Takur, Burung Hijau Yang Menyebarkan Biji Dan Menopang Regenerasi Hutan Indonesia

Takur sering disebut sebagai penjaga diam-diam hutan karena perannya yang langsung berkaitan dengan regenerasi alam. Burung ini memakan buah ara, buah tin, dan berbagai buah lain, lalu membantu menyebarkan bijinya ke wilayah lain sehingga pertumbuhan hutan tetap berlangsung secara alami.

Selain itu, takur juga meninggalkan jejak manfaat lain yang kerap tidak terlihat. Lubang sarang yang sudah tidak dipakai sering dimanfaatkan hewan lain untuk bersarang atau sekadar berlindung, sehingga keberadaan burung ini ikut mendukung kehidupan satwa penghuni hutan lainnya.

Di tengah lebatnya tajuk pohon, takur lebih sering terdengar daripada terlihat. Suaranya yang lantang menjadi penanda kehadiran mereka di hutan Asia Tenggara, sementara warna hijau pada tubuhnya membuat burung ini mudah menyatu dengan dedaunan.

Ciri tubuh takur cukup khas dan mudah dikenali bila diamati dekat. Ukurannya sedang, tubuhnya gempal, kepalanya besar, dan paruhnya tebal, sedangkan sebagian jenis memiliki corak warna-warni di bagian kepala.

Warna hijau pada hampir semua jenis takur bukan sekadar tampilan. Warna itu membantu mereka berkamuflase di berbagai habitat, terutama di area dengan tajuk rapat yang menjadi tempat utama mereka bergerak dan bertengger.

Sebaran takur juga cukup luas di kawasan hutan yang masih memiliki kanopi rapat. Mereka bisa hidup di hutan primer, hutan sekunder, hutan gugur, dataran rendah, hingga lereng gunung selama kondisi tajuk pohonnya mendukung.

Secara taksonomi, takur terdiri dari 35 jenis yang terbagi dalam dua genus, yaitu Psilopogon dan Calorhamphus. Di antara kelompok itu, ada takur ampis kalimantan dan takur ampis melayu yang tampil berbeda karena berwarna cokelat kusam dan hidup berkoloni.

Beberapa jenis takur punya penampilan dan suara yang sangat menonjol. Takur api dari Semenanjung Melayu dan Sumatra memiliki tubuh besar dengan sejumput rambut merah di atas kepala yang tampak seperti api, sedangkan takur ungkut-ungkut tersebar paling luas dari India sampai Indonesia dengan suara mirip dentuman logam “tuk-tuk-tuk”.

Kebiasaan bertengger takur juga didukung bentuk kaki yang mirip burung pelatuk. Susunan zigodaktil, dengan dua jari menghadap ke depan dan dua jari ke belakang, membuatnya stabil saat berada di cabang atau batang pohon vertikal.

Pada bagian pangkal paruh, takur memiliki bulu kaku atau rictal bristles yang tampak seperti kumis. The Linnean Society menyebut bulu itu membantu menangkap mangsa, melindungi mata, dan memberi isyarat sensorik ketika burung bergerak di hutan lebat.

Untuk berkembang biak, takur tidak membangun sarang dari ranting atau daun. Mereka menggali rongga sendiri di kayu mati yang lunak, baik di cabang maupun tunggul pohon, sehingga keberadaan pohon mati tetap penting bagi siklus hidupnya.

Kebutuhan itu membuat habitat takur sangat bergantung pada kondisi hutan yang masih terjaga. Tanpa kayu mati yang sesuai, keberhasilan berkembang biak mereka dapat terganggu.

Meski sejumlah jenisnya sudah dilindungi, takur tetap menghadapi tekanan serius. Perlindungan itu tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Beberapa jenis yang disebut dilindungi antara lain takur ampis, takur api, takur tohtor, takur tulung-tumpuk, takur warna-warni, takur bultok, dan takur tutut. Namun, perdagangan jenis-jenis itu masih terjadi dan dilarang keras.

Ancaman lain datang dari menyusutnya hutan dataran rendah dan pegunungan. Pada takur api, penebangan hutan di lereng dengan wilayah sebaran terbatas juga dapat memecah populasi secara parah, sehingga keberadaan hutan yang utuh menjadi semakin penting.

Source: www.idntimes.com
Berita Terkait