Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian karena Iran mengakui adanya ranjau dan rintangan di perairan yang dilalui salah satu jalur minyak paling strategis di dunia itu. Pengakuan ini membuat tekanan terhadap pelayaran dan pasokan energi global semakin terasa, terutama karena setiap kapal yang hendak melintas disebut harus lebih dulu berkoordinasi dengan Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa kapal-kapal yang ingin melewati selat tersebut perlu berhubungan dengan militer Iran. Ia juga menegaskan bahwa Iran akan memberikan panduan navigasi, termasuk kepada sejumlah kapal India yang disebut telah menerima arahan serupa.
Pengawasan ketat di jalur sempit
Araghchi menyebut keselamatan pelayaran tetap berada dalam kerangka yang ditetapkan Iran. Dalam konferensi pers, ia mengatakan bahwa navigasi yang aman adalah kebijakan negaranya, yang memperlihatkan bagaimana Teheran menempatkan pengaturan arus kapal sebagai bagian dari kontrol keamanan di Selat Hormuz.
Situasi ini membuat selat tersebut kembali disorot karena perannya yang sangat vital dalam distribusi energi dunia. Jalur ini selama ini dikenal sebagai salah satu rute maritim terpenting untuk pengiriman minyak dan gas ke pasar internasional.
Kapal masih bergerak, tetapi di bawah kendali militer
Meski tensi meningkat, lalu lintas kapal belum berhenti sepenuhnya. Laporan yang dikutip menyebutkan ada 30 kapal yang telah melintas di Selat Hormuz sejak Rabu malam, 13 Mei 2026, dan semuanya berada dalam pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Data pelacakan kapal Marine Traffic juga mencatat sedikitnya empat kapal yang terkait dengan China melintasi selat itu dalam 24 jam terakhir. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pelayaran masih berlangsung, tetapi berada dalam pengawasan militer yang ketat.
Ancaman terhadap rantai pasok energi
Kondisi di Selat Hormuz menambah kekhawatiran terhadap rantai pasok energi global. Jalur ini praktis tertutup bagi sebagian besar kapal sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, sehingga pengiriman sumber energi dan kargo global ikut terganggu.
Setiap perubahan situasi di selat itu langsung memengaruhi perhatian pasar dan negara-negara pengguna energi. Karena itu, pengakuan Araghchi soal ranjau di perairan tersebut memperkuat anggapan bahwa risiko pelayaran masih tinggi dan belum menunjukkan tanda mereda.
Gencatan senjata belum memberi kepastian
Di tengah situasi itu, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memang telah berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan jangka panjang, sehingga hubungan kedua pihak masih belum memiliki arah yang jelas.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata itu tanpa batas waktu yang ditetapkan. Meski begitu, ketegangan di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi isu utama karena jalur ini memegang peranan besar dalam rantai pasok energi dunia.
Selama pengawasan militer Iran masih berlangsung dan risiko di perairan itu belum reda, Selat Hormuz akan terus berada di bawah sorotan pelaku pasar serta pemerhati keamanan maritim. Situasi tersebut membuat setiap pernyataan terbaru dari Teheran segera berdampak luas pada perhatian dunia terhadap jalur minyak ini.
