Target Panen Padi Jateng 44,48 Persen Tercapai, Kemarau Panjang Masih Jadi Ancaman

Author: Redaksi Android62

Jawa Tengah sudah mencatat produksi padi sebesar 4.696.422 ton hingga Januari-April 2026. Angka itu setara dengan 44,48 persen dari target tahunan 10,5 juta ton, sehingga ruang untuk mengejar sasaran masih terbuka lebar.

Capaian tersebut menandakan panen di wilayah ini masih bergerak kuat. Meski begitu, pemerintah provinsi memilih tidak bersikap lengah karena ancaman kemarau panjang dinilai bisa mengganggu laju produksi saat musim panen mencapai puncaknya.

Gubernur Ahmad Luthfi menekankan bahwa perhatian utama bukan hanya pada besarnya angka produksi. Yang lebih penting saat ini adalah menjaga agar hasil panen tidak turun ketika cuaca mulai mengering.

Ia meminta pemantauan lapangan dan pemetaan risiko terus dilakukan. Langkah itu diarahkan untuk mengantisipasi prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menunjukkan potensi kemarau panjang.

Target masih bergerak

Data Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan capaian produksi tersebut sesuai dengan data resmi Badan Pusat Statistik. Kepala dinas, Defransisco Dasilva Tavares, menyebut angka itu menggambarkan kondisi riil di lapangan dan masih terus bertambah seiring panen yang sedang berlangsung.

Hasil produksi yang tercatat sampai saat ini berasal dari panen musim tanam yang dimulai sejak September 2025. Pemerintah provinsi memperkirakan puncak panen terjadi pada Mei 2026, sementara target tahunan dinilai bisa tercapai lebih cepat, yakni pada September 2026.

Untuk menjaga momentum itu, percepatan tanam lanjutan menjadi fokus berikutnya. Setelah musim tanam pertama selesai, distribusi benih kepada petani didorong agar siklus tanam tidak tersendat.

“Setelah musim tanam pertama selesai, langsung kita percepat tanam berikutnya. Saat ini fokus kami adalah dropping benih,” kata Frans dalam rapat koordinasi Pengendalian Operasional Kegiatan Triwulan I 2026, Senin (4/5/2026).

Kekeringan jadi perhatian utama

Di tengah kabar baik soal produksi, pemerintah provinsi tetap menempatkan cuaca sebagai variabel paling sensitif. Luthfi menilai risiko musim kering yang lebih panjang dari biasanya harus diantisipasi sejak dini agar hasil panen tidak tergerus.

“Masalahnya adalah cuaca yang harus kita pikirkan ulang. Lakukan terus pemantauan dan pemetaan,” tegas Luthfi.

Pemerintah provinsi juga diminta memastikan kesiapan sektor pertanian menghadapi musim kering. Perhatian diarahkan pada ketersediaan air baku serta infrastruktur irigasi supaya produktivitas tetap terjaga ketika curah hujan menurun.

Embung dan irigasi diperiksa

Untuk mengurangi dampak kekeringan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memeriksa embung dan jaringan irigasi. Langkah ini ditempuh karena gangguan air dapat memukul hasil panen sekaligus memengaruhi ketahanan pangan daerah.

Luthfi mengingatkan bahwa dampak kekeringan tidak berhenti pada persoalan air baku. Menurut dia, kondisi tersebut juga berkaitan langsung dengan swasembada pangan dan sumber air pertanian yang menjadi tumpuan produksi.

“Itu harus jadi prioritas,” ujarnya, merujuk pada pentingnya menjaga air baku, irigasi, dan kelancaran pertanian saat musim kering datang.

Dengan panen yang masih berlangsung dan puncak produksi belum lewat, Jawa Tengah kini bergerak pada dua arah sekaligus. Pemerintah provinsi berupaya menjaga percepatan tanam di satu sisi, sambil mengamankan pasokan air di sisi lain agar capaian 4,6 juta ton tidak tergerus cuaca ekstrem.

Source: jatengpos.co.id
Berita Terbaru