UNICEF Peringatkan Gaza Kian Menyempit, Anak-Anak Terhimpit Penyakit Dan Kelaparan

Author: Redaksi Android62

PBB menilai perluasan kontrol militer Israel atas Gaza akan membuat ruang hidup warga sipil semakin sempit, sementara anak-anak menanggung beban paling berat dari krisis yang sudah sangat parah. Di tengah wilayah yang terus menyusut, layanan dasar melemah, bantuan terancam tersendat, dan kondisi kesehatan anak kian memburuk.

Salim Oweis dari UNICEF menyebut warga kini terpaksa berdesakan di sekitar 40 persen wilayah Gaza yang masih tersisa. Situasi ini datang ketika Gaza sudah dipenuhi kepadatan, kerusakan, dan kekurangan kebutuhan paling dasar, sehingga setiap perluasan kontrol militer langsung menekan ruang aman yang nyaris tidak ada.

Anak-anak berada di garis depan krisis

UNICEF menilai dampak terbesar dari ekspansi itu akan terasa pada kesehatan anak. Kekurangan makanan, air bersih, dan sanitasi membuat penyakit lebih mudah menyebar di tempat-tempat pengungsian yang padat.

Lebih dari separuh rumah tangga dilaporkan menghadapi penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan, dan diare akut pada anak. Kondisi itu diperburuk oleh reruntuhan bangunan dan tumpukan limbah padat yang menumpuk di lokasi penampungan.

Di tempat-tempat yang sesak, kutu, tungau, dan kudis disebut menjadi pemandangan umum. Laporan di lapangan juga menyebut meningkatnya kasus tikus yang menggigit anak-anak dan bayi, sementara infeksi bakteri memunculkan luka dalam dan lesi pada tubuh anak-anak.

Akses bantuan dan layanan kesehatan ikut terancam

Perluasan wilayah yang dikuasai Israel juga dinilai dapat memutus akses bantuan menuju titik-titik layanan kemanusiaan. Oweis menyoroti bahwa tekanan semacam itu membuat organisasi kemanusiaan semakin sulit menjangkau keluarga yang paling membutuhkan.

Di saat yang sama, rumah sakit di Gaza berada dalam situasi sangat rapuh. Tidak ada satu pun fasilitas yang berfungsi penuh untuk menangani lonjakan pasien anak, padahal kebutuhan perawatan darurat terus meningkat.

PBB memperingatkan bahwa kondisi tersebut akan memperdalam krisis kesehatan yang sudah berat. Bagi anak-anak, risiko bukan hanya datang dari penyakit, tetapi juga dari makin terbatasnya kemampuan sistem kesehatan untuk memberi pertolongan.

Kontrol militer terus meluas

Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan militer Israel telah menguasai 50 persen wilayah Gaza berdasarkan ketentuan gencatan senjata. Ia kemudian menyebut angka itu meningkat menjadi 60 persen dan menegaskan arah baru untuk mencapai 70 persen.

Langkah tersebut dipandang akan menekan warga sipil yang masih bertahan di wilayah yang belum dikuasai. Dengan ruang yang terus menyempit, warga sipil hidup di tengah reruntuhan, penumpukan limbah, dan kondisi pengungsian yang semakin memburuk.

Kecaman dan jumlah korban yang terus naik

Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam pengumuman Netanyahu dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap dasar gencatan senjata. Sejak kesepakatan itu melemah, kekerasan harian di Gaza terus berlangsung.

Data dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dinilai andal oleh PBB mencatat lebih dari 900 orang tewas dalam gelombang kekerasan terbaru. Secara keseluruhan, lebih dari 72.800 warga Palestina telah tewas sejak perang dipicu oleh serangan pada 7 Oktober 2023.

Di tengah angka korban yang terus bertambah, perluasan kontrol militer atas Gaza membuat ruang hidup warga sipil semakin terjepit. Bagi anak-anak, ancaman itu datang bersamaan dengan kelaparan, penyakit, pengungsian, dan layanan medis yang nyaris runtuh.

Source: mediaindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru