Banyak tombol yang dipencet orang setiap hari ternyata tidak benar-benar mengubah sistem di baliknya. Yang terasa berubah sering kali hanyalah rasa tenang karena ada tindakan yang bisa dilakukan, bukan hasil akhir yang benar-benar ikut bergeser.
Fenomena seperti ini muncul di ruang publik, kantor, sampai lift. Di beberapa tempat, tombol memang masih terhubung dengan sistem nyata, tetapi di banyak situasi lain tombol itu hanya tampak aktif di permukaan.
Tombol yang paling sering disalahpahami
Salah satu contoh paling umum ada pada tombol penyeberangan pejalan kaki. Di New York City, seorang pejabat kepada CNN mengatakan hanya sekitar 100 dari 1.000 tombol penyeberangan di kota itu yang benar-benar berfungsi.
Gambaran serupa juga muncul di kota lain. The Boston Globe menyebut tombol di dan sekitar pusat kota Boston tidak berfungsi, sementara BBC melaporkan tombol di pusat London nyaris tak berguna pada siang hari saat arus pejalan kaki tinggi.
Masalah utamanya ada pada pengaturan waktu lalu lintas. Lampu modern dirancang agar arus kendaraan tetap konsisten, sehingga banyak kota memakai siklus waktu tetap untuk penyeberangan pejalan kaki di area pusat kota.
Dalam kondisi seperti itu, menekan tombol sering kali tidak mengubah apa pun. Pengguna tetap melihat lampu berubah, tetapi perubahan itu bisa saja terjadi karena timer yang memang sudah berjalan, bukan karena tekanan pada tombol.
Namun situasinya tidak sama di semua tempat. Di kota kecil, pinggiran kota, atau wilayah dengan lalu lintas pejalan kaki yang jarang, tombol justru masih dibutuhkan untuk memicu lampu penyeberangan.
Lift juga punya tombol yang sering memberi kesan palsu
Di dalam lift, tombol “close door” juga sering membuat orang merasa sedang mempercepat sesuatu. Kenyataannya, tombol ini tidak selalu bereaksi langsung karena ada aturan yang membatasi cara kerja pintu lift.
Di Amerika Serikat, aturan terkait Americans with Disabilities Act atau ADA, yang disahkan pada 1990, menetapkan syarat tertentu untuk lift, termasuk berapa lama pintu harus tetap terbuka. Aturan itu menyebut pintu lift harus tetap terbuka penuh setidaknya 3 detik sebagai respons atas panggilan kabin.
Ada pula aturan tambahan yang memperhitungkan jarak tombol panggil di lorong dari pintu lift, dengan asumsi kecepatan berjalan 1,5 kaki per detik. Jika tombol berada 10 kaki dari pintu, maka pintu harus tetap terbuka selama 6,67 detik.
Karena itu, sebagian lift dibuat agar tombol tutup pintu tidak melakukan apa pun sampai waktu minimum berlalu. Pada kasus lain, tombol itu dinonaktifkan sepenuhnya karena sistem pintu sudah menutup otomatis setelah waktu tunggu yang diwajibkan.
Akibatnya, kebiasaan menekan tombol itu tetap bertahan, meski efeknya sering tidak terlihat. Banyak orang tetap melakukannya karena tombol tersebut memberi kesan bahwa mereka punya pengaruh langsung atas pintu lift.
Kantor pun tidak selalu lebih jujur soal kendali
Ilusi serupa juga pernah ditemukan di lingkungan kantor lewat termostat. Sebuah artikel Wall Street Journal pada 2003 mengungkap bahwa sebagian termostat kantor ternyata tidak melakukan apa-apa.
Saat itu, ada klaim populer yang menyebut hingga 90 persen termostat kantor palsu. Namun angka tersebut disebut hampir pasti berlebihan, dan sejumlah pakar lain menilai persentasenya berada di bawah dua persen.
Meski begitu, keberadaan termostat palsu memang nyata. Propmodo pada 2022 menulis tentang seorang teknisi HVAC yang mengaku memasang termostat palsu setelah banyak keluhan dari pekerja kantor, lalu panggilan servis menurun.
Vaughn Langless, seorang inspektur listrik dari Rochester, New York, mengatakan sistem itu masih terpasang dan bekerja seperti sejak 1987. Kisah semacam ini menunjukkan bahwa sebuah kontrol fisik bisa tetap dipertahankan meski tidak lagi menentukan hasilnya.
Rasa kendali memang punya efek nyata
Di balik tombol yang tampak aktif, ada alasan psikologis yang membuatnya terus dipertahankan. Penelitian psikolog Judith Rodin dan Ellen Langer pada 1976 memberi gambaran bahwa pilihan kecil bisa berdampak besar pada perilaku dan kondisi seseorang.
Dalam penelitian itu, penghuni panti jompo yang diberi pilihan kecil, seperti merawat tanaman atau menentukan waktu menonton film, menjadi lebih waspada, lebih aktif, dan bahkan meninggal pada tingkat yang lebih rendah. Sejak itu, banyak penelitian lain menunjukkan bahwa kendali atas lingkungan memang membawa manfaat nyata.
Karena itulah, para perancang sistem kadang memilih jalan murah dengan memasang tombol yang tampak bekerja meski tidak benar-benar mengubah sistem di belakangnya. Dari luar, tombol seperti ini terlihat fungsional dan meyakinkan, sementara di dalamnya yang dijaga adalah rasa kontrol, bukan selalu hasil yang berubah.







