Delapan Titik Jalur Disisir Polda Jatim, TAA Ungkap Arah Penyebab Tabrakan Dhoho di Blitar

Author: Redaksi Android62

Polda Jawa Timur membuka rekonstruksi berbasis analisis kecelakaan lalu lintas atau TAA untuk mengurai tabrakan antara kereta api Dhoho dan dump truk di perlintasan Jalan Imam Bonjol, Kota Blitar. Proses ini dilakukan dengan pemindaian detail di sejumlah titik agar penyidik mendapat gambaran utuh tentang apa yang terjadi di lokasi benturan.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Jatim, AKBP Septa Firmansyah, menegaskan bahwa pemeriksaan diarahkan pada dua hal pokok, yakni kondisi jalan dan kemungkinan human error. Dari titik itu, penyidik berupaya memastikan apakah sumber persoalan berasal dari kontur jalur atau dari faktor manusia yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Pemindaian dilakukan di delapan titik

Dalam olah tempat kejadian perkara, petugas tidak hanya memusatkan perhatian pada satu area benturan. Tim justru menyisir delapan titik di sepanjang lintasan kereta sebelum lokasi tabrakan untuk menangkap kondisi jalan secara lebih lengkap.

Langkah ini penting karena data lapangan yang terkumpul dari beberapa titik bisa membantu membangun ulang urutan kejadian dengan lebih akurat. Dengan begitu, penyidik memperoleh dasar yang lebih kuat untuk membaca posisi kereta api dan dump truk saat insiden berlangsung.

Alat pemindai bantu rekam kondisi lapangan

Petugas menggunakan alat pemindai atau scanner untuk merekam bentuk jalur, kendaraan, dan area sekitar lokasi kejadian. Hasil pemindaian visual tersebut dibutuhkan agar kondisi di lapangan bisa direkonstruksi secara digital.

Septa menjelaskan bahwa kereta api, jalan, dan dump truk sama-sama dipindai agar bentuk aslinya terdokumentasi dengan lengkap. Visualisasi kereta api juga sudah tersedia, sehingga proses analisis dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Fokus pada kecepatan dan urutan kejadian

Selain merekam bentuk lokasi, tim juga menghitung kecepatan kendaraan sebelum tabrakan terjadi. Informasi ini menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana rangkaian peristiwa bisa berujung pada benturan di perlintasan tersebut.

Data kecepatan membantu penyidik menilai posisi masing-masing kendaraan saat mendekati titik kejadian. Dari sana, gambaran teknis mengenai kronologi tabrakan bisa disusun secara lebih terukur, bukan hanya berdasarkan pengamatan kasatmata.

Rekonstruksi digital untuk baca penyebab insiden

Data dari delapan titik pemindai kemudian digabungkan untuk membentuk rekonstruksi digital lokasi. Hasil gabungan ini memberi ruang bagi penyidik untuk melihat kembali situasi sebelum dan saat benturan terjadi.

Pendekatan tersebut sekaligus membantu menilai apakah ada kesalahan pengemudi, persoalan pada jalur, atau kombinasi dari beberapa faktor. Pemeriksaan tidak berhenti pada dugaan awal, melainkan mengandalkan hasil pengukuran di lapangan yang bisa dibandingkan dengan kondisi nyata.

Polda Jatim menempatkan TAA sebagai alat penting untuk memperjelas kronologi teknis tabrakan kereta Dhoho dan dump truk di Blitar. Dengan pemindaian menyeluruh dan rekonstruksi digital, penyidik memiliki dasar yang lebih rinci untuk membaca bagaimana insiden di Jalan Imam Bonjol itu terjadi.

Source: persadablitar.id
Berita Terbaru