku penuh sampai tercapai kesepakatan dengan Iran. Ia juga mengatakan sebagian besar poin dalam pembicaraan telah dinegosiasikan, sehingga proses politik terkait kawasan itu masih terus bergerak.
Rangkaian pernyataan dari Iran dan AS, ditambah data pergerakan kapal, membuat Selat Hormuz kembali berada di pusat perhatian. Di tengah pengawasan navigasi yang ketat, puluhan kapal yang tetap mengarah ke jalur vital ini memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan laut masih berlangsung, meski kawasan tersebut belum terbebas dari dinamika keamanan dan aturan pelayaran yang ketat.
Source: www.medcom.id