Selama Tuntutan AS Tetap Tinggi, Kesepakatan Iran Masih Jauh Dari Final

Iran memberi sinyal bahwa kesepakatan final dengan Amerika Serikat belum akan lahir tanpa perubahan sikap dari Washington. Teheran menilai tuntutan AS yang dianggap berlebihan masih menjadi ganjalan utama dalam pembicaraan yang berjalan di tengah situasi penuh tekanan.

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan jalur perundingan tetap terbuka, tetapi sejumlah hambatan penting belum terselesaikan. Sikap Washington dinilai akan sangat menentukan apakah pembicaraan bisa bergerak ke tahap yang lebih konkret atau tetap tersendat.

Fokus paling berat dalam negosiasi masih berkisar pada program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut dua isu itu belum menemukan titik temu, meski beberapa poin lain diklaim sudah mendekati kesepakatan.

Menurut Trump, Washington dan Teheran sudah mencapai kesepahaman pada sejumlah isu yang dianggap tidak terlalu penting. Namun, perbedaan pada soal-soal strategis membuat peluang tercapainya hasil akhir masih rapuh.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjadi sosok yang menegaskan bahwa outcome perundingan sangat bergantung pada perubahan pendekatan pihak AS. Ia juga berbicara lewat sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi.

Komunikasi dengan Oman memiliki arti penting karena negara itu kerap dipandang sebagai jalur penghubung dalam komunikasi Iran dengan pihak lain di kawasan. Di tengah ketegangan yang masih tinggi, saluran seperti ini menjaga ruang diplomasi tetap hidup.

Situasi di lapangan ikut membebani pembicaraan yang sudah sulit. Perundingan berlangsung ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, menimbulkan kerusakan dan korban sipil.

Pada 7 April, AS dan Iran disebut menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Meski demikian, kondisi di lapangan tetap diwarnai langkah saling tekan yang memperberat suasana negosiasi.

Tekanan itu juga muncul lewat blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran kemudian menutup Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi barang.

Langkah tersebut meningkatkan risiko terhadap arus perdagangan dan stabilitas kawasan. Selat Hormuz memiliki peran penting bagi pergerakan ekonomi regional, sehingga setiap gangguan di jalur itu langsung memicu perhatian besar.

Dengan rangkaian tekanan itu, pernyataan Iran mengenai kesepakatan final menunjukkan bahwa pembicaraan belum mendekati titik akhir. Teheran memberi isyarat jelas bahwa tuntutan yang dinilai berlebihan harus dihentikan jika Washington ingin membuka jalan menuju hasil yang lebih pasti.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait