Selat Hormuz menjadi pusat eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan berlangsung hingga malam keenam berturut-turut. Jalur perairan strategis itu dilaporkan diblokade Teheran saat kedua negara mempertahankan tekanan militer dan diplomatik.
Komando Pusat AS atau Centcom menyatakan gelombang serangan terbarunya ditujukan untuk memperlemah kemampuan militer Iran lebih lanjut. Washington juga memperingatkan Teheran agar kembali ke meja perundingan atau menghadapi tindakan militer lanjutan.
Di tengah ancaman tersebut, Gedung Putih menyebut Presiden Donald Trump masih membuka peluang diplomasi. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan komunikasi dengan Iran tetap berlangsung meski operasi militer berlanjut.
Leavitt menegaskan Trump akan meminta pertanggungjawaban Iran bila mengingkari janji kepada AS. Namun, ia menyatakan presiden tetap terbuka untuk diplomasi, sementara Iran disebut masih ingin mencapai kesepakatan dengan Washington.
Selat Hormuz Menjadi Titik Utama Perselisihan
Posisi Selat Hormuz kini melampaui fungsi sebagai lokasi operasi militer. Wilayah itu juga menjadi bagian dari tuntutan keamanan yang disampaikan Iran dalam perundingan dengan AS.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Teheran tidak melihat alasan untuk mematuhi perjanjian yang dianggap tidak menguntungkan negaranya. Ia menyatakan keamanan nasional Iran bergantung pada pemeliharaan wilayah yang disebutnya sebagai “pengaturan Iran” di Selat Hormuz.
Mediaindonesia.com melaporkan baku tembak sepanjang malam turut memperkeruh kesepakatan awal antara kedua pihak. Kondisi itu membuat perebutan pengaruh di Selat Hormuz semakin menentukan arah eskalasi konflik.
| Pihak | Tindakan atau Pernyataan | Lokasi/Keterangan |
|---|---|---|
| AS | Melancarkan gelombang serangan selama enam jam | Sejumlah lokasi di Selat Hormuz |
| Media pemerintah Iran | Melaporkan serangan rudal AS | Dekat Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Bushehr |
| Iran | Mengklaim menyerang pangkalan militer AS | Yordania, Kuwait, dan Bahrain |
Laporan Serangan dan Klaim Balasan
Media pemerintah Iran melaporkan rudal AS menghantam area di dekat Pulau Qeshm di Teluk. Lokasi itu berada dekat Selat Hormuz, kawasan yang kini menjadi pusat perselisihan Washington dan Teheran.
Laporan yang sama menyebut Bandar Abbas serta Bushehr sebagai wilayah yang terkena serangan. Bushehr dikenal sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
AS menyatakan telah melaksanakan serangan selama enam jam di sejumlah titik di Selat Hormuz. Sementara itu, Teheran mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Berbagai klaim tersebut muncul saat operasi militer memasuki malam keenam. Perbedaan narasi dari kedua pihak menambah ketidakpastian mengenai perkembangan situasi di lapangan.
Kabar Tahanan Memperlihatkan Rapuhnya Komunikasi
Ketidakpastian juga terlihat dalam informasi mengenai Dena Karari, tahanan AS yang menurut Trump ditahan secara sewenang-wenang sejak Desember 2024. Pada Rabu, Trump melalui Truth Social memuji Iran atas kabar pembebasan Karari.
“Amerika Serikat menghargai isyarat niat baik dari Iran ini!” tulis Trump. Pengacara Karari, Jared Genser, juga mengonfirmasi kliennya sedang dalam perjalanan pulang ke AS.
Namun, pihak yudisial Iran membantah kabar pembebasan itu pada Kamis. Mereka menegaskan tidak ada tahanan AS yang dibebaskan atau ditukar dari penjara Iran.
Perbedaan pernyataan terkait tahanan menunjukkan komunikasi kedua pihak masih rapuh di tengah konflik bersenjata. Prospek perundingan tetap dibayangi sengketa atas Selat Hormuz serta tuntutan keamanan masing-masing negara.
Source: mediaindonesia.com






