Selat Hormuz Hampir Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok di Tengah Balas Serang AS-Iran

Selat Hormuz kembali menjadi titik paling rawan setelah serangan udara Amerika Serikat dan Iran saling berbalas selama dua malam berturut-turut. Dampaknya langsung terasa pada jalur pelayaran internasional, ketika jumlah kapal yang melintas turun drastis hingga tinggal satuan.

Phil Belcher, Direktur Kelautan Intertanko, mengatakan lalu lintas kapal harian di jalur selatan Selat Hormuz merosot tajam. Dari sekitar 130 kapal per hari sebelum perang, angkanya turun menjadi 70 kapal pada pekan lalu, lalu kini tinggal kurang dari 10 kapal.

Penurunan itu menunjukkan betapa cepat konflik militer menekan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi rute penting bagi pengangkutan minyak dan perdagangan internasional.

Serangan Saling Balas Meningkat

Komando Pusat AS atau Centcom menyebut telah menghantam 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur logistik di sepanjang garis pantai. Serangan itu diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal komersial.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. IRGC menyebut aksi itu sebagai fase pertama pembalasan atas rangkaian serangan yang terus meningkat.

Korban dan Kerusakan di Iran

Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 14 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka akibat serangan AS yang menyasar lima provinsi selama dua hari terakhir. Serangan itu juga disebut merusak jembatan, jalur kereta api menuju Kota Mashhad, serta memicu kebakaran di barak IRGC di Bushehr, dekat pembangkit listrik tenaga nuklir.

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan tersebut sebagai kejahatan perang yang serius. Di tengah situasi itu, jutaan warga Iran juga memadati jalanan Kota Mashhad untuk menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari lalu akibat serangan AS dan Israel.

Kesepakatan Damai yang Runtuh

Konflik terbaru ini sekaligus menghancurkan gencatan senjata dalam bentuk Nota Kesepahaman 14 poin yang baru ditandatangani kedua negara pada 17 Juni lalu. Presiden AS Donald Trump menegaskan perjanjian damai itu kini berakhir karena menilai negosiasi lanjutan hanya membuang waktu.

“Saya baru saja tidak tahu apakah mereka layak untuk diajak membuat kesepakatan, saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu, itulah masalahnya,” ujar Trump.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberi jawaban singkat melalui platform X. “Kami tidak membalas kekasaran dengan kekasaran, tetapi dengan tindakan: tanpa rasa takut dan dengan keberanian yang besar,” tulisnya.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan AS bahwa tindakan intimidasi tidak akan lagi bebas dari konsekuensi. Ia menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka di bawah kendali Iran, bukan berdasarkan ancaman dari Amerika.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait