Salatiga dan Demak Siap Gerak, Jalur Pariwisata Syariah Jateng 2027 Makin Kuat

Author: Redaksi Android62

Sejumlah daerah di kawasan Kedungsepur mulai menyiapkan langkah konkret untuk menguatkan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah Jawa Tengah pada 2027. Arah itu terlihat dari keseriusan para kepala daerah yang menyatukan pandangan dalam Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah 2026 wilayah Kedungsepur di Pendopo Kabupaten Grobogan.

Dukungan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata ramah muslim tidak lagi hanya menjadi agenda provinsi, tetapi juga ikut dikerjakan oleh kabupaten dan kota penyangga Semarang. Masing-masing daerah datang dengan kesiapan yang berbeda, mulai dari sertifikasi halal, penguatan layanan wisata, sampai penyiapan kawasan pertumbuhan baru.

Demak, Semarang, dan Kendal ambil posisi awal

Kabupaten Demak menjadi salah satu daerah yang paling awal menunjukkan kesiapan. Bupati Demak Eisti’anah menyampaikan bahwa daerahnya siap mendukung target provinsi untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan dan wisata ramah muslim.

Di Demak, usaha pariwisata ramah muslim sudah ditetapkan di lima tempat. Pemerintah daerah juga menyiapkan target lanjutan berupa produk bersertifikasi halal.

Kabupaten Semarang pun membawa agenda yang sejalan dengan arah itu. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menjelaskan pengembangan pariwisata daerahnya terhubung dengan Borobudur, Solo, Kopeng, dan Rawapening.

Untuk mendukung wisata ramah muslim, Pemerintah Kabupaten Semarang telah menyiapkan empat rumah pemotongan hewan bersertifikat halal. Langkah ini menjadi bagian dari penopang layanan yang mendukung ekosistem wisata lebih luas.

Sementara itu, Kabupaten Kendal juga menyatakan kesiapan mengikuti arah pembangunan provinsi. Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan pihaknya siap menyelaraskan kebijakan daerah dengan target pembangunan Jawa Tengah pada 2027.

Dyah juga menyebut sejumlah program prioritas di Kendal sudah disiapkan untuk ikut mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dengan begitu, Kendal masuk dalam barisan daerah yang mencoba bergerak serempak bersama provinsi.

Salatiga arahkan pengembangan ke wisata dan ekonomi kreatif

Di Kota Salatiga, fokus pembangunan 2027 diarahkan ke pariwisata dan ekosistem ekonomi kreatif berbasis sumber daya manusia unggul. Penjelasan itu disampaikan Sekretaris Daerah Kota Salatiga Muthoin dalam forum tersebut.

Pemkot Salatiga juga telah menyiapkan lahan sekitar 17 ribu meter persegi untuk pembangunan exit Tol Taman Sari atau Patimura. Area itu diproyeksikan menjadi kawasan pertumbuhan pariwisata dan perdagangan.

Kota ini punya posisi yang berbeda karena juga dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Salatiga kerap menerima tamu mancanegara yang datang untuk mempelajari kehidupan toleransi di kota itu.

Karena karakter tersebut, Pemkot Salatiga berkomitmen mengembangkan wajah kota, budaya, dan paket wisata daerah. Arah itu dinilai sejalan dengan upaya membangun pariwisata yang tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga mengangkat identitas lokal.

Grobogan dorong gerak bersama antardaerah

Sebagai tuan rumah, Kabupaten Grobogan ikut menegaskan dukungan pada pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah. Bupati Grobogan Setyo Hadi menyampaikan pemerintah daerahnya siap mendukung meski masih menghadapi sejumlah tantangan pembangunan.

Pernyataan itu memperkuat kesan bahwa daerah-daerah di Kedungsepur ingin melangkah dalam satu arah. Forum rembug pembangunan pun menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan tiap daerah dengan tujuan pembangunan yang lebih besar di tingkat provinsi.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Ia menegaskan bahwa rembug pembangunan ini merupakan tindak lanjut dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang sebelumnya telah digelar.

Sumarno menyebut seluruh usulan kabupaten dan kota juga sudah masuk melalui aplikasi perencanaan pembangunan. Ia mengapresiasi dukungan daerah di wilayah Kedungsepur terhadap arah pembangunan Jawa Tengah pada 2027.

Menurut Sumarno, kolaborasi dan diskusi antardaerah penting untuk memperkuat sinergi. Ia berharap langkah bersama itu bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, termasuk lewat sektor pariwisata yang lebih ramah dan terintegrasi.

Source: timesindonesia.co.id
Berita Terbaru