Tekanan Jual Bitcoin Makin Tebal, 3 Sinyal On-Chain Ini Mulai Mengarah ke Kapitulasi

Author: Redaksi Android62

Tekanan di pasar Bitcoin belum mereda. Tiga indikator on-chain yang kerap dijadikan acuan kini sama-sama menunjukkan kondisi yang identik dengan fase pasar yang mulai kehabisan tenaga, dari arus keluar ETF hingga rasio pasokan yang bergeser ke wilayah negatif.

Di tengah pelemahan harga yang sudah lebih dari 20 persen dalam sebulan terakhir, pembacaan data ini memberi pesan yang tidak ringan. Pasar masih berada dalam tekanan, tetapi sejumlah pola yang muncul juga sering terlihat saat investor mulai mendekati fase kapitulasi.

Pasokan yang rugi kini lebih besar daripada yang untung

Glassnode mencatat sekitar 10,83 juta BTC berada dalam posisi rugi, sementara BTC yang masih berada dalam posisi untung hanya sekitar 9,22 juta. Untuk pertama kalinya dalam siklus ini, jumlah pasokan yang merugi melampaui pasokan yang masih menghasilkan keuntungan.

Perubahan ini penting karena pasar biasanya menjadi lebih rapuh ketika lebih banyak pemegang aset berada di bawah harga beli. Dalam kondisi seperti itu, sentimen negatif cenderung lebih mudah memicu aksi jual lanjutan.

Net UTXO Supply Ratio kembali masuk wilayah negatif

Analis on-chain Darkfost menyoroti Net UTXO Supply Ratio yang telah bergerak ke wilayah negatif selama sekitar satu minggu dan kini berada di level -0,075. Menurut Darkfost, pola serupa terakhir kali terlihat pada akhir 2022, tepat menjelang berakhirnya bear market sebelumnya.

Net UTXO Supply Ratio mengukur keseimbangan Bitcoin yang berada dalam kondisi untung dan rugi berdasarkan harga saat terakhir berpindah tangan. Ketika rasio ini turun ke wilayah negatif, artinya jumlah BTC yang sedang merugi lebih dominan dibandingkan yang masih menguntungkan.

Outflow ETF masih menekan minat investor

Data dari Santiment menunjukkan exchange-traded fund atau ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih sekitar US$8,475 miliar sejak 6 Mei 2026. Besarnya outflow ini mengindikasikan sebagian investor institusional maupun ritel memilih mengurangi eksposur ke Bitcoin di tengah ketidakpastian pasar.

Meski begitu, Santiment menilai arus keluar yang berlangsung lama tidak selalu berarti sinyal buruk semata. Dalam banyak siklus sebelumnya, kondisi serupa justru muncul saat rasa frustrasi dan kepanikan investor yang lemah mulai memuncak, sehingga tekanan jual mendekati titik jenuh.

Kapitulasi sering menjadi fase yang menentukan

Dalam pasar aset digital, kapitulasi terjadi ketika sebagian besar pelaku pasar menyerah setelah tekanan berkepanjangan. Fase ini biasanya ditandai oleh volume jual yang tinggi, sentimen yang sangat negatif, dan dominasi narasi pesimistis.

Walau terdengar buruk, fase seperti ini kerap dianggap penting dalam pembentukan dasar harga. Setelah investor dengan keyakinan lemah keluar, tekanan jual biasanya mulai berkurang dan ruang pemulihan menjadi lebih terbuka.

Risiko koreksi masih perlu dipantau

Meski sederet indikator mulai memperlihatkan kelelahan penjual, risiko penurunan belum sepenuhnya hilang. Salah satu faktor yang masih dicermati analis adalah Coinbase Premium yang sempat bergerak negatif dalam beberapa bulan terakhir.

Secara historis, kondisi serupa pernah terjadi pada Januari ketika harga Bitcoin masih sekitar US$95.000, lalu beberapa minggu kemudian terkoreksi lebih dari 30 persen. Saat ini, periode Coinbase Premium negatif berlangsung lebih lama dibandingkan sebelumnya, sehingga pasar masih menyimpan risiko lanjutan.

Pada tahap ini, kombinasi outflow ETF yang besar, pasokan Bitcoin yang makin banyak berada di zona rugi, dan Net UTXO Supply Ratio yang kembali negatif memberi gambaran bahwa pasar sedang berada di bawah tekanan berat. Namun, pola seperti ini juga kerap muncul saat pasar mulai mendekati titik balik, sehingga perkembangan berikutnya tetap layak dicermati dengan hati-hati.

Perlu diingat, seluruh aktivitas jual beli crypto memiliki risiko dan volatilitas tinggi karena harga yang sangat fluktuatif. Riset mandiri dan penggunaan dana dingin tetap menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan investasi.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru