Sejauh ini, ada tujuh kasus hantavirus yang terkonfirmasi atau masih dicurigai di kapal pesiar MV Hondius, dan tiga di antaranya berakhir dengan kematian. Otoritas kesehatan menaruh perhatian khusus pada kemungkinan penularan antarmanusia, tetapi untuk masyarakat luas risiko dinilai tetap rendah.
Fokus penyelidikan kini berada pada orang-orang yang memiliki kontak sangat dekat di kapal. Maria Van Kerkhove, direktur kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, menyebut pasangan suami-istri serta penumpang yang berbagi kabin sebagai kelompok yang paling mungkin terpapar.
Meski demikian, WHO menegaskan hantavirus umumnya tidak menyebar dari manusia ke manusia. Penularan seperti itu memang tidak lazim, walau pola serupa pernah muncul pada beberapa wabah sebelumnya yang melibatkan strain Andes, dan strain itulah yang menurut WHO mungkin terkait dengan kasus di kapal ini.
Pihak kesehatan juga belum menutup kemungkinan adanya paparan dari lingkungan selama perjalanan. Salah satu jalur yang masih dipertimbangkan adalah penumpang tertular saat kunjungan pengamatan burung ke pulau-pulau yang dihuni burung dan hewan pengerat.
Kapal MV Hondius sendiri masih tertahan di lepas pantai Cape Verde, negara kepulauan di Atlantik barat Afrika, dan belum diizinkan menurunkan penumpang ke daratan. Sekitar 150 orang masih berada di kapal itu, dengan mayoritas penumpang berasal dari Inggris, Amerika Serikat, dan Spanyol.
Pelayaran tersebut berangkat dari ujung selatan Argentina pada akhir Maret dan dipasarkan sebagai ekspedisi alam Antarktika. Harga kabinnya dilaporkan berada di kisaran 14.000 hingga 22.000 euro, atau sekitar 16.000 sampai 25.000 dolar AS.
Di antara korban yang sudah teridentifikasi, seorang pria asal Belanda menjadi kasus pertama yang meninggal pada 11 April. Jenazahnya baru diturunkan dari kapal pada 24 April di St Helena, sementara istrinya ikut dalam proses repatriasi.
Kondisi istri pria tersebut kemudian memburuk saat penerbangan menuju Johannesburg. Ia meninggal ketika tiba di unit gawat darurat pada 26 April, dan Belanda sudah mengonfirmasi virus itu pada perempuan Belanda yang meninggal tersebut.
Kasus lain juga sudah dipastikan. Otoritas Afrika Selatan mengonfirmasi seorang pasien asal Inggris yang kini dirawat di rumah sakit Johannesburg positif hantavirus.
WHO saat ini memprioritaskan evakuasi dua penumpang sakit yang masih berada di kapal. Setelah itu, kapal direncanakan melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Canary, meski keputusan akhir dari pihak Spanyol belum ditetapkan.
Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan keputusan untuk menerima kapal itu masih menunggu data yang dikumpulkan dari kapal. Sebuah tim epidemiolog dijadwalkan memeriksa kapal pada sore hari, sementara penelusuran kontak untuk penumpang di penerbangan repatriasi juga masih berlangsung.
Langkah itu penting untuk memastikan apakah ada rantai penularan lain di luar kapal. WHO juga menyebut pasangan asal Belanda mungkin sudah terinfeksi sebelum naik kapal, karena keduanya diketahui bergabung dengan pelayaran setelah bepergian di Argentina, tempat kapal itu memulai perjalanan dari Ushuaia pada Maret.
Pemeriksaan laboratorium terus dikebut untuk memastikan strain virus yang terlibat. Institut Penyakit Menular Nasional Afrika Selatan sedang menyusun urutan genetik virus, dan hasilnya mungkin tersedia pada Rabu, sementara Institut Pasteur di Senegal ikut membantu pengujian dan konfirmasi kasus yang masih dicurigai.
WHO memperkirakan ada antara 10.000 hingga 100.000 kasus hantavirus setiap tahun. Argentina disebut sebagai negara dengan kasus terbanyak di kawasan Amerika, dengan tingkat kematian sekitar 32 persen yang lebih tinggi dari rata-rata dan lebih tinggi dibanding strain virus lain.
