Banyak keluarga di Indonesia masih baru mengetahui talasemia setelah anak membutuhkan transfusi darah rutin seumur hidup. Kondisi itu terjadi karena penyakit ini sering tidak terlihat pada pembawa sifat, padahal risikonya bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
Talasemia adalah kelainan genetik yang memengaruhi pembentukan hemoglobin, protein di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Saat pembentukan hemoglobin terganggu, sel darah merah menjadi lebih mudah rusak dan penderitanya dapat mengalami anemia dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Di Indonesia, jumlah pembawa sifat talasemia tergolong tinggi. Data yang disebutkan menunjukkan sekitar 2,6–11 persen populasi membawa sifat talasemia alfa, 3–10 persen membawa sifat talasemia beta, dan 1,5–36 persen membawa sifat HbE.
Sebagian besar pembawa sifat tidak menunjukkan gejala yang jelas. Karena tampak sehat, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka berisiko menurunkan talasemia kepada anak bila tidak menjalani pemeriksaan sejak dini.
Kelompok yang perlu lebih memperhatikan skrining meliputi remaja, calon pasangan menikah, keluarga dengan riwayat talasemia, serta kelompok berisiko lainnya. Pemeriksaan menjadi penting untuk mengenali status pembawa sifat sebelum kondisi ini terus berulang antargenerasi.
Pada talasemia minor, kondisi umumnya hanya menimbulkan anemia ringan atau bahkan tanpa gejala. Namun, pada talasemia mayor, pasien membutuhkan transfusi darah rutin sepanjang hidup agar tubuh tetap stabil.
Penanganan talasemia tidak berhenti pada transfusi. Pasien juga memerlukan diagnosis yang tepat, terapi kelasi besi untuk mengurangi penumpukan zat besi akibat transfusi berulang, serta dukungan psikososial bagi pasien dan keluarga.
Ketersediaan darah yang aman dan sesuai juga menjadi kebutuhan utama bagi pasien talasemia mayor. Darah yang telah melalui proses pengurangan leukosit dibutuhkan agar transfusi lebih aman.
Situasi ini ikut mendorong penguatan skrining lewat kolaborasi lintas sektor. Dalam rangka memperingati World Thalassemia Day 2026 yang jatuh setiap 8 Mei, Sysmex Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI menggandeng PMI Pusat, BPJS Kesehatan, dan Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia atau POPTI.
Rangkaian kegiatan sepanjang Mei 2026 mengusung tema “United for Thalassemia” dan tema global “Hidden No More: Finding the Undiagnosed, Supporting the Unseen”. Agenda itu mencakup webinar nasional pada 19 Mei, aksi donor darah pada 21 Mei, dan kampanye digital melalui kompetisi media sosial pada 16–30 Mei 2026.
Webinar nasional menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, PMI, dokter spesialis anak, dan POPTI. Pembahasannya meliputi strategi nasional pengendalian talasemia, akses layanan dan pembiayaan di era JKN, deteksi dini, tata laksana, hingga keberlanjutan pasokan darah bagi pasien.
Dr. Andi Saguni, M.A. dari Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya deteksi dini dan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Ia mengatakan tanpa skrining, talasemia dapat terus berulang antargenerasi, padahal risikonya bisa dikenali lebih awal melalui pemeriksaan yang tepat.
Aksi donor darah juga digelar untuk membantu menjaga persediaan darah bagi pasien talasemia mayor yang membutuhkan transfusi rutin. Melalui kampanye digital, pesan tentang pencegahan dan pentingnya skrining diharapkan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Berbagai kegiatan dalam peringatan World Thalassemia Day 2026 diarahkan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap talasemia. Upaya deteksi dini, edukasi, dan dukungan bagi pasien diharapkan dapat membantu memutus rantai talasemia di Indonesia.
Source: www.suara.com