Harga minyak dunia kembali bergerak tipis pada perdagangan Kamis (9/7/2026) ketika pasar belum menemukan kepastian arah. Brent turun 16 sen menjadi US$ 77,86 per barel, sedangkan WTI melemah 15 sen ke US$ 73,37 per barel.
Pergerakan terbatas itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa jalur pasokan utama dari Timur Tengah masih rentan terganggu. Pelaku pasar menimbang risiko gangguan distribusi sekaligus peluang deeskalasi konflik yang dapat menahan lonjakan harga lebih jauh.
Selat Hormuz Masih Menjadi Titik Paling Sensitif
Fokus terbesar pasar saat ini adalah Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari 2026. Ketidakpastian soal kelancaran arus minyak melalui jalur itu membuat harga belum bisa menanjak agresif.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan pasar masih mengevaluasi situasi tersebut karena peluang deeskalasi konflik ikut menahan reli harga. Dalam keterangannya kepada Reuters, ia menilai ketidakpastian arus minyak melalui Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan.
Di saat yang sama, perusahaan asuransi perang dilaporkan menyarankan perusahaan pelayaran untuk menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz. Sejumlah perusahaan asuransi lain juga masih meninjau ketentuan polis setelah serangan terhadap kapal di kawasan itu kembali meningkat.
Pasar Menimbang Dua Skenario Besar
Goldman Sachs menilai risiko pasokan minyak dari kawasan Teluk masih bergerak ke dua arah. Jika negosiasi kembali berlanjut, sanksi atas ekspor minyak Iran dilonggarkan, dan keamanan pelayaran membaik, arus distribusi melalui Selat Hormuz diperkirakan kembali normal pada akhir Juli 2026.
Dalam skenario tersebut, volume pengiriman melalui Selat Hormuz diperkirakan naik sekitar 6,6 juta barel per hari. Sebaliknya, jika perundingan gagal, serangan terhadap kapal tanker meningkat, atau AS menerapkan blokade terhadap ekspor minyak Iran, gangguan pasokan bisa semakin besar.
Harga Minyak Masih Berada Di Sekitar Area Tinggi
| Acuan Harga | Pergerakan | Harga |
|---|---|---|
| Brent | Turun 16 sen atau 0,21% | US$ 77,86 per barel |
| WTI | Turun 15 sen atau 0,20% | US$ 73,37 per barel |
Penurunan tipis ini terjadi setelah harga acuan sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni 2026 pada sesi sebelumnya. Seusai penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026), Brent dan WTI juga sempat melonjak lebih dari US$ 1 per barel setelah militer AS melancarkan serangan ke Iran yang kemudian dibalas serangan terhadap Kuwait dan Bahrain.
Direktur Riset Makroekonomi WisdomTree, Aneeka Gupta, memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$ 75 hingga US$ 85 per barel dalam satu bulan ke depan dengan kecenderungan menguat terbatas. Pandangan itu sejalan dengan pasar yang masih menunggu kepastian arah konflik dan pasokan dari kawasan tersebut.
Di luar Timur Tengah, Rusia juga menambah tekanan pada pasokan global dengan melarang ekspor diesel mulai Rabu (8/7/2026). Kebijakan itu diambil untuk menjaga pasokan bahan bakar domestik setelah serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak memicu kelangkaan dan lonjakan harga.
Source: www.beritasatu.com






