Dorongan agar perusahaan lebih aktif melantai di bursa kembali menguat saat kebutuhan pembiayaan nasional terus membesar. Di tengah proyeksi dana yang dibutuhkan mencapai Rp 7.400 triliun pada 2026, pasar modal diminta bergerak lebih cepat agar sumber pendanaan tidak terlalu bertumpu pada satu jalur saja.
Airlangga Hartarto menilai penawaran umum perdana saham atau IPO perlu diperkuat sebagai salah satu pintu penggalangan dana yang lebih luas. Menurutnya, pasar modal harus masuk lebih dalam untuk menyerap dana segar, terutama ketika ketidakpastian global masih membayangi kebutuhan pembiayaan ekonomi.
Pipeline IPO masih tertahan
Di saat kebutuhan dana meningkat, laju pencatatan saham perdana di bursa belum menunjukkan percepatan yang berarti. Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia hingga 17 April 2026, baru satu perusahaan yang resmi melantai di pasar modal, yaitu PT BSA Logistic Indonesia Tbk (WBSA).
Dari IPO tersebut, dana yang berhasil dihimpun baru mencapai Rp 0,30 triliun. Pada saat yang sama, masih ada 16 perusahaan yang berada dalam antrean pencatatan saham, sehingga ruang percepatan dinilai masih terbuka lebar.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa suplai emiten baru belum sejalan dengan kebutuhan pembiayaan yang terus berkembang. Karena itu, IPO dipandang bukan sekadar agenda korporasi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga ketersediaan modal jangka panjang bagi dunia usaha.
Kebutuhan dana nasional terus naik
Tekanan untuk memperluas sumber pendanaan muncul karena kebutuhan investasi nasional diperkirakan melonjak dalam beberapa tahun ke depan. Angka kebutuhan pembiayaan diproyeksikan mencapai Rp 7.400 triliun pada 2026 dan naik menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029.
Besarnya kebutuhan itu menunjukkan bahwa pembiayaan ekonomi tidak dapat mengandalkan satu sumber saja. Dukungan pasar modal, sektor swasta, masyarakat, dan jasa keuangan dibutuhkan agar arus dana tetap terjaga dan aktivitas ekonomi tidak tersendat.
Di sisi lain, investasi sektor riil pada triwulan I-2026 tercatat Rp 498,79 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 7,22 persen dan menyerap 706.000 tenaga kerja, sehingga ketersediaan pembiayaan yang sehat tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan ekonomi.
Isi antrean calon emiten didominasi perusahaan besar
Dokumen pipeline BEI menunjukkan sebagian besar calon emiten berasal dari perusahaan dengan aset besar. Ada 11 perusahaan yang memiliki aset di atas Rp 250 miliar, sementara lima perusahaan lainnya masuk kategori aset menengah.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa calon penghimpun dana di bursa datang dari beragam sektor strategis. Sektor konsumsi dan kesehatan menjadi yang paling dominan, lalu disusul teknologi, infrastruktur, energi, dan finansial.
Sebaran itu penting karena menunjukkan bahwa IPO tidak hanya menyentuh satu bidang usaha. Jalur ini juga berpotensi memperluas akses pembiayaan pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan ekonomi riil.
Pasar modal diminta ambil peran lebih besar
Dalam situasi pembiayaan yang makin besar, pasar modal dituntut memainkan peran yang lebih kuat sebagai penyedia dana jangka panjang. Peran itu dinilai penting agar perusahaan memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh modal, terutama saat kondisi global masih tidak menentu.
Airlangga menekankan bahwa pipeline IPO tidak seharusnya tertahan terlalu lama. Percepatan pencatatan saham dinilai dapat membantu memperluas basis pendanaan dan memperkuat daya dukung pasar modal terhadap ekonomi nasional.
Dengan kebutuhan pembiayaan yang terus naik, tekanan kepada pasar modal untuk bergerak cepat menjadi semakin nyata. Keterlibatan sektor swasta dan jasa keuangan pun ikut menjadi penopang agar pembiayaan nasional tetap tersedia dan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dapat terus dipenuhi.
