UEA Lepas Dari OPEC, Peta Rivalitas Energi Dengan Arab Saudi Makin Terbuka

Author: Redaksi Android62

Langkah Uni Emirat Arab untuk meninggalkan OPEC per 1 Mei 2026 menjadi sinyal kuat bahwa Abu Dhabi ingin bergerak lebih leluasa dalam menentukan arah kebijakan energinya. Keputusan ini sekaligus menempatkan kembali hubungan UEA dan Arab Saudi dalam sorotan, terutama karena keduanya selama ini sama-sama berusaha mempertahankan pengaruh di pasar minyak dan kawasan Timur Tengah.

Bagi UEA, keputusan tersebut bukan datang dari posisi negara kecil. Sejak bergabung dengan OPEC pada 1967, UEA tumbuh menjadi salah satu eksportir minyak mentah terbesar di kawasan setelah Arab Saudi dan Irak, dengan kapasitas produksi mencapai 4,8 juta BOPD.

Persaingan yang jauh melampaui minyak

Hubungan UEA dan Arab Saudi sudah lama diwarnai kompetisi yang tidak berhenti pada urusan produksi minyak. Kedua negara juga bersaing dalam penguasaan sumber daya ekonomi, mineral, energi, hingga pengembangan teknologi yang sama-sama dipakai untuk menguatkan posisi masing-masing di kawasan.

Perbedaan pandangan politik pun kerap muncul dalam sejumlah isu regional. Situasi ini membuat rivalitas Abu Dhabi dan Riyadh terlihat bukan hanya sebagai persaingan bisnis energi, melainkan juga pertarungan pengaruh yang lebih luas.

Di Yaman, misalnya, Dewan Transisi Selatan atau STC yang didukung UEA melancarkan serangan besar-besaran ke Hadramaut dan al-Mahra pada Desember 2025. Arab Saudi menilai langkah itu sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya karena wilayah tersebut berbatasan dengan Saudi.

Ketegangan serupa juga terlihat di Sudan. UEA memberikan dukungan politik dan militer kepada Pasukan Pendukung Cepat atau RSF, sementara Arab Saudi mendukung Angkatan Bersenjata Sudan dan pemerintah pusat.

Energi tetap menjadi titik paling sensitif

Meski rivalitas mereka menyebar ke berbagai bidang, sektor energi tetap menjadi pusat perhatian utama. Arab Saudi selama ini memegang peran dominan di OPEC, sedangkan UEA menilai sistem kuota produksi membuat ruang geraknya terlalu terbatas untuk memaksimalkan pendapatan nasional.

Dari sudut pandang Abu Dhabi, kapasitas produksinya masih bisa dinaikkan lebih jauh. Karena itu, keluar dari OPEC memberi UEA fleksibilitas lebih besar untuk mengatur produksi, pemasaran, dan distribusi tanpa terikat pembatasan kuota yang selama ini berlaku.

UEA juga menegaskan bahwa kebijakan itu diarahkan pada strategi nasional jangka panjang. Namun, langkah tersebut tetap dibaca sebagai tanda bahwa Abu Dhabi ingin tampil sebagai aktor energi yang lebih mandiri.

Dampak bagi keseimbangan pasar minyak

Keputusan UEA berpotensi mengubah keseimbangan pasar energi global. OPEC yang berbasis di Wina selama ini mengandalkan koordinasi kuota untuk menjaga stabilitas harga, tetapi keluarnya produsen besar seperti UEA dapat melemahkan pengaruh organisasi itu.

UEA dikenal sebagai produsen minyak berbiaya rendah atau low cost production. Kondisi ini memberi ruang bagi negara tersebut untuk menaikkan output saat permintaan global sedang tinggi, termasuk ketika pasar energi bergejolak akibat perang AS-Iran.

Dalam referensi yang tersedia, kapasitas produksi OPEC disebut berada di level 206.000 BOPD per April 2026. Angka itu dinilai terlalu kecil untuk meredam gangguan pasokan.

Peningkatan produksi UEA juga dapat menekan harga minyak global yang sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel sejak Iran memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz. Karena itu, keputusan Abu Dhabi membawa dampak yang melampaui urusan internal organisasi produsen minyak.

Ambisi regional yang makin terlihat

Rivalitas UEA dan Arab Saudi juga tampak di luar sektor energi melalui proyek-proyek simbolik yang mencerminkan ambisi teknologi, kemewahan, dan diversifikasi ekonomi. Burj Khalifa milik UEA yang setinggi 828 meter kini berhadapan dengan ambisi Arab Saudi melalui Rise Tower di Riyadh setinggi 2 kilometer serta kelanjutan Jeddah Tower setinggi 1.100 meter.

UEA merespons dengan membangun Burj Azizi setinggi 725 meter yang direncanakan selesai pada 2028. Deretan proyek itu menunjukkan bahwa persaingan kedua negara tidak hanya berlangsung di pasar minyak, tetapi juga pada simbol kekuatan ekonomi dan modernisasi.

Dalam konteks itu, keluarnya UEA dari OPEC menjadi lebih mudah dibaca sebagai keputusan strategis yang menegaskan prioritas kepentingan nasional. Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa solidaritas di antara sesama negara produsen minyak tidak selalu kokoh ketika kepentingan geoekonomi dan pengaruh regional terus saling bertabrakan.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru