Aset Non-Core BUMN Karya Akan Dijual, Danantara Dahulukan Pelunasan Utang Sebelum Merger

Author: Redaksi Android62

Langkah Danantara untuk merapikan kondisi keuangan BUMN Karya dimulai dari pelepasan aset yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis inti. Strategi ini dipilih karena beban utang emiten konstruksi pelat merah dinilai sudah terlalu besar dan perlu dipangkas sebelum masuk ke tahap penggabungan usaha.

Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa restrukturisasi harus dimulai dari portofolio yang bisa dipisahkan dari inti bisnis. Dengan cara itu, perusahaan diharapkan memiliki struktur yang lebih ringan dan lebih siap saat konsolidasi atau merger dilakukan.

Aset yang disiapkan untuk dilepas

Sejumlah aset non-core masuk ke daftar yang akan divestasikan, termasuk unit usaha fiber optik, Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM, serta kepemilikan jalan tol. Ketiga aset tersebut dianggap tidak berada di jantung usaha konstruksi sehingga justru menambah kompleksitas portofolio BUMN Karya.

Dony menyebut pelepasan aset itu diperlukan untuk menekan utang yang selama ini membebani perusahaan. Ia mengatakan, “beberapa yang non-core daripada BUMN Karya itu akan kita lepas untuk menurunkan utangnya, karena hutangnya kan terlalu besar.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa fokus utama bukan sekadar menjual aset, melainkan menata ulang struktur bisnis agar lebih sehat. Dalam pandangan Danantara, pelepasan aset non-core dapat membantu mengurangi tekanan finansial yang menghambat kinerja.

Divestasi didahulukan sebelum penggabungan

Urutan kerja yang dipilih pemerintah dan Danantara menempatkan divestasi sebagai tahap awal. Artinya, merger tidak langsung menjadi langkah pertama, karena pembenahan neraca keuangan harus dilakukan lebih dulu.

Dony menegaskan tahapan tersebut dengan mengatakan, “Ini akan kita divestasikan dulu sehingga itu untuk menurunkan hutang-hutang mereka. Nanti setelah dia bersih baru kita akan melakukan merger.”

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penggabungan perusahaan karya tidak akan dilakukan saat beban utang masih tinggi. Konsolidasi baru dianggap tepat setelah kondisi keuangan dibuat lebih bersih, supaya masalah lama tidak ikut terbawa ke entitas hasil gabungan.

Penilaian aset tetap harus hati-hati

Meski ditargetkan selesai dalam tahun ini, proses divestasi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Setiap aset yang dilepas akan melalui penilaian Kantor Jasa Penilai Publik atau KJPP agar nilai transaksi bisa dihitung secara wajar.

Kehadiran KJPP menjadi penting supaya proses penjualan tidak merugikan negara dan tetap memberi manfaat bagi perusahaan. Dony menegaskan bahwa divestasi harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian agar hasilnya benar-benar membantu menurunkan kewajiban.

Karena itu, nilai aset tidak boleh ditentukan secara sembarangan. Penilaian yang cermat dibutuhkan supaya pelepasan aset memberi ruang bagi perbaikan keuangan tanpa menimbulkan masalah baru.

Fokus kembali ke bisnis inti konstruksi

Pelepasan aset non-core pada akhirnya mengarah pada satu tujuan besar, yaitu membuat BUMN Karya kembali fokus ke bisnis inti. Dengan portofolio yang lebih ramping, perusahaan diharapkan tidak lagi terbebani oleh unit usaha yang berada di luar jalur utama konstruksi.

Langkah ini juga memperlihatkan bahwa penyehatan keuangan menjadi syarat sebelum restrukturisasi besar dilanjutkan. Jika divestasi berjalan sesuai rencana, BUMN Karya akan memasuki fase merger dengan struktur usaha yang lebih sederhana dan posisi keuangan yang lebih siap untuk ditata ulang.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru