Saat Lahan Pertanian Dilindungi, Biaya PLTS Nyaris Tak Naik dan Hutan Tak Tersentuh

Author: Redaksi Android62

Model pemetaan lokasi PLTS baru memberi cara yang lebih rapi untuk menimbang kebutuhan energi tanpa langsung menekan lahan pertanian atau kawasan ekologis penting. Dengan alat ini, pengembang tidak hanya melihat mana lokasi yang paling murah, tetapi juga bisa membaca dampak pilihannya terhadap hutan, sawah, dan habitat keanekaragaman hayati sejak awal.

Pendekatan itu lahir dari kekhawatiran bahwa dorongan energi terbarukan akan membuat kebutuhan lahan PLTS skala utilitas terus naik. Di titik ini, pemilihan lokasi tidak lagi cukup mengandalkan kecepatan pembangunan, karena keputusan yang tampak efisien di atas kertas bisa memicu konflik penggunaan lahan di lapangan.

Tim dari Cornell University, The Nature Conservancy, U.S. Geological Survey, dan Central Michigan University mengembangkan model tersebut untuk menyeimbangkan tiga kepentingan yang sering saling tarik-menarik. Tiga prioritas itu adalah biaya pembangunan yang rendah, perlindungan lahan pertanian, dan konservasi lingkungan.

Steve Grodsky, penulis senior studi sekaligus Assistant Professor of Natural Resources and the Environment di Cornell University, menilai persoalan ini tidak bisa dibaca dari satu sisi saja. Menurutnya, biodiversitas, pertanian, dan energi berada dalam satu sistem yang saling terkait, sehingga pemilihan lokasi PLTS harus mempertimbangkan konsekuensi antar sektor sejak awal.

Risiko bergeser saat satu tujuan diutamakan

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa saat satu prioritas diberi bobot lebih besar, tekanan lahan justru berpindah ke area lain. Jika perlindungan lahan pertanian dijadikan fokus utama, sekitar 80 persen lokasi potensial di lahan pertanian utama dapat dihindarkan dari pembangunan panel surya.

Namun, perlindungan itu tidak otomatis menyelesaikan persoalan lain. Dalam skenario tersebut, proyek dapat terdorong ke kawasan berbeda, termasuk hutan, sehingga beban lingkungan hanya berpindah tempat.

Sebaliknya, ketika kawasan ekologis sensitif dihindari, biaya tahunan hanya naik sekitar 0,17 persen. Pada skenario itu, pembangunan panel surya lebih cenderung mengarah ke padang rumput, ladang jerami, dan lahan pertanian yang telah diolah.

New York jadi lokasi uji

New York dipilih sebagai tempat uji karena negara bagian ini punya target transisi energi yang agresif. Pada 2019, negara bagian tersebut mengesahkan undang-undang iklim yang menargetkan 70 persen pasokan listrik berasal dari energi terbarukan pada 2030 dan 100 persen pada 2040.

Dalam skenario pengembangan tenaga surya paling agresif yang dihitung tim, New York diperkirakan membutuhkan kapasitas sekitar 46.000 megawatt hingga 2050. Untuk mencapai skala itu, lahan yang dibutuhkan mencapai sekitar 107.700 hektare.

Jika dibandingkan dengan total luas New York yang sekitar 30 juta hektare, kebutuhan tersebut tergolong kecil. Wilayah itu juga mencakup sekitar 6,5 juta hektare lahan pertanian dan 4,5 juta hektare lahan lindung milik negara.

Biaya rendah bukan satu-satunya patokan

Adam Gallaher, penulis utama studi, mengatakan lokasi PLTS selama ini kerap dipilih dengan mengutamakan biaya terendah agar proyek cepat dan efisien. Ia menilai pendekatan semacam itu sering memicu penolakan dari masyarakat yang ingin melindungi lahan pertanian utama dan mencegah penebangan hutan dalam skala besar.

Karena itu, model pemetaan ini dipandang sebagai alat bantu yang lebih seimbang. Selain membantu menekan risiko konflik, model tersebut juga memberi gambaran apakah lokasi yang dipilih memang cocok untuk tujuan energi, pertanian, dan lingkungan sekaligus.

Para peneliti menyebut pendekatan ini berpotensi diterapkan di wilayah lain yang menghadapi dilema serupa. Dalam pemetaan berbasis biaya terendah, mereka memasukkan jarak ke jalan dan jaringan transmisi listrik, jenis tanah, serta penggunaan lahan saat ini, sementara data pertanian dan lingkungan diambil dari lembaga terkait di New York dan pemerintah federal Amerika Serikat.

Temuan itu menunjukkan bahwa percepatan energi terbarukan masih bisa berjalan tanpa harus mengorbankan sawah, hutan, atau kawasan bernilai ekologis tinggi. Dengan perencanaan lokasi yang lebih cermat, pembangunan PLTS dapat diarahkan lebih bertanggung jawab dengan tambahan biaya yang relatif kecil.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru