Pembangunan tanggul laut di Pantai Utara Jawa kini dipandang sebagai langkah yang makin serius dalam melindungi wilayah pesisir dari tekanan rob dan kerusakan lingkungan. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menilai proyek ini juga punya kaitan langsung dengan kebutuhan air bersih warga di kawasan pantura.
Di Jawa Tengah, arah penanganan pesisir mulai terlihat lebih konkret karena proyek giant sea wall tidak hanya dibaca sebagai pelindung daratan. Kehadiran kolam retensi dalam skema tersebut ikut dikaitkan dengan upaya memenuhi air bersih bagi masyarakat pantai utara yang selama ini menghadapi tekanan berlapis.
Fokus awal diarahkan ke wilayah prioritas
Taj Yasin menyampaikan kepastian itu setelah mengikuti Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di Jakarta. Dari pertemuan tersebut, ia menilai tahapan pembangunan tanggul laut di kawasan Pantura Jawa sudah mulai berjalan.
Ia meminta para bupati dan wali kota segera turun ke lapangan untuk berkoordinasi dengan masyarakat. Menurut dia, langkah itu penting agar rencana pembangunan giant sea wall sejak awal dipahami dengan jelas, terutama di wilayah prioritas Jawa Tengah.
Kajian untuk Jawa Tengah disebut sudah selesai, sementara Badan Otorita Pantura Jawa telah berkomunikasi dengan pemerintah daerah sejak tujuh bulan lalu. Dalam tahap awal, wilayah prioritas di Jawa Tengah meliputi Kabupaten Demak, Kota Semarang, dan Kabupaten Kendal.
Rob, air bersih, dan perlindungan pesisir
Taj Yasin menegaskan proyek ini tidak berdiri hanya untuk menahan rob. Ia mengaitkannya juga dengan kebutuhan air bersih di pantura Jawa Tengah melalui keberadaan kolam retensi.
Pandangan itu membuat proyek tanggul laut diposisikan sebagai perlindungan yang lebih nyata bagi kawasan pesisir dari Banten hingga Jawa Timur. Pemerintah daerah juga diminta ikut terlibat karena penanganannya menyangkut wilayah yang luas dan tidak bisa dikerjakan secara terpisah.
Di sisi lain, kawasan pantura Jawa Tengah memang menanggung banyak persoalan lama. Rob, abrasi, penurunan muka tanah, kerusakan ekosistem pesisir, dan pencemaran masih menjadi tekanan besar bagi wilayah yang menjadi pusat aktivitas ekonomi ini.
Penanganan dibagi per segmen
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Jawa Didit Herdiawan menjelaskan bahwa penanganan Pantura Jawa akan dibagi berdasarkan segmentasi wilayah. Untuk Jawa Tengah, salah satu contoh segmentasi yang disiapkan adalah Kendal-Semarang.
Didit menambahkan, Teluk Jakarta dan Kendal-Semarang sudah menjalani sejumlah kajian teknis. Kajian itu meliputi soil investigation, batimetri, dan pendalaman model penanganan lapangan.
Ia menegaskan pelaksanaan kegiatan harus dilakukan bersama pemerintah daerah setempat. Menurut dia, perlindungan pesisir tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan lintas pemerintah.
Pantura Jateng jadi kawasan yang paling rentan
Jawa Tengah memiliki garis pantai sepanjang 1.127,85 kilometer. Dari jumlah itu, 651,47 kilometer berada di kawasan pantura dan menjadi ruang utama aktivitas ekonomi sekaligus wilayah yang rentan terhadap bencana pesisir.
Kondisi itu membuat kebutuhan penanganan menjadi mendesak, terutama karena tekanan lingkungan di sepanjang pantai utara terus berlangsung. Dalam kegiatan tersebut, hadir pula kepala daerah dari Kota Semarang, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Demak, Kendal, Pemalang, Pekalongan, Rembang, dan Jepara.
