Rokid AI Glasses menawarkan pendekatan yang berbeda dari kacamata pintar yang menekankan layar visual. Perangkat ini justru mengandalkan AI, audio, dan bantuan suara sebagai pusat pengalaman, sehingga terasa lebih praktis untuk kebutuhan harian yang serba cepat.
Itulah alasan perbandingan dengan Even G2 tidak bisa dibaca sebagai adu unggul secara langsung. Rokid tidak dirancang untuk mengejar pengalaman display, melainkan untuk memberi fungsi yang langsung terasa saat dipakai tanpa tangan.
Fokus pada fungsi yang segera dipakai
Dengan harga $299, Rokid AI Glasses diposisikan di kelas menengah dengan daya tarik utama pada utilitas. Fitur seperti terjemahan bahasa real-time, pengenalan objek, dan asisten berbasis suara membuatnya relevan untuk aktivitas sehari-hari.
Bagi pengguna tertentu, manfaat seperti memahami bahasa asing atau mengenali objek di sekitar bisa lebih berguna daripada layar kecil di depan mata. Karena itu, posisi Rokid lebih kuat sebagai perangkat bantu praktis daripada perangkat yang mengutamakan tampilan visual.
Terjemahan offline jadi nilai jual penting
Salah satu fitur yang paling menonjol adalah dukungan terjemahan offline untuk 89 bahasa. Kemampuan ini memberi nilai tambah besar bagi pelancong atau pengguna yang sering berada di tempat dengan koneksi terbatas.
Meski begitu, tidak semua fungsi AI berjalan mulus tanpa internet. Sejumlah kemampuan tetap membutuhkan koneksi yang kuat, sehingga pengalaman bisa menurun saat jaringan lemah atau tidak stabil.
Ringan dipakai, tetapi ada batas pada desain
Bobot Rokid AI Glasses hanya 38,5 gram, dan angka ini membantu perangkat terasa nyaman untuk pemakaian lama. Karakter ini mendukung citranya sebagai wearable yang cocok untuk mobilitas tinggi.
Di sisi lain, bahan plastik membuat kesan premiumnya tidak terlalu kuat. Lapisan glossy juga mudah meninggalkan noda sidik jari, sehingga tampilannya tidak sehalus beberapa pesaing.
Pilihan desainnya juga terbatas karena hanya tersedia dalam satu gaya. Untuk pengguna yang ingin perangkat lebih personal atau selaras dengan selera fesyen tertentu, keterbatasan ini bisa terasa cukup jelas.
Meski begitu, Rokid tetap mendukung lensa resep. Dukungan ini penting karena memberi ruang bagi pengguna yang membutuhkan koreksi penglihatan tanpa mengorbankan kenyamanan saat memakai perangkat.
Audio cukup jelas, tetapi bukan yang paling privat
Rokid AI Glasses memakai desain open-ear untuk keluaran suara. Hasilnya, audio terdengar jelas dan cukup kencang untuk musik, respons suara, dan interaksi harian.
Namun desain itu juga membawa konsekuensi berupa kebocoran suara yang terasa. Di ruang publik atau kondisi ramai, orang di sekitar berpotensi ikut mendengar isi audio yang diputar.
Untuk penggunaan kasual, kualitas suaranya masih memadai. Tetapi bagi pengguna yang lebih mementingkan privasi atau pengalaman imersif, pendekatan ini punya batas yang sulit diabaikan.
Kamera dan baterai lebih berperan sebagai pelengkap
Perangkat ini dibekali kamera 12 MP yang mendukung perekaman video dalam beberapa mode. Kamera tersebut cukup fungsional untuk kebutuhan dasar, terutama saat dipadukan dengan fitur AI seperti pengenalan objek.
Kualitas gambar menurun saat zoom digunakan. Hal ini menegaskan bahwa Rokid tidak dibangun untuk mengejar fotografi tinggi atau menjadi pilihan utama bagi pengguna yang memprioritaskan kamera.
Daya tahan baterainya disebut bisa mencapai 12 jam dalam kondisi optimal. Angka ini tergolong kompetitif untuk kategori kacamata pintar dan cukup masuk akal untuk pemakaian harian.
Ada catatan pada mode daya rendah saat bagian tangkai dibiarkan terbuka, karena bisa memicu pengurasan baterai secara tidak sengaja. Pengisian dayanya juga masih memakai charger magnetik proprietary, bukan USB-C.
Paket penjualan menyertakan charger magnetik, pouch lembut, dan bantalan hidung tambahan. Namun charging case tidak masuk paket dasar dan dijual terpisah seharga $99.
Lebih cocok untuk kebutuhan praktis daripada layar visual
Jika ukuran “lebih baik” ditentukan oleh keberadaan display, Rokid AI Glasses memang bukan pengganti Even G2. Rokid tidak dibangun untuk menyamai pengalaman layar, sehingga perbandingan langsung menjadi kurang adil saat kebutuhan utama ada pada visual.
Sebaliknya, jika yang dicari adalah kacamata pintar ringan dengan bantuan AI, audio yang jelas, terjemahan offline, dan operasi hands-free, Rokid punya keunggulan yang sangat spesifik. Perangkat ini terasa paling pas untuk pengguna yang mengutamakan portabilitas dan fungsi praktis dalam aktivitas harian.
