Teheran menempatkan Selat Hormuz sebagai syarat utama sebelum pembahasan program nuklir dengan Amerika Serikat bergerak lebih jauh. Sikap itu membuat isu pelayaran strategis tersebut naik kelas dari sekadar persoalan maritim menjadi kartu tawar politik yang menentukan arah negosiasi.
Iran tidak ingin duduk membahas nuklir lebih dulu sebelum ada kesepakatan soal pencabutan blokade AS di jalur itu dan penghentian konflik di Iran serta Lebanon. Dengan pola seperti ini, Teheran menegaskan bahwa pembicaraan nuklir harus mengikuti penyelesaian isu keamanan regional, bukan menjadi pintu masuk awal.
Syarat yang diajukan Teheran
Sputnik yang mengutip Axios menyebut Iran hanya bersedia melanjutkan pembahasan program nuklir apabila dua pokok utama sudah disepakati. Dua hal tersebut adalah pencabutan blokade AS di Selat Hormuz dan penghentian perang di Iran serta Lebanon.
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyampaikan posisi itu dalam wawancara dengan RIA Novosti. Ia juga menegaskan bahwa Iran berulang kali menyatakan tidak mengembangkan senjata nuklir dan bahwa program nuklirnya bersifat damai.
Pernyataan itu selaras dengan doktrin keamanan dan fatwa pemimpin tertinggi yang selama ini dijadikan dasar sikap Iran. Karena itu, Teheran menempatkan perdebatan nuklir dalam kerangka politik dan keamanan yang lebih luas, bukan semata soal teknis atom.
Urutan perundingan yang diinginkan Iran
Media Iran sebelumnya juga melaporkan adanya rancangan penyelesaian damai Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel yang terdiri atas 14 poin. Dalam rencana itu, tercantum pembayaran ganti rugi kepada Iran dan pembentukan mekanisme baru untuk pelayaran di Selat Hormuz.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut ada tenggat satu bulan untuk perundingan awal. Selama periode itu, pembicaraan diarahkan untuk membuka kembali Selat Hormuz, mengakhiri blokade laut AS, dan menghentikan perang di Iran serta Lebanon.
Setelah poin-poin awal itu disepakati, akan ada tambahan satu bulan perundingan untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir. Skema tersebut menunjukkan bahwa Teheran mendorong negosiasi dua tahap dengan urutan yang ketat.
Konflik yang ikut membebani meja dialog
Situasi di lapangan membuat pembicaraan makin rumit. AS dan Israel disebut mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu, dan serangan itu menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Setelah itu, AS dan Iran menyatakan gencatan senjata pada 8 April. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad, Pakistan, tidak menghasilkan kesepakatan.
Sesudah pembicaraan itu gagal, AS memulai blokade terhadap pelabuhan Iran. Di saat yang sama, para mediator berupaya mengatur putaran baru perundingan damai, sehingga isu nuklir semakin terhubung dengan keamanan kawasan dan akses pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sebagai titik tekan
Bagi Iran, Selat Hormuz bukan hanya jalur dagang. Jalur laut itu juga dipandang sebagai bagian dari tekanan politik dan keamanan yang harus dibahas lebih dulu sebelum topik nuklir masuk ke meja negosiasi.
Dengan menautkan pembahasan nuklir pada persoalan Selat Hormuz, Iran mengirim sinyal bahwa kepastian di jalur pelayaran strategis menjadi prioritas. Teheran tampak ingin memastikan ada penyelesaian lebih dulu atas blokade dan konflik regional sebelum masuk ke perundingan yang lebih sensitif.
Pendekatan itu juga memperlihatkan bahwa Iran sedang membangun posisi tawar yang lebih luas. Selama isu blokade, konflik regional, dan mekanisme pelayaran belum disepakati, pembahasan nuklir tetap ditempatkan di tahap berikutnya.
