Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ketua The Federal Reserve Jerome Powell kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Di Indonesia, isu ini ikut menambah tekanan pada rupiah dan IHSG karena arah kebijakan bank sentral AS dinilai sangat menentukan selera risiko investor global.
Pasar membaca ancaman terhadap Powell bukan sekadar drama politik di Washington. Independensi The Fed selama ini dianggap penting bagi kepercayaan pasar, sehingga setiap sinyal yang mengganggu posisi lembaga itu dapat memperbesar ketidakpastian terhadap suku bunga, arus modal, dan pergerakan aset di negara berkembang.
Rupiah bergerak dalam tekanan volatilitas
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai dampak utama dari tensi Trump-Powell bukan hanya pelemahan atau penguatan rupiah, melainkan naiknya volatilitas. Saat ini rupiah masih berada di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.150 per dollar AS, sehingga pasar sangat peka terhadap pernyataan atau perkembangan baru dari Amerika Serikat.
Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung menahan transaksi besar dan menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed. Pola tersebut membuat rentang pergerakan harian rupiah lebih lebar dan mendorong biaya lindung nilai naik, terutama bagi korporasi yang memiliki kewajiban valas.
IHSG ikut merespons sentimen global
Tekanan eksternal tidak berhenti pada pasar mata uang. Pasar saham domestik juga berada dalam posisi yang rentan karena investor global biasanya bersikap lebih defensif saat risiko kebijakan meningkat.
Pada perdagangan Kamis (16/4/2026), IHSG berada di level 7.596 dan terkoreksi 0,36 persen dari hari sebelumnya. Jika dihitung sejak awal tahun, pelemahan indeks sudah melewati 12,36 persen, menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih sensitif terhadap gejolak dari luar negeri.
Arus dana asing masih cenderung keluar
Salah satu tanda paling jelas dari sikap hati-hati investor terlihat pada arus dana asing. Sepanjang kuartal I 2026, investor asing membukukan net outflow sekitar 1,78 miliar dollar AS, terutama dari pasar saham dan obligasi.
Kondisi tersebut membuat pasar domestik lebih rentan ketika muncul ketidakpastian baru dari AS. Saat kecenderungan keluar modal berlanjut, investor biasanya memilih aset yang lebih aman dan menahan eksposur di negara berkembang.
Beberapa risiko yang lazim muncul dalam situasi seperti ini antara lain:
- Rupiah lebih mudah berfluktuasi dalam jangka pendek.
- IHSG berpotensi menghadapi tekanan jual dari investor asing.
- Imbal hasil obligasi dapat naik karena premi risiko meningkat.
- Sektor properti dan perbankan biasanya bergerak lebih hati-hati.
Cadangan devisa masih memberi bantalan
Di tengah tekanan eksternal, Indonesia masih memiliki penopang dari sisi cadangan devisa. Pada akhir Maret, cadangan devisa tercatat sebesar 148,3 miliar dollar AS, setara 5,8 bulan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi ini memberi ruang bagi otoritas moneter untuk meredam gejolak di pasar valas bila tekanan makin besar. Selama respons kebijakan cepat dan terukur, guncangan eksternal belum otomatis berubah menjadi masalah yang lebih luas.
Arah kebijakan The Fed tetap jadi perhatian utama
Bank Indonesia diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan lebih lama untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi dari harga minyak yang tinggi. Kebijakan itu juga penting untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, Powell masih memiliki hak secara hukum untuk menjabat sebagai anggota dewan gubernur The Fed hingga 2028, meski masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada 15 Mei 2026. Situasi ini membuat pasar terus mencermati apakah tekanan Trump hanya bersifat politik atau berkembang menjadi faktor yang benar-benar mengubah ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
