Tiga Ledakan di Bandar Abbas, Jalur Tanker Selat Hormuz Kian Tertekan

Tiga ledakan keras mengguncang kawasan barat Bandar Abbas pada Kamis malam saat serangan udara Amerika Serikat kembali diarahkan ke Iran. Peristiwa ini menempatkan kota pelabuhan di tepian Selat Hormuz tersebut sebagai salah satu titik paling sensitif dalam konflik yang telah berlangsung enam hari.

Tekanan tidak hanya terasa di daratan, tetapi juga di jalur pelayaran yang dilalui kapal-kapal tanker. Lalu lintas tanker di Selat Hormuz dilaporkan turun ke tingkat terendah dalam 24 jam terakhir ketika aktivitas pelabuhan utama Iran ikut terdampak.

Gangguan Meluas dari Udara hingga Laut

Bandar Abbas memiliki posisi strategis karena berada dekat jalur maritim Selat Hormuz. Setiap gangguan di kota ini segera memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelabuhan Iran serta pergerakan kapal niaga dan tanker di kawasan tersebut.

Angkatan laut Amerika Serikat dilaporkan menerapkan blokade total yang membatasi pergerakan kapal di pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Kebijakan itu disebut mengunci aktivitas maritim di sejumlah titik penting, di tengah meningkatnya operasi militer terhadap Teheran.

Lokasi atau PihakPeristiwaRincian
Bandar AbbasTiga ledakanTerjadi di kawasan barat kota pada Kamis malam
CENTCOMSerangan udaraDimulai pukul 21.30 waktu setempat
KuwaitPencegatan drone32 drone dilaporkan ditembak jatuh sejak subuh
Selat HormuzLalu lintas tankerMenurun ke level terendah dalam 24 jam

Gedung Putih menepis kekhawatiran bahwa konflik di jalur maritim itu akan segera memicu lonjakan harga bahan bakar global. Juru Bicara Kepresidenan AS Karoline Leavitt menyebut gejolak ekonomi yang muncul sebagai gangguan sementara di pasar minyak.

Operasi Udara Dimulai Malam Hari

Pusat Komando AS atau CENTCOM menyatakan bombardir oleh jet tempur dimulai pada pukul 21.30 waktu setempat. Pentagon menegaskan operasi tersebut ditujukan untuk terus menurunkan kemampuan militer Iran.

Gelombang terbaru ini merupakan kelanjutan dari operasi udara masif Amerika Serikat terhadap wilayah Iran. Sasaran serangan yang pada tahap awal banyak terkonsentrasi di pesisir selatan kemudian meluas ke sejumlah titik vital di pedalaman.

Suara.com melaporkan bahwa Bandar Abbas termasuk lokasi yang terdampak dalam operasi terbaru tersebut. Ledakan di bagian barat kota terjadi ketika tekanan militer terhadap Teheran meningkat dari udara dan laut.

Balasan Drone Menjangkau Kuwait

Di tengah serangan Amerika Serikat, Teheran melancarkan aksi balasan dengan mengirim pesawat tanpa awak ke sejumlah negara tetangga. Perkembangan ini memperluas risiko konflik melampaui wilayah Iran dan perairan di sekitarnya.

Kementerian Pertahanan Kuwait, sebagaimana dikutip CNN Internasional, melaporkan sistem pertahanan udaranya telah menjatuhkan 32 drone sejak subuh. Material drone yang jatuh dilaporkan merusak area permukiman, namun otoritas Kuwait memastikan tidak ada korban jiwa.

Pencegatan itu menunjukkan bahwa dampak konflik tidak lagi hanya berpusat pada lokasi sasaran udara di Iran. Negara-negara di sekitar kawasan kini menghadapi risiko langsung dari operasi militer maupun tindakan balasan.

Protes Teheran dan Ancaman Baru Washington

Kementerian Luar Negeri Iran melayangkan protes keras kepada Washington atas serangan yang disebut menghancurkan fasilitas publik. Teheran menuduh Amerika Serikat melakukan kejahatan perang dalam rangkaian operasi militernya.

Pemerintah Iran juga membenarkan serangan terhadap kapal dagang komersial dan negara-negara Arab sebagai bentuk pembelaan diri. Sikap tersebut muncul ketika tekanan terhadap Iran terus bertambah melalui serangan udara dan pembatasan aktivitas laut.

Presiden AS Donald Trump kemudian memperbarui ancaman untuk meratakan jembatan serta pembangkit listrik utama di Iran. Iran menegaskan intervensi bersenjata Amerika Serikat di Selat Hormuz merupakan garis merah yang tidak dapat dilanggar.

Source: www.suara.com
Berita Terkait