Reli Tembaga April Terkuat Tahun Ini Ditopang Lonjakan Manufaktur China, Pasar Tetap Waspada

Author: Redaksi Android62

Harga tembaga di London Metal Exchange kembali bergerak naik setelah pasar mendapat dorongan dari data manufaktur China yang menunjukkan ekspansi lebih cepat dari perkiraan pada April 2026. Kenaikan ini sekaligus memutus penurunan lima hari beruntun dan mengembalikan fokus investor pada permintaan dari negara yang menyerap porsi terbesar tembaga dunia.

Pada Kamis, 30 April 2026, harga tembaga acuan tiga bulan di LME naik 0,9 persen menjadi 13.119,50 dolar AS per metrik ton pada pukul 09.35 GMT. Sepanjang April 2026, tembaga sudah menguat 6,2 persen dan menjadi bulan terbaiknya sepanjang tahun ini.

Sinyal dari pabrik China

Penguatan harga kali ini banyak ditopang kabar bahwa sektor manufaktur China berekspansi pada laju tercepat sejak akhir 2020. Lonjakan pesanan baru menjadi salah satu pemicu utama, sehingga pasar membaca ada ketahanan permintaan terhadap logam industri.

Bagi pelaku pasar, data seperti ini penting karena China tetap menjadi konsumen terbesar tembaga di dunia. Saat aktivitas pabrik menguat, kebutuhan bahan baku biasanya ikut naik dan mendorong sentimen positif di pasar komoditas.

Stok turun, sentimen ikut terangkat

Optimisme itu juga mendapat dukungan dari penurunan stok tembaga di Shanghai Futures Exchange. Persediaan di bursa tersebut turun 4,6 persen menjadi 192.025 ton dibandingkan pekan lalu.

Kondisi stok yang lebih rendah memberi sinyal bahwa pasokan di pasar fisik tidak terlalu longgar. Di saat yang sama, hal itu membuat perhatian investor makin tertuju pada apakah momentum permintaan China bisa bertahan lebih lama.

Tetap ada bayang-bayang risiko geopolitik

Meski didorong data China, reli tembaga belum sepenuhnya lepas dari tekanan faktor eksternal. Kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik di Timur Tengah masih membuat investor berhati-hati.

Risiko benturan yang melibatkan Amerika Serikat-Israel melawan Iran ikut menahan euforia pasar. Dalam perdagangan komoditas, sentimen geopolitik seperti ini dapat dengan cepat mengubah arah harga.

Pandangan analis masih berhati-hati

Analis CRU, Craig Lang, memperkirakan permintaan tembaga olahan di China akan tumbuh 2,8 persen tahun ini. Ia menilai pertumbuhan itu ditopang oleh investasi jaringan listrik dan ketatnya ketersediaan skrap.

Namun, Lang menilai lonjakan harga tembaga belakangan ini lebih banyak digerakkan oleh dana investasi. Ia juga mengingatkan bahwa stok bursa global saat ini berada pada level tertinggi sejak awal 2000-an.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat ruang kenaikan harga belum sepenuhnya bebas dari tekanan pasokan. Lang tetap memperkirakan harga bisa turun menuju 11.000 dolar AS pada akhir tahun sebelum pulih lagi dalam jangka menengah.

Logam dasar lain ikut bergerak

Pergerakan di pasar logam dasar juga terlihat pada komoditas lain. Nikel naik 1 persen menjadi 19.465 dolar AS per ton dan berada di jalur kenaikan bulanan 13,6 persen.

Kenaikan nikel didorong pengetatan kuota produksi tambang di Indonesia dan kendala pasokan sulfur yang dihadapi perusahaan pemurnian. Sucden Financial menilai harga nikel yang mendekati 20.000 dolar AS per ton dapat meningkatkan peluang persetujuan atau reaktivasi pasokan tambahan.

Di kelompok logam lain, aluminium turun 0,2 persen menjadi 3.482,50 dolar AS, seng naik 1,2 persen menjadi 3.354,50 dolar AS, timah menguat 1,5 persen ke 49.410 dolar AS, dan timbal naik tipis 0,3 persen menjadi 1.954,50 dolar AS. Kombinasi data ekonomi China, kondisi pasokan, dan risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar logam industri.

Berita Terbaru