Dokter Tegaskan Diabetes Belum Bisa Hilang Permanen, Remisi Bukan Sembuh Total

Author: Redaksi Android62

Banyak orang dengan diabetes berharap gula darah yang kembali normal menjadi tanda penyakitnya telah hilang. Namun, dokter menegaskan bahwa kondisi itu tidak otomatis berarti diabetes sembuh total, karena ada perbedaan penting antara penyakit yang terkontrol dan penyakit yang benar-benar hilang permanen.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof Em Yunir, menjelaskan bahwa diabetes hingga saat ini belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Yang bisa dicapai adalah pengendalian yang baik, terutama bila pasien disiplin menjalani perubahan pola makan, rutin bergerak, dan mengikuti terapi yang dianjurkan dokter.

Terkontrol, remisi, dan sembuh bukan hal yang sama

Dalam penanganan diabetes, istilah yang dipakai perlu dipahami dengan tepat. Gula darah yang stabil karena obat, pola hidup sehat, atau kombinasi keduanya lebih tepat disebut terkontrol.

Jika kadar gula darah normal dalam periode tertentu dengan pengawasan medis, kondisi itu dapat digambarkan sebagai remisi. Sementara itu, sembuh total belum dapat dipastikan pada diabetes karena risiko kambuh tetap ada bila kebiasaan lama kembali.

Mengapa diabetes sulit dianggap sembuh permanen

Prof Yunir menyoroti bahwa diabetes berkaitan erat dengan inflamasi di tubuh. Salah satu pemicunya adalah penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut, yang kemudian memicu resistensi insulin.

Saat resistensi insulin terjadi, insulin tidak bekerja secara optimal. Akibatnya, gula dari makanan lebih sulit diproses tubuh dan kadar gula darah mudah naik.

Ia memberi gambaran sederhana: ketika kebutuhan tubuh hanya 1.500 kalori tetapi asupan mencapai 2.000 kalori, kelebihan energi itu ikut mendorong kenaikan gula darah. Karena itu, penanganan diabetes tidak cukup hanya menurunkan gula darah sesaat, tetapi juga harus memperbaiki sumber masalahnya.

Langkah yang paling berpengaruh dalam pengendalian diabetes

Fokus terapi saat ini masih diarahkan pada perbaikan inflamasi melalui penurunan berat badan dan pengurangan lemak tubuh. Cara ini dapat membantu menurunkan resistensi insulin dan membuat kontrol gula darah menjadi lebih baik.

Berikut langkah yang paling ditekankan dalam pengelolaan diabetes:

  1. Membatasi asupan kalori agar tidak berlebihan.
  2. Rutin berolahraga dan menjaga tubuh tetap aktif.
  3. Menurunkan berat badan bila mengalami kelebihan lemak tubuh.
  4. Mengikuti pengobatan sesuai arahan dokter.
  5. Memantau gula darah secara berkala.

Prof Yunir menegaskan bahwa disiplin menjadi faktor penentu. Jika pola makan kembali berlebihan dan aktivitas fisik menurun, gula darah dapat naik lagi meski sebelumnya sempat normal.

Hasil baik belum berarti penyakit hilang

Dalam beberapa program penelitian, termasuk yang disebut dilakukan di Thailand, pasien menjalani pola makan terstruktur dan olahraga ketat selama sekitar tiga bulan. Pada kondisi itu, gula darah bisa kembali normal dan obat dapat dihentikan dengan pengawasan dokter.

Meski demikian, hasil tersebut belum membuktikan diabetes benar-benar hilang selamanya. Kondisi pasien masih membutuhkan pemantauan ketat karena perubahan gaya hidup menjadi penentu utama apakah gula darah tetap stabil atau kembali memburuk.

Skrining dini masih menjadi tantangan

Di sisi lain, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyoroti rendahnya kebiasaan pemeriksaan kesehatan di masyarakat. Ia menyebut baru sekitar 10 persen orang yang rutin melakukan cek kesehatan.

Nadia mendorong pemanfaatan program Cek Kesehatan Gratis sebagai langkah awal skrining diabetes. Deteksi dini dinilai penting agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat sebelum komplikasi berkembang.

Beban kesehatan dan risiko komplikasi terus meningkat

Nadia juga mengingatkan bahwa diabetes ikut menambah beban pembiayaan kesehatan. Berdasarkan data BPJS yang ia sampaikan, kasus diabetes mellitus naik 40 persen, sedangkan biaya untuk gagal ginjal melonjak hingga 476 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa diabetes bukan hanya persoalan kadar gula darah. Penyakit ini juga berkaitan dengan risiko komplikasi serius, seperti gagal ginjal, penyakit jantung, dan gangguan pembuluh darah.

Pada tahap awal, diabetes sering berkembang tanpa gejala khas. Karena itu, orang dengan obesitas, kurang aktivitas fisik, riwayat keluarga diabetes, dan pola makan tinggi kalori perlu lebih waspada terhadap kondisi kesehatannya. Dengan pemeriksaan rutin, edukasi yang tepat, serta kepatuhan pada terapi dan perubahan gaya hidup, diabetes tetap bisa dikendalikan dalam jangka panjang.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru