Deteko hadir sebagai minuman fungsional yang menyasar masyarakat dengan risiko sindrom metabolik, sebuah kondisi yang kerap berkaitan dengan gangguan jantung. Produk ini memadukan teh hijau dan kopi hijau yang telah melalui proses dekafeinasi agar manfaat bahan tetap terjaga, tetapi kadar kafeinnya turun.
Keberadaan Deteko menjadi menarik karena diarahkan bukan hanya sebagai minuman pendamping, melainkan sebagai pilihan konsumsi yang dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan jantung. Prof. Mohammad Saifur Rohman, Guru Besar sekaligus Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, menyebut konsumsi dua kali sehari dapat membantu menurunkan tensi, kegemukan, kolesterol, serta risiko serangan jantung ke depan.
Ditujukan untuk risiko sindrom metabolik
Sindrom metabolik mencakup obesitas sentral atau perut buncit, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, trigliserida tinggi, dan rendahnya kolesterol baik atau HDL. Kondisi ini perlu diwaspadai karena jumlah penderitanya disebut terus bertambah dan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Dalam penjelasannya, Prof. Saifur menempatkan Deteko sebagai minuman yang bisa disandingkan dengan obat-obatan yang tersedia di pasaran. Sasaran utamanya adalah kelompok yang membutuhkan pendekatan konsumsi yang lebih dekat dengan kebiasaan sehari-hari, tetapi tetap diarahkan pada manfaat kesehatan.
Proses dekafeinasi menjadi pembeda utama
Keunggulan utama Deteko terletak pada kombinasi teh hijau dan kopi hijau yang telah didekafeinasi. Langkah ini diambil karena kafein dapat memicu jantung berdebar atau palpitasi.
Bagi orang dengan penyakit jantung, kondisi tersebut bisa berbahaya karena berpotensi memunculkan sesak, serangan jantung, hingga pingsan. Karena itu, penurunan kadar kafein menjadi bagian penting dari rancangan produk ini tanpa menghilangkan kandungan dan manfaat utama bahan bakunya.
| Aspek | Keterangan | Catatan |
|---|---|---|
| Bahan utama | Teh hijau dan kopi hijau | Dikombinasikan dalam satu produk |
| Proses | Dekafeinasi | Untuk menurunkan kadar kafein |
| Target pengguna | Masyarakat dengan sindrom metabolik | Termasuk yang berisiko penyakit jantung |
| Frekuensi konsumsi | 2 kali sehari | Disebut dalam penjelasan Prof. Saifur |
Riset 12 tahun dan puluhan publikasi
Pengembangan Deteko tidak berlangsung singkat. Prof. Saifur menyebut risetnya telah berjalan selama 12 tahun dan menghasilkan sedikitnya 36 publikasi ilmiah internasional.
Ia juga mengatakan bahwa timnya menerbitkan setidaknya tiga jurnal internasional setiap tahun. Bekal riset itu menjadi dasar ilmiah yang disiapkan sebelum produk ini diperkenalkan ke publik.
Masuk tahap hilirisasi dan perluasan pasar
Saat ini Deteko telah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga atau PIRT. Tahap berikutnya adalah mengupayakan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM agar jangkauan pasarnya dapat lebih luas.
Untuk itu, Prof. Saifur menekankan perlunya kolaborasi dengan penghasil teh atau kopi serta pihak yang dapat membantu pemasaran. Ia juga membuka peluang kerja sama hilirisasi dengan pabrik-pabrik dan berharap bisa menghadirkan kedai untuk memperkenalkan Deteko ke masyarakat.
Dengan bekal riset panjang, izin PIRT, dan fokus pada kelompok berisiko sindrom metabolik, Deteko diposisikan sebagai produk yang mencoba menjembatani kebiasaan minum harian dengan kebutuhan kesehatan jantung. Arah pengembangannya kini bergantung pada kelanjutan izin serta dukungan kemitraan di sisi produksi dan pemasaran.
