Isu Taiwan kembali ditempatkan di garis paling depan dalam pembicaraan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump. Beijing menilai cara Washington menangani persoalan itu akan sangat menentukan apakah hubungan Amerika Serikat dan China tetap stabil atau justru masuk ke fase ketegangan baru.
Sinyal tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Kamis. Ia mengatakan kedua pemimpin sudah menyepakati visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis.
Taiwan jadi penentu arah hubungan
Bagi Beijing, stabilitas strategis berarti hubungan yang positif dan menempatkan kerja sama sebagai arus utama. Dalam kerangka itu, Taiwan tidak dipandang sebagai isu sampingan, melainkan sebagai faktor yang bisa mengubah arah keseluruhan relasi bilateral.
Guo menegaskan bahwa jika isu Taiwan dikelola dengan baik, hubungan kedua negara dapat tetap stabil. Sebaliknya, bila penanganannya keliru, gesekan bahkan konflik bisa muncul dan merusak hubungan secara luas.
Sikap Beijing juga disampaikan dengan bahasa yang keras. Guo menyebut “kemerdekaan Taiwan” dan perdamaian di Selat Taiwan sama tak bisa dipadukan seperti api dan air.
Pesan dari pertemuan Xi dan Trump
Pertemuan Xi dan Trump digelar di Balai Besar Rakyat dan dimulai dengan upacara kenegaraan sejak pukul 10.00 waktu setempat. Setelah itu, keduanya melanjutkan pertemuan bilateral selama sekitar dua jam 15 menit.
Agenda kunjungan berlanjut ke Kuil Langit di Beijing dan jamuan makan malam kenegaraan. Meski rangkaian acara berlangsung terbuka, Beijing maupun Washington tidak mengungkap rinci isi pembahasan di ruang pertemuan.
Yang terlihat justru penekanan bersama pada pentingnya hubungan yang bersahabat dan stabil. Keduanya juga memberi sinyal bahwa rivalitas tidak harus menjadi satu-satunya corak hubungan China dan AS.
Dampak yang dibawa untuk tiga tahun ke depan
Guo mengatakan pertemuan itu akan menjadi panduan strategis bagi hubungan kedua negara untuk tiga tahun ke depan dan seterusnya. China, menurut dia, siap menerjemahkan visi tersebut ke dalam langkah nyata agar relasi bilateral berjalan stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Pernyataan itu memperlihatkan kehati-hatian Beijing dalam menjaga jalur komunikasi tetap terbuka. Di mata China, keberhasilan mengelola isu Taiwan bisa menjadi pembeda antara hubungan yang terkendali dan hubungan yang kembali memasuki fase gesekan.
Kehadiran Trump bersama 17 pimpinan perusahaan besar asal AS dalam kunjungannya ke China juga menunjukkan bahwa faktor ekonomi tetap mendapat tempat penting. Rombongan bisnis itu menandakan hubungan dagang masih dipandang sebagai penopang di tengah perbedaan politik yang tajam.
Isu lain ikut dibicarakan
Selain Taiwan, Xi dan Trump juga membahas sejumlah isu internasional lain. Topik yang ikut masuk pembahasan antara lain situasi di Timur Tengah, Iran, dan perdagangan daging sapi AS.
Guo menyebut Xi meminta kedua negara memperluas pertukaran dan kerja sama di berbagai bidang. Sektor ekonomi, perdagangan, dan pertanian disebut sebagai area yang bisa diperkuat untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.
Dengan demikian, Taiwan tetap berada di pusat kalkulasi Beijing saat membaca hubungan dengan Washington. Di saat yang sama, China juga berupaya mempertahankan ruang dialog melalui agenda ekonomi dan isu global lain agar stabilitas di Selat Taiwan tetap menjadi titik temu yang dijaga kedua negara.
