Donald Trump kembali menempatkan Iran dan China dalam satu napas pembicaraan, tetapi dengan nada yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia menegaskan Amerika Serikat tidak memerlukan bantuan Beijing untuk menangani Iran, namun di sisi lain ia tetap memuji Xi Jinping sebagai sosok yang nyaman diajak bekerja sama.
Pernyataan itu menunjukkan strategi komunikasi yang ingin mengirim dua pesan sekaligus. Washington ingin terlihat memegang kendali penuh atas krisis Iran, tetapi pada saat yang sama masih mengakui bahwa China punya pengaruh yang tidak bisa diabaikan.
Trump menegaskan bahwa dirinya terus memantau situasi di Iran dan menilai kondisi tersebut masih bisa dikelola tanpa campur tangan China. Ia juga memberi sinyal bahwa Iran bukan fokus utama dalam pembicaraan awal karena Amerika Serikat dianggap sudah menguasai dinamika yang sedang berlangsung.
“Sejujurnya, saya tidak akan mengatakan Iran menjadi salah satunya karena kami memantau dan mengendalikan situasi di Iran dengan sangat baik,” ujar Trump dikutip dari AFP. Ucapan itu memperlihatkan keinginan Gedung Putih untuk tampil percaya diri di tengah meningkatnya tensi kawasan.
Nada percaya diri itu lalu berubah menjadi ancaman keras saat Trump membahas Teheran secara langsung. Ia mendesak Iran segera mencapai kesepakatan dengan Washington atau menghadapi konsekuensi besar.
“Entah kita mencapai sebuah kesepakatan, atau mereka akan hancur,” tegas Trump. Pernyataan tersebut muncul ketika ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus membesar setelah serangan besar-besaran pada akhir Februari lalu.
Situasi itu disebut sudah memasuki kebuntuan dan ikut menekan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat konflik Iran semakin menarik perhatian internasional dan menambah bobot setiap pernyataan dari Gedung Putih.
Xi Jinping tetap masuk dalam percakapan
Meski keras terhadap Iran, Trump tetap memberi pujian kepada Xi Jinping. Ia menyebut pemimpin China itu sebagai teman dan orang yang sangat cocok diajak bekerja sama.
“Dia teman saya. Dia seseorang yang sangat cocok bekerja sama dengan saya,” kata Trump mengenai Xi Jinping. Pujian ini menarik karena sebelumnya Trump sempat mendorong China memakai pengaruhnya untuk menekan Iran agar mau mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Artinya, Beijing masih dipandang sebagai pihak yang bisa memengaruhi arah diplomasi. Trump memang menolak kesan bahwa AS bergantung pada bantuan China, tetapi ia tidak menutup pintu bagi peran Beijing dalam pembicaraan soal Iran.
Mengapa China tetap relevan bagi Iran
Peran China dalam relasi dengan Teheran membuat nama Beijing sulit dipisahkan dari isu Iran. China dikenal sebagai salah satu mitra ekonomi utama Iran dan membeli sebagian besar ekspor minyak Iran.
Selain itu, China juga disebut selama ini menjadi pendukung diplomatik penting bagi Teheran di tengah sanksi Barat. Laporan yang beredar turut menyebut Beijing masih memasok senjata ke Iran dan tetap membeli minyak yang dikenai sanksi internasional.
Karena posisi itulah China tetap dianggap relevan saat Washington membahas masa depan Iran. Trump bisa saja menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak butuh bantuan China, tetapi kenyataannya ia masih membawa Xi Jinping ke dalam lingkaran percakapan penting.
Gabungan antara ancaman ke Iran, pujian terhadap Xi, dan klaim bahwa situasi sudah terkendali memperlihatkan pola komunikasi yang berlapis dari Gedung Putih. Di tengah ketegangan yang terus meningkat, Trump memilih tampil tegas terhadap Teheran sambil tetap menjaga ruang untuk Beijing.
Source: www.suara.com






