Selat Hormuz mencatat pemulihan lalu lintas yang mencolok ketika 25 kapal komersial kembali melintas dalam satu hari pada Kamis, 18 Juni 2026. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak awal Juni dan menandai pergerakan yang lebih stabil di jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia.
Data pelayaran terbaru menunjukkan kenaikan aktivitas ini terjadi setelah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali selat tersebut serta mencabut blokade maritim terhadap Iran. Perubahan ini memberi sinyal bahwa arus perdagangan di penghubung Teluk Persia dengan pasar global mulai bergerak normal lagi.
Muatan energi kembali mendominasi
Dari 25 kapal yang melintas, sembilan di antaranya teridentifikasi membawa muatan penuh. Jenis kargonya beragam, mulai dari LNG, minyak mentah, produk minyak, pupuk, muatan curah kering, hingga kontainer.
Empat kapal tanker raksasa tercatat membawa setidaknya delapan juta barel minyak mentah melalui selat tersebut. Tiga tanker raksasa di antaranya mengangkut 6,2 juta barel minyak Saudi, dengan lebih dari empat juta barel diarahkan ke Jepang dan Korea Selatan.
Satu tanker berbendera Saudi, Jaham, membawa 2,1 juta barel minyak dengan tujuan akhir yang belum diketahui. Sementara itu, tanker Tenzan mengangkut 1,8 juta barel minyak mentah dari Uni Emirat Arab menuju Jepang.
Arus pengiriman mulai lebih beragam
Selain minyak mentah, jalur ini juga dilalui pengiriman gas dan produk olahan. Kapal LNG berbendera Prancis, Mraikh, mengangkut 169 ribu meter kubik LNG dari fasilitas Ras Laffan, Qatar, menuju Pakistan.
Di kategori produk minyak bersih, kapal tanker berbendera Hong Kong, Tong Lin Wan, membawa 592 ribu barel dari Uni Emirat Arab ke Singapura. Dua kapal curah kering yang melintas penuh juga tercatat membawa pupuk menuju India dan China.
Pola lalu lintas sempat naik turun sebelum pulih
Data MarineTraffic memperlihatkan jumlah kapal komersial yang melewati Selat Hormuz bergerak fluktuatif sebelum kembali naik. Pada 14 Juni tercatat 12 kapal, lalu 10 kapal pada 15 Juni, 14 kapal pada 16 Juni, dan turun menjadi tujuh kapal pada 17 Juni.
Menurut data yang dihimpun Anadolu dari Kpler dan MarineTraffic, lonjakan menjadi 25 kapal pada 18 Juni menegaskan bahwa pemulihan memang mulai terlihat. Namun, pergerakan itu juga menunjukkan stabilitas di kawasan tersebut masih bergantung pada perkembangan geopolitik yang memengaruhi jalur energi dunia.
