Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat kembali menjangkau pulau-pulau terluar di Kalimantan Selatan dengan membawa uang layak edar senilai Rp15 miliar. Distribusi itu dilakukan melalui pelayaran KRI HIU 634 untuk menyentuh wilayah kepulauan dan daerah 3T yang sulit dijangkau jalur darat.
Pelepasan tim berlangsung di Pelabuhan Trisakti Bandarmasih, Banjarmasin, pada Selasa (9/6), dipimpin Gubernur Kalsel Muhidin bersama Forkopimda. Ekspedisi yang berjalan pada 9–15 Juni 2026 ini menyasar lima pulau, yakni Kerasian, Kerayaan, Marabatuan, Matasiri, dan Pulau Laut Timur.
Negara hadir hingga wilayah yang paling jauh
Muhidin menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan TNI AL yang kembali bekerja sama memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap mendapatkan rupiah yang layak edar. Menurut dia, kehadiran ekspedisi ini menjadi bukti bahwa negara hadir di seluruh wilayah NKRI tanpa pengecualian.
Ia juga menilai kegiatan tersebut menjadi simbol kolaborasi dan persatuan. “Ekspedisi ini membuktikan, bahwa negara hadir ke semua wilayah NKRI, tanpa kecuali untuk wilayah terpencil,” ujar Muhidin.
Tiga misi dalam satu pelayaran
Ekspedisi Rupiah Berdaulat di Kalsel tidak hanya menyalurkan uang layak edar kepada masyarakat kepulauan. Program ini juga membawa misi perluasan penggunaan QRIS sebagai bagian dari edukasi transaksi digital di daerah 3T.
Selain itu, tim menyiapkan pelayanan kesehatan gratis bagi warga di pulau-pulau singgah. Dengan begitu, manfaat ekspedisi tidak berhenti pada distribusi uang tunai, tetapi juga menyentuh literasi keuangan dan layanan dasar masyarakat.
Peran Bank Indonesia dan TNI AL
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan bersama TNI Angkatan Laut menjalankan ekspedisi ini dengan memanfaatkan KRI HIU 634. Moda laut tersebut memungkinkan uang layak edar mencapai wilayah yang sulit dijangkau karena keterbatasan akses geografis.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, M Anwar Basori, menegaskan pentingnya menjaga keberadaan rupiah hingga pelosok. Ia menyebut rupiah harus tersedia dalam kondisi berkualitas agar masyarakat terhindar dari uang palsu.
“Intinya kita menjaga rupiah harus ada di seluruh pelosok dan berkualitas supaya tidak ada namanya uang palsu,” tegas Anwar Basori.
Dampak langsung bagi warga kepulauan
Kehadiran ERB di lima pulau 3T di Kalimantan Selatan memperlihatkan bahwa layanan keuangan resmi dapat hadir mengikuti kebutuhan masyarakat di wilayah dengan tantangan geografis berat. Distribusi uang tunai, edukasi transaksi digital, dan pelayanan kesehatan berjalan dalam satu rangkaian pelayanan publik.
Bagi warga kepulauan, ekspedisi ini memperpendek jarak menuju layanan keuangan yang layak dan mudah diakses. Rupiah tetap beredar dalam kondisi baik, transaksi digital semakin dikenalkan, dan layanan dasar ikut menjangkau pulau-pulau terluar di Kalimantan Selatan.
