Dokter Meluncur, Konser IV Anastasis Perlihatkan Seringai Tetap Bergerak Tanpa Ricky

Author: Redaksi Android62

Konser peluncuran album IV: ANASTASIS di M Bloc Live House, Jakarta, Kamis (23/3/2026), langsung memberi jawaban atas pertanyaan besar para penggemar soal masa depan Seringai. Band ini tampil lagi di panggung besar dengan susunan baru setelah kepergian gitaris Ricky Siahaan pada April 2025, dan malam itu menunjukkan bahwa perjalanan mereka belum berhenti.

Keputusan Seringai tetap melaju terasa jelas sejak awal pertunjukan. Dengan materi anyar dan formasi live yang lebih lebar, konser itu memperlihatkan bahwa band berusaha menjaga energi panggung tanpa menghilangkan karakter yang selama ini melekat pada mereka.

Formasi baru yang mengisi panggung lebih penuh

Seringai tampil dengan lima personel pada malam itu. Dua gitaris tambahan, Angga Kusuma dan Darma Respati, bergabung bersama Arian 13, Sammy, dan Edy Khemod untuk mengisi susunan yang terasa lebih padat dibandingkan format sebelumnya.

Kehadiran dua gitaris baru itu memberi warna berbeda pada permainan lagu-lagu Seringai. Chemistry antarpersonel juga terlihat terjaga, sehingga format ini tidak muncul sebagai langkah darurat, melainkan sebagai adaptasi panggung yang sudah disusun dengan matang.

Pembuka konser yang punya lapisan emosional

Jelang Seringai naik panggung sekitar pukul 20.00, acara lebih dulu dibuka oleh BongaBonga, Masakre, dan Stepforward. Runutan penampil ini menambah konteks emosional karena Ricky Siahaan pernah menjadi gitaris di Stepforward.

Stepforward tampil bersama Jill, Fajar, dan Junas, lalu membawa gitaris baru mereka, Roma Sophiaan, yang juga dikenal sebagai salah satu sahabat dekat Ricky Siahaan. Susunan itu membuat malam peluncuran album terasa lebih luas dari sekadar konser biasa, karena ada unsur sejarah dan pertemanan yang ikut hadir di dalamnya.

Setlist yang merangkum arah lama dan baru

Saat masuk ke aksi utama, Seringai membuka penampilan dengan Intro dan “Program Party Seringai”. Setelah itu, lagu-lagu lama seperti “Berhenti di 15”, “Mengadili Persepsi”, dan “Akselerasi Maksimum” dibawakan untuk menjaga benang merah dengan materi yang sudah lama dikenal pendengar.

Band kemudian mengalihkan perhatian ke dua lagu dari album baru, yaitu “Melunaskan Dendam” dan “Membungkam 98”. Komposisi ini memperlihatkan keseimbangan yang dijaga Seringai, antara identitas lama yang sudah mapan dan materi baru yang menandai fase berikutnya.

Momen hening saat “Akar” dimainkan

Salah satu bagian paling kuat malam itu muncul ketika Seringai membawakan “Akar”. Lagu tersebut ditulis oleh Ricky Siahaan dan masuk dalam IV: ANASTASIS, sehingga penampilannya langsung membawa nuansa personal yang lebih dalam.

Suasana ruangan berubah hening ketika gitar akustik Angga Kusuma mengiringi visual yang menampilkan gambar gitar Gibson SG dan topi yang kerap dipakai Ricky. Di titik itu, “Akar” tidak hanya terdengar sebagai lagu baru, tetapi juga sebagai penanda jejak Ricky yang tetap hidup dalam karya Seringai.

Penutup yang ditujukan langsung ke ingatan Ricky

Konser ditutup dengan “Selamanya”, dan bagian akhir ini kembali menegaskan sisi emosional malam tersebut. Visual latar menampilkan foto Ricky Siahaan bersama gitar kesayangannya, membuat penampilan pamungkas terasa seperti penghormatan yang terang-terangan kepada sosok yang sangat lekat dengan identitas band.

Dalam satu malam, Seringai memperlihatkan bahwa mereka bisa bergerak ke fase baru tanpa memutus hubungan dengan masa lalu. IV: ANASTASIS hadir bukan hanya sebagai album terbaru, tetapi juga sebagai ruang bagi band untuk menampilkan susunan panggung yang segar sambil tetap memberi tempat besar bagi ingatan tentang Ricky Siahaan.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru