Penolakan warga Amerika Serikat terhadap Perang Iran telah mencapai tingkat yang sangat tinggi ketika konflik masih relatif baru. Survei Washington Post-Ipsos menunjukkan 68% responden menilai perang tersebut tidak layak diperjuangkan, berbanding 28% yang menyatakan sebaliknya.
Selisih 40 poin itu menjadi beban politik besar bagi Presiden Donald Trump. Angka tersebut disebut lebih buruk dibandingkan titik terendah dukungan publik terhadap perang Irak maupun Afghanistan.
Penolakan Datang Lebih Cepat
Kecepatan perubahan sentimen menjadi persoalan utama bagi pemerintahan Trump. Pada akhir April, survei Washington Post-ABC News sudah mencatat 61% responden menyebut perang itu sebagai kesalahan, padahal konflik belum berjalan dua bulan.
Situasi ini berbeda dari pola yang terjadi dalam sejumlah perang besar AS sebelumnya. Dalam perang Afghanistan, mayoritas publik baru menilai konflik tidak layak diperjuangkan setelah hampir delapan tahun.
Pada perang Irak, perubahan pandangan mayoritas muncul sekitar satu tahun setelah invasi dimulai. Hampir empat tahun diperlukan sampai dua pertiga warga AS menganggap perang Irak tidak layak diteruskan.
| Sumber Survei | Temuan | Arti Politik |
|---|---|---|
| Washington Post-Ipsos | 68% menolak, 28% mendukung | Penolakan unggul 40 poin |
| Washington Post-ABC News | 61% menyebut perang sebagai kesalahan | Mayoritas menolak dalam waktu singkat |
| Universitas Quinnipiac | 45% merasa AS lebih lemah, 33% lebih kuat | Narasi kekuatan tidak dominan |
| CNN | 41% mendukung serangan pada awal konflik | Dukungan awal sangat rendah |
Dukungan Awal Juga Tidak Kuat
Masalah bagi Gedung Putih bukan semata dukungan yang menyusut setelah operasi berjalan. Sejak awal, penerimaan terhadap serangan ke Iran sudah lebih rendah daripada banyak operasi militer internasional AS terdahulu.
Analisis New York Times terhadap jajak pendapat CNN mencatat hanya 41% responden mendukung serangan terhadap Iran pada awal konflik. Persentase itu disebut sebagai dukungan awal terendah yang pernah dicatat untuk dimulainya operasi militer internasional AS.
Temuan Gallup juga memperlihatkan posisi perang Iran yang tidak biasa. Dari lebih dari selusin aksi militer AS yang pernah disurvei, hampir seluruhnya memperoleh dukungan awal di atas 50%.
Operasi militer di Libya pada 2011 sebelumnya menjadi pengecualian, dengan dukungan awal sebesar 47%. Namun, dukungan untuk perang Iran bahkan turun menjadi 34% dalam tiga bulan sejak konflik dimulai.
Narasi Kekuatan AS Dipertanyakan
Pemerintahan Donald Trump berupaya menampilkan operasi tersebut sebagai bukti kekuatan AS di panggung internasional. Akan tetapi, survei Universitas Quinnipiac menunjukkan penilaian pemilih bergerak ke arah yang berbeda.
Sebanyak 45% pemilih terdaftar menilai perang membuat posisi AS semakin lemah di dunia. Hanya 33% yang merasa Amerika menjadi lebih kuat setelah konflik berlangsung.
Hasil itu menandakan keraguan warga tidak hanya berkaitan dengan kelanjutan operasi militer. Publik juga mempertanyakan manfaat strategis perang bagi posisi Amerika Serikat secara global.
Belum Menjadi Prioritas Utama
Meski penolakan kuat, perang Iran belum menjadi isu terpenting bagi mayoritas masyarakat AS. Sejumlah survei menunjukkan konflik tersebut hanya dipandang sebagai prioritas oleh persentase satu digit warga Amerika.
Rendahnya perhatian itu berkaitan dengan tidak adanya pengerahan besar pasukan darat AS serta jumlah korban militer seperti dalam konflik sebelumnya. Kondisi tersebut membuat tekanan politik untuk segera mengubah kebijakan perang masih relatif terbatas, meski Opini Publik AS menunjukkan penolakan yang tegas.
