Teluk Makin Waswas, Emirat, Saudi, dan Qatar Minta Trump Hindari Perang Baru dengan Iran

Bagi Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar, perang baru antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar ancaman politik. Mereka menilai konflik semacam itu bisa langsung mengguncang energi, perdagangan, dan keamanan di seluruh Teluk.

Karena itu, tiga negara yang merupakan sekutu dekat Washington tersebut kini sama-sama mendorong Presiden Donald Trump untuk menahan diri. Mereka melihat jalur pembicaraan masih jauh lebih aman dibandingkan langkah militer yang berisiko membuka krisis baru di kawasan.

Tekanan dari Teluk ke Washington

Dalam komunikasi terpisah dengan Trump, para pemimpin dari Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar menyampaikan bahwa serangan militer tidak akan memberi hasil jangka panjang terhadap Iran. Mereka juga menegaskan bahwa konfrontasi hanya akan memperbesar biaya yang harus ditanggung kawasan dan dunia.

Sikap itu menunjukkan pergeseran penting di Teluk. Negara-negara yang paling dekat dengan kemungkinan dampak perang justru menjadi pihak yang paling keras meminta Amerika Serikat memilih diplomasi.

Risiko yang paling ditakuti

Kekhawatiran utama mereka berpusat pada infrastruktur energi dan stabilitas regional. Jika eskalasi bersenjata pecah, sektor yang menopang ekonomi Teluk dinilai menjadi sasaran paling rentan.

Ancaman itu tidak berhenti di energi. Pelabuhan, jalur logistik, dan titik vital lain yang mendukung aktivitas ekonomi juga dinilai bisa ikut terdampak bila konflik membesar.

Pengalaman sebelumnya membuat kekhawatiran itu semakin kuat. Antara akhir Februari hingga gencatan senjata awal April, serangan balasan Iran dan kelompok militan pendukungnya disebut telah menimbulkan kerusakan besar pada infrastruktur energi serta banyak korban jiwa di wilayah Teluk.

Nada Abu Dhabi ikut berubah

Perhatian juga tertuju pada Emirat Arab, terutama karena Abu Dhabi sebelumnya dikenal lebih keras terhadap Teheran. Kini, nada itu terlihat bergeser menjadi lebih hati-hati seiring meningkatnya ancaman pembalasan Iran bila permusuhan kembali pecah.

Perubahan sikap tersebut memperlihatkan cara pandang baru di kawasan. Perang tidak lagi dilihat hanya sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai risiko langsung bagi ekonomi yang sangat bergantung pada arus energi dan perdagangan.

Ribuan drone dan rudal pernah menghantam sektor penting di kawasan dan memperlihatkan betapa cepat dampaknya menyebar. Selat Hormuz juga sempat terganggu dan menekan ekspor minyak serta gas alam negara-negara GCC.

Mediasi masih berjalan

Di tengah ketegangan itu, Iran dan Amerika Serikat masih saling bertukar pesan melalui mediasi Pakistan untuk mencari kesepakatan damai permanen. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebut ada sedikit kemajuan dalam proses tersebut.

Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, juga dijadwalkan berkunjung ke Iran sebagai bagian dari upaya mediasi. Di sisi lain, Anwar Gargash, penasihat senior Presiden Emirat, menilai peluang tercapainya kesepakatan masih 50-50.

Trump berada dalam posisi rumit

Bagi Trump, situasi ini menghadirkan tekanan ganda. Di satu sisi ada dorongan untuk melemahkan program rudal balistik Iran, tetapi di sisi lain perang dapat menelan biaya besar bagi Amerika Serikat dan memicu lonjakan harga energi.

Kondisi itu ikut membuat opsi konflik semakin tidak populer di mata publik AS. Kekhawatiran negara-negara Teluk juga bertambah karena Israel masih melihat Iran sebagai ancaman eksistensial dan membuka kemungkinan serangan lanjutan untuk melumpuhkan kekuatan militer Teheran secara permanen.

Serangan drone terbaru pada pembangkit listrik tenaga nuklir Emirat turut menegaskan rapuhnya infrastruktur strategis di kawasan ini. Dalam situasi seperti itu, Abu Dhabi, Riyadh, dan Doha menempatkan stabilitas kawasan sebagai prioritas utama dan berharap Washington memilih jalur politik ketimbang konfrontasi militer.

Source: mediaindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer