60 Negara Dibayangi Tarif Baru AS, China, India, dan Jepang Terancam Bea 12,5%

Author: Redaksi Android62

Amerika Serikat bersiap menerapkan susunan tarif baru yang dapat menjangkau hingga 60 negara, dengan China, India, dan Jepang masuk kelompok ekonomi yang berpotensi dikenai bea 12,5%. Kebijakan ini muncul menjelang berakhirnya tarif global sementara sebesar 10% pada pekan ini.

Skema tersebut menandai penggunaan kembali tarif sebagai instrumen tekanan Washington terhadap mitra dagangnya. Risiko aksi balasan pun meningkat karena sejumlah negara dapat menghadapi bea masuk yang lebih tinggi dalam waktu berdekatan.

Tarif Dibedakan Berdasarkan Penanganan Kerja Paksa

Pemerintah AS mengaitkan kebijakan baru itu dengan isu pencegahan perdagangan barang hasil kerja paksa. Utusan Perdagangan AS Jamieson Greer mengatakan Washington menilai banyak negara belum memiliki aturan maupun penegakan yang memadai dalam persoalan tersebut.

Menurut Greer, AS telah memiliki undang-undang yang melarang perdagangan barang dengan kerja paksa. Ia menilai sebagian besar negara lain belum memiliki ketentuan serupa, sedangkan sebagian yang telah memilikinya belum menegakkannya secara efektif.

Greer memberi sinyal tindakan perdagangan baru dapat diumumkan dalam waktu dekat. “Kami memperkirakan akan melihat beberapa tindakan segera,” ujar Greer, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia dari Channel News Asia.

Kelompok Mitra Dagang Tarif Direncanakan Contoh Negara
Dinilai telah menangani isu kerja paksa 10% Kanada, Uni Eropa, Meksiko, Taiwan, Inggris
Lebih dari 40 ekonomi utama lainnya 12,5% China, India, Jepang

Analis memperkirakan tarif berbasis isu kerja paksa akan berada pada kisaran 10% hingga 12,5%. Skema itu diproyeksikan menggantikan tarif global sementara 10% yang akan kedaluwarsa pada hari Jumat.

Greer juga menyatakan tindakan baru tersebut akan mencakup mayoritas porsi perdagangan AS dengan negara luar. Dengan cakupan luas itu, perubahan Tarif AS berpotensi memengaruhi hubungan dagang Washington dengan banyak ekonomi besar.

Uni Eropa Menolak Dasar Kebijakan

Uni Eropa sebelumnya menolak alasan pengenaan tarif yang didasarkan pada isu kerja paksa. Blok tersebut menilai dasar kebijakan itu tidak dapat dibenarkan.

Penolakan itu memperlihatkan bahwa tarif baru berpotensi memperlebar perbedaan pandangan antara AS dan mitra dagangnya. Ketegangan perdagangan internasional dapat kembali meningkat bila negara-negara terdampak memilih menyiapkan langkah balasan.

Kanada Menghadapi Tekanan Terpisah

Di luar skema umum, Washington telah mengumumkan tarif 50% terhadap komoditas Kanada yang direncanakan berlaku dalam 30 hari. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan pemerintahnya sedang mempertimbangkan seluruh pilihan untuk merespons tekanan tersebut.

Carney menyebut Kanada dan AS sepakat meningkatkan intensitas perundingan dalam beberapa pekan mendatang. Namun, pembicaraan kedua negara disebut berjalan lebih lambat dibandingkan negosiasi AS dengan Meksiko.

Tekanan terhadap Kanada terjadi ketika AS dan Meksiko meningkatkan pembahasan peninjauan USMCA. Washington disebut tidak ingin memperpanjang pakta perdagangan bebas Amerika Utara itu dalam bentuknya saat ini.

Utusan Perdagangan AS dijadwalkan mengunjungi Meksiko dari Rabu hingga Jumat untuk berdiskusi. Pengacara perdagangan Dorsey & Whitney, Dave Townsend, menilai penggunaan Pasal 338 Undang-Undang Tarif Tahun 1930 dapat memperkuat posisi tawar AS dalam renegosiasi tersebut.

Townsend menilai langkah itu dapat digunakan untuk mendorong kesepakatan, membalas kegagalan mencapai kesepakatan, atau keduanya. Ia juga mengingatkan bahwa penalti tarif tidak akan memberi pengecualian bagi produk Kanada yang sebenarnya tercakup dalam USMCA.

Brasil Turut Terancam

Brasil juga menghadapi rencana tarif 25% dari AS atas tuduhan praktik perdagangan tidak adil yang dijadwalkan berlaku pada hari Rabu. Kebijakan tersebut diproyeksikan menjadi isu politik menjelang pemilihan presiden Brasil dalam beberapa bulan mendatang.

Beberapa komoditas mendapat pengecualian, termasuk daging sapi, kopi, suku cadang pesawat tertentu, serta barang yang tidak diproduksi di AS. Meski demikian, Kamar Dagang Amerika untuk Brasil memperingatkan ekspor bernilai lebih dari US$ 11 miliar tetap terancam.

Kamar dagang itu menilai Brasil dapat menjadi salah satu negara dengan akses paling restriktif ke pasar AS. Rangkaian kebijakan terhadap Kanada, Brasil, dan puluhan negara lain menunjukkan isu Kerja Paksa kini menjadi salah satu dasar baru dalam tekanan dagang Washington.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru