Ciu Bekonang Tetap Masuk Daftar WBTb, Revisi Administrasi Tak Ubah Statusnya

Author: Redaksi Android62

Ciu Bekonang tetap tercatat dalam 38 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2026 tahap I dari Jawa Tengah, meski masih ada penyempurnaan administrasi yang perlu dibereskan. Penetapan itu memberi pengakuan resmi pada tradisi penyulingan molase menjadi alkohol yang telah lama hidup di Kabupaten Sukoharjo.

Di antara seluruh usulan yang ditetapkan, Ciu Bekonang menjadi salah satu dari tiga yang memerlukan revisi. Namun, statusnya sebagai bagian dari WBTb Indonesia 2026 tahap I tidak berubah dan tetap sah diumumkan.

Alasan revisi hanya menyangkut administrasi

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Hanung Triyono, menjelaskan bahwa Ciu Bekonang membutuhkan perubahan domain sehingga deskripsinya harus disesuaikan. Menurut dia, revisi itu tidak memengaruhi hasil penetapan yang sudah diumumkan.

Hanung menegaskan penyempurnaan tersebut hanya terkait kerapian administrasi. Artinya, pengakuan atas tradisi itu tetap berjalan sebagaimana keputusan yang sudah ditetapkan.

Pengakuan untuk budaya yang masih hidup di masyarakat

Hanung menyebut penetapan 38 warisan budaya itu sebagai bentuk pengakuan terhadap budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Ia menilai proses ini juga menunjukkan kuatnya kolaborasi pelestarian budaya di tingkat kabupaten dan kota.

Ia menyampaikan apresiasi kepada para maestro, budayawan, akademisi, masyarakat, serta pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah yang selama ini menjaga warisan budaya lintas generasi. Menurutnya, pengakuan ini sejalan dengan spirit inklusivitas ekosistem perlindungan budaya di daerah.

Dua usulan lain juga perlu penyesuaian

Selain Ciu Bekonang, dua usulan lain yang juga memerlukan penyempurnaan ialah Tata Rias Pengantin Srimpi Pekalongan dan Soto Tauto Pekalongan. Keduanya membutuhkan penegasan nama dan penyesuaian deskripsi, tetapi tetap masuk dalam WBTb Indonesia 2026 tahap I.

Dengan demikian, tiga usulan itu hanya menjalani revisi administratif tanpa mengubah hasil penetapan. Status pengakuannya tetap sama seperti daftar yang sudah diumumkan.

Sebaran 38 warisan budaya Jawa Tengah tahap I

Daftar 38 warisan budaya ini memperlihatkan sebaran tradisi Jawa Tengah yang sangat luas, mulai dari ritual, kuliner, seni pertunjukan, hingga kerajinan dan adat. Sebagian besar nama yang masuk daftar juga menunjukkan kekayaan budaya daerah yang masih hidup di tengah masyarakat.

No Warisan Budaya Daerah
1 Ritual Adat Ujungan Banjarnegara
2 Keramik Klampok Banjarnegara
3 Tari Jangkrik Ngentir Boyolali
4 Reog Campur Bawur Lereng Merapi Merbabu Boyolali
5 Pande Besi Koripan Klaten
6 Bersih Sendang Sinongko Klaten
7 Sega Penek Purworejo
8 Clorot Purworejo
9 Wayang Gagrak Bagelenan Purworejo
10 Serabi Ngampin Semarang
11 Tempe Alakathak Sukoharjo
12 Slametan Gangsa Ageng Sukoharjo
13 Ciu Bekonang Sukoharjo
14 Wedang Ronde Kota Salatiga
15 Sambal Tumpang Koyor Kota Salatiga
16 Garam Rebus Brebes
17 Ingkungan Syuran Banyumudal Kebumen
18 Tradisi Moci Tegal
19 Balo-Balo Kota Tegal
20 Kupat Sewu Temanggung
21 Batik Wonogiren Wonogiri
22 Srandul Wonogiri
23 Balon Tradisional Wonosobo
24 Bucu Pendem Wadaslintang Wonosobo
25 Topeng Wonosaban Wonosobo
26 Tata Rias Srimpi Pesisiran Kota Pekalongan
27 Soto Tauto Kota Pekalongan
28 Lampion Teng-Tengan Kota Semarang
29 Lenjongan Kota Solo/Surakarta
30 Pengantin Solo Putri Kota Solo
31 Asal-Usul Nama Pasar Antik Triwindu Kota Solo
32 Bakmi Toprak Kota Solo
33 Hajad Dalem Malem Selikuran Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Kota Solo
34 Ngantih Tumanggal Purbalingga
35 Ngalungi Sapi Blora
36 Mino Banyumas
37 Bongkel Banyumas
38 Sumpil Kendal

Penetapan ini juga menegaskan bahwa warisan budaya di Jawa Tengah tersebar merata di banyak daerah. Bagi masyarakat Sukoharjo, masuknya Ciu Bekonang menjadi penanda bahwa tradisi lokal yang masih dipraktikkan turut mendapat ruang dalam perlindungan budaya nasional.

Hanung berharap penetapan ini mendorong masyarakat semakin kompak menjaga dan mewariskan kekayaan budaya kepada generasi berikutnya. Ia menilai gotong royong tetap menjadi kunci agar Jawa Tengah terus dikenal sebagai lumbung budaya.

Source: jateng.harianjogja.com
Berita Terbaru