Tiga Vaksin Dikebut, Wabah Ebola Strain Baru Bergerak Lebih Cepat dari Respons

Author: Redaksi Android62

Wabah Ebola yang dipicu strain Bundibugyo ebolavirus di Republik Demokratik Kongo dan Uganda memaksa respons kesehatan global dipercepat. WHO bahkan menetapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat hanya dua hari setelah wabah diumumkan, ketika ratusan kasus infeksi sudah terdeteksi.

Situasi di lapangan semakin berat karena konflik di DRC belum mereda, mobilitas penduduk tetap tinggi, dan pelacakan kontak berjalan terbatas. WHO menilai laju penyebaran wabah bergerak lebih cepat daripada kemampuan respons yang tersedia, sehingga pengembangan vaksin baru didorong masuk jalur kilat.

Mengapa vaksin yang ada belum bisa dipakai

Selama ini dunia sudah memiliki vaksin untuk Ebola Zaire, strain yang memicu sebagian besar wabah besar di Afrika Barat dan Afrika Tengah. Dua vaksin yang tersedia adalah Ervebo dari Merck serta kombinasi dua dosis Zabdeno dan Mvabea dari Johnson & Johnson.

Masalahnya, vaksin tersebut tidak dirancang untuk melawan Bundibugyo ebolavirus. Para ahli menegaskan bahwa vaksin untuk satu strain Ebola tidak bisa langsung dipakai pada strain lain tanpa pengujian dan persetujuan resmi dari WHO.

Tingkat kematian Bundibugyo ebolavirus disebut berada di kisaran 30% hingga 50%. Angka itu memang di bawah Ebola Zaire yang mencapai sekitar 50% hingga 70%, tetapi riset vaksinnya tertinggal karena strain ini jarang memicu wabah besar.

Tiga kandidat vaksin yang paling dikejar

Coalition for Epidemic Preparedness Innovations atau CEPI menyebut ada tiga kandidat vaksin utama yang sedang dievaluasi untuk kemungkinan uji coba darurat. Tiga nama itu adalah vaksin rVSV Bundibugyo dari IAVI, ChAdOx1 Bundibugyo dari Universitas Oxford, dan vaksin mRNA dari Moderna.

Ketiganya memakai pendekatan berbeda, tetapi tujuannya sama. Semua kandidat ini dirancang untuk melatih sistem kekebalan tubuh agar mengenali glikoprotein Bundibugyo di permukaan virus.

Kandidat IAVI dinilai paling menjanjikan

Vaksin rVSV Bundibugyo dari International AIDS Vaccine Initiative menjadi kandidat yang paling banyak mendapat perhatian. Proyek ini memperoleh pendanaan US$ 3,2 juta dan memakai platform yang serupa dengan vaksin Ebola strain Zaire yang sebelumnya sukses.

Dalam penelitian pada monyet, vaksin eksperimental ini disebut mampu memberi perlindungan hampir 100% dan bekerja cepat dalam melatih sistem imun. WHO bahkan menilai kandidat ini sebagai yang paling menjanjikan saat ini, meski tahapan pengembangannya masih harus diselesaikan sebelum uji klinis efektivitas.

Berdasarkan evaluasi para ahli WHO, vaksin tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sembilan bulan sebelum siap diuji dalam studi klinis pencegahan. Jika semua berjalan lancar, uji klinis bisa dimulai pada awal 2027.

Oxford bergerak paling cepat menuju uji klinis

Kandidat kedua datang dari kerja sama Universitas Oxford dan Serum Institute of India dengan platform ChAdOx1. Teknologi ini sebelumnya dipakai dalam pengembangan vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca dan dinilai lebih cepat dikembangkan karena punya data keamanan yang kuat.

CEPI baru-baru ini mengalokasikan tambahan dana sebesar US$ 8,6 juta untuk mempercepat produksi dosis uji. Estimasi terbaru menyebut kandidat vaksin Oxford berpotensi masuk tahap uji klinis hanya dalam waktu dua hingga tiga bulan.

Bagi banyak pakar, kecepatan itu membuat vaksin Oxford dipandang sebagai salah satu harapan penting untuk membantu menahan wabah yang sedang berlangsung.

Moderna disiapkan untuk kebutuhan jangka panjang

Moderna juga ikut mengembangkan vaksin berbasis mRNA khusus untuk Bundibugyo ebolavirus bersama CEPI. Teknologi mRNA menawarkan fleksibilitas tinggi karena desain vaksinnya bisa diubah lebih cepat dibanding vaksin tradisional.

Meski begitu, kandidat Moderna masih berada pada fase praklinis dan belum memiliki jadwal pasti untuk pengujian pada manusia. CEPI telah berkomitmen memberikan pendanaan hingga US$ 50 juta untuk mendukung pengembangan praklinis dan uji klinis awal.

CEO Moderna Stéphane Bancel menegaskan perusahaannya akan bergerak dengan urgensi tinggi dan tetap berpegang pada prinsip ilmiah. Jika hasil awal positif, vaksin ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk berbagai strain Ebola di masa depan.

Tekanan di lapangan dan opsi pengobatan yang terbatas

Selain vaksin, terapi antibodi eksperimental untuk Ebola Zaire seperti MBP134 juga sudah disetujui, dan panel ahli independen WHO merekomendasikan penggunaannya dalam wabah saat ini. Namun untuk Bundibugyo Ebola, pengobatan yang tersedia masih berfokus pada perawatan suportif.

Perawatan itu mencakup menjaga pasien tetap terhidrasi dan mempertahankan tekanan darah agar stabil. Joanne Liu, pakar Ebola sekaligus profesor kedokteran dari Universitas McGill, Kanada, menyoroti keterbatasan tersebut sebagai salah satu tantangan utama dalam penanganan wabah.

WHO juga menilai konflik bersenjata, keterbatasan laboratorium, perpindahan penduduk lintas negara, dan rendahnya pelacakan kontak memperberat upaya pengendalian. Dalam kondisi seperti ini, ketiadaan vaksin dan terapi yang disetujui membuat petugas kesehatan kehilangan salah satu alat paling efektif untuk menghentikan penyebaran, yakni vaksinasi darurat terhadap kontak pasien.

Obat pencegahan mulai diuji

Di luar pengembangan vaksin, peneliti juga mulai menguji pendekatan pencegahan baru berupa obat antivirus. Untuk pertama kalinya dalam sejarah wabah Ebola, dokter akan menguji pemberian obat kepada orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien positif untuk melihat apakah infeksi bisa dicegah.

Pil antivirus obeldesivir disebut menunjukkan hasil menjanjikan dalam penelitian pada monyet. Obat itu mampu memberi perlindungan hingga 100% terhadap dua strain Ebola lain ketika diberikan setiap hari selama 10 hari dalam waktu 24 jam setelah paparan.

Profesor Christophe Fraser dari Universitas Oxford menekankan bahwa keberhasilan uji semacam ini tidak hanya bergantung pada efektivitas obat. Kemampuan tim kesehatan menemukan dan memantau orang yang tepat juga sangat menentukan jalannya penelitian.

Di tengah wabah yang bergerak cepat, perhatian dunia kini tertuju pada tiga kandidat vaksin utama dan berbagai upaya pendukung lainnya. Selama perlindungan resmi untuk Bundibugyo ebolavirus belum tersedia, deteksi dini, pelacakan kontak, isolasi pasien, serta dukungan internasional tetap menjadi penopang utama pengendalian wabah.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru