Jejak meteor yang melintas di langit dapat tampak kuning, hijau, ungu, atau berwarna lain, bukan hanya putih. Perbedaan itu dipengaruhi oleh komposisi material antariksa serta kondisi atmosfer yang dilalui benda tersebut.
Kandungan besi yang tinggi cenderung menghasilkan cahaya kuning, sedangkan kalsium dapat membuat meteor tampak ungu. Warna yang terlihat dari satu wilayah juga belum tentu sama dengan pengamatan di lokasi lain karena jalur dan lapisan atmosfer yang dilintasi dapat berbeda.
Cahaya Terbentuk saat Meteoroid Memasuki Atmosfer
Meteor bukanlah bintang yang jatuh dari langit, melainkan jejak cahaya dari meteoroid yang memasuki atmosfer Bumi. Meteoroid merupakan bongkahan batuan atau besi yang mengorbit Matahari.
Sebagian meteoroid berasal dari pecahan tabrakan antarasteroid, sementara komet juga melepaskan debu dan puing saat mengorbit Matahari. Ketika benda ini bergerak sangat cepat di lapisan atas atmosfer, gas di sekelilingnya memanas hingga berpijar.
Pijaran gas itulah yang terlihat sebagai garis terang atau bintang jatuh dari permukaan Bumi. Menurut penjelasan BRIN yang dikutip Kompas.com, meteor umumnya tampak di mesosfer pada ketinggian sekitar 50 hingga 80 kilometer.
Meteor berukuran kecil pun masih dapat terlihat dari jarak puluhan kilometer karena kecepatan dan cahaya yang dihasilkannya. Meteor tercepat dapat melaju hingga 71 kilometer per detik.
Ukuran dan kecepatan turut memengaruhi intensitas penampakan meteor. Benda yang lebih besar dan lebih cepat biasanya menghasilkan cahaya lebih terang serta dapat terlihat selama sekitar satu detik hingga beberapa menit.
Jenis Meteor Berdasarkan Lintasan dan Kecerahan
Sejumlah istilah digunakan untuk membedakan meteor berdasarkan bentuk lintasan, tingkat kecerahan, dan dampaknya di atmosfer. Perbedaannya penting karena sebagian meteor hanya menghasilkan garis cahaya, sementara yang lain dapat memicu ledakan dan gelombang kejut.
| Jenis | Ciri utama | Dampak atau contoh |
|---|---|---|
| Earthgrazer | Melintas rendah dekat cakrawala dengan jejak panjang | Dapat memantul di atmosfer atas lalu kembali ke luar angkasa |
| Fireball | Lebih besar, terang, dan lebih lama terlihat | Kecerahannya melampaui planet di langit |
| Bolide | Sangat terang dan masif | Dapat meledak di atmosfer serta menghasilkan gelombang kejut |
| Superbolide | Cahaya dan ledakannya sangat besar | Berpotensi mengancam manusia dan lingkungan sekitar |
Earthgrazer dikenal melalui lintasan rendah di dekat garis cakrawala yang sering menghasilkan jejak panjang dan berwarna-warni. Peristiwa 1972 Great Daylight Fireball tercatat memasuki atmosfer di atas Utah, Amerika Serikat, lalu keluar kembali di atas Alberta, Kanada.
International Astronomical Union mendefinisikan fireball sebagai meteor yang cahayanya lebih terang daripada planet mana pun di langit. Ukurannya dapat berkisar dari sebesar bola basket hingga mobil kecil.
Bolide kerap dikaitkan dengan ledakan di atmosfer yang suaranya dapat terdengar di permukaan. Sebagian astronom mengelompokkannya sebagai fireball yang menimbulkan gelombang kejut atau sonic boom.
Contoh superbolide terjadi di Chelyabinsk, Rusia, pada 2013. Ledakannya setara 500 kiloton TNT dan gelombang kejutnya memecahkan kaca di ribuan gedung apartemen.
Lebih dari 1.200 orang dilaporkan mengalami luka hingga harus dibawa ke rumah sakit dalam peristiwa tersebut. Pada puncak intensitasnya, meteor Chelyabinsk bersinar 30 kali lebih terang daripada Matahari.
Meteor Terang yang Melintas di Jawa
Fenomena meteor besar juga menarik perhatian setelah benda langit terang melintas di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Sabtu malam, 11 Juli 2026. Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, memastikan cahaya itu berasal dari meteor besar yang memasuki atmosfer Bumi.
Lintasannya dilaporkan pertama kali terdeteksi di atas Laut Jawa sebelum melewati Bekasi, Majalengka, Nagreg, Tasikmalaya, hingga Yogyakarta. Jalur panjang tersebut membuat penampakannya dapat disaksikan dari lebih dari satu wilayah.
Hujan Meteor Berasal dari Jejak Debu Komet
Ribuan meteor memasuki atmosfer Bumi setiap hari, tetapi mayoritas materialnya berukuran tidak lebih besar dari kerikil dan habis terbakar. Material yang sanggup bertahan hingga mencapai permukaan Bumi disebut meteorit.
Jumlah meteor dapat meningkat ketika Bumi melintasi jalur orbit komet yang meninggalkan debu dan puing. Fenomena itu disebut hujan meteor, dengan meteor yang tampak berasal dari satu titik radian di langit.
Nama hujan meteor biasanya diambil dari rasi bintang tempat titik radian terlihat, meski sumber partikelnya adalah komet. Leonid, Perseid, Orionid, dan Geminid termasuk hujan meteor tahunan yang kemunculannya dapat diprediksi.
Leonid tampak datang dari rasi Leo, tetapi partikelnya berasal dari puing Komet Tempel-Tuttle. Pada intensitas lebih tinggi, badai meteor dapat menghadirkan sedikitnya 1.000 meteor per jam dan menyerupai kembang api alami.







