Impor alumina China melonjak menjadi 338.000 ton pada bulan lalu setelah arus pengiriman dari Teluk Persia terganggu. Kenaikan ini menunjukkan bagaimana gangguan di jalur utama Timur Tengah langsung mengubah arah perdagangan bahan baku aluminium, sekaligus mempertebal pasokan di pasar China.
Di saat sebagian kargo yang semula mengarah ke smelter Timur Tengah bergeser ke Beijing, smelter domestik China masih bisa menjaga margin. Impor bersih alumina China juga naik menjadi 129.000 ton, level tertinggi sejak awal 2024, yang menandakan pasokan yang masuk bukan sekadar dalam jumlah besar, tetapi benar-benar menambah stok di dalam negeri.
Jalur Hormuz yang tersendat mengubah arus barang
Gangguan itu bermula ketika pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti. Rute ini selama ini menjadi jalur penting bagi produsen di Timur Tengah untuk memasok bahan baku dan produk hilir aluminium ke pasar internasional.
Tekanan pada jalur tersebut membuat sebagian kargo yang sudah siap kirim tidak lagi bergerak seperti biasa. Dalam situasi seperti itu, China muncul sebagai tujuan yang mampu menyerap volume besar karena industri pengolahan logamnya masih aktif.
Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar 9 persen produksi aluminium dunia. Saat distribusi terganggu, dampaknya tidak berhenti pada pengiriman yang tertunda, tetapi juga mengubah aliran suplai secara global.
Pasokan melimpah menekan harga internasional
Masuknya alumina dalam jumlah besar ke China ikut memberi tekanan pada pasar internasional. Harga acuan alumina di Australia Barat kini diperdagangkan mendekati titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Kondisi tersebut mencerminkan kelebihan pasokan yang muncul ketika distribusi dari kawasan konflik tersendat. Di sisi lain, para analis melihat arus barang ke China masih berpeluang bertambah dalam beberapa bulan ke depan.
Liu Yang dari Beijing Aladdiny Zhongying Business Consulting Co. menilai pengiriman akan terus meningkat karena smelter aluminium di Timur Tengah membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali beroperasi, bahkan setelah perang berakhir. Artinya, penyesuaian pasokan tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Smelter China masih diuntungkan
Bagi smelter China, situasi ini justru memberi ruang untuk tetap memperoleh margin yang sehat. Pasokan alumina yang memadai membantu operasional produsen, terutama ketika harga bahan baku bergerak turun akibat aliran suplai yang membesar.
Kondisi itu menjadi kontras dengan gangguan besar yang terjadi di jalur perdagangan. Di saat wilayah pengirim menghadapi hambatan, pembeli di China mendapatkan akses pada bahan baku dalam volume yang lebih tinggi.
Michelle Leung juga mencatat adanya sumber permintaan baru seperti kendaraan listrik dan kecerdasan buatan. Namun, secara keseluruhan, konsumsi aluminium masih tertahan oleh industri konstruksi yang terpukul krisis properti China.
Permintaan belum mengejar laju pasokan
Di dalam negeri, permintaan aluminium belum tumbuh secepat pasokannya. Ekonomi yang melambat membuat tambahan suplai tidak langsung terserap penuh oleh pasar domestik.
Kondisi ini ikut menjelaskan mengapa impor alumina yang tinggi tidak segera menimbulkan tekanan besar pada smelter. Selama produksi tetap kuat dan pasokan bahan baku tersedia, produsen masih bisa mempertahankan daya tahan bisnisnya.
Pada saat yang sama, China berpotensi semakin penting sebagai pusat penyerapan alumina dari gangguan pasokan Timur Tengah. Dengan pemulihan produksi di kawasan terdampak yang diperkirakan berjalan lambat, perubahan pola perdagangan seperti ini masih bisa berlanjut dan menjaga tekanan harga global tetap terasa.







