DPK Amar Bank Melonjak 115,52%, Laba Tembus Rp71,11 Miliar Di Tengah NPL Turun

Author: Redaksi Android62

Kualitas aset Amar Bank justru membaik di tengah laju ekspansi kredit yang kencang. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan turun menjadi 0,86% dari 1,48% pada Maret 2025, menandakan pertumbuhan pembiayaan masih berada dalam kendali.

Pencapaian itu memberi warna penting pada kinerja kuartal I/2026, saat bank membukukan laba bersih Rp71,11 miliar. Angka tersebut naik 5,37% dibandingkan Rp67,49 miliar pada periode yang sama tahun lalu, menunjukkan pertumbuhan bisnis tetap berjalan tanpa mengorbankan disiplin risiko.

Kredit menjadi penggerak utama

Hingga Maret 2026, penyaluran kredit Amar Bank mencapai Rp4,16 triliun. Nilai itu tumbuh 30,62% secara tahunan dari Rp3,18 triliun dan menjadi pendorong utama kenaikan aset perseroan.

Sejalan dengan itu, total aset bank ikut naik 34,72% year on year menjadi Rp6,93 triliun. Amar Bank menilai ekspansi pembiayaan yang solid membantu memperluas pangsa pasar, terutama di segmen-segmen dengan imbal hasil tinggi.

Pendapatan inti ikut ikut terkerek

Dari sisi operasional, Amar Bank mencatat pendapatan operasional sebesar Rp527,76 miliar. Angka ini tumbuh 13,82% secara tahunan dan memberi dukungan tambahan bagi perolehan laba.

Di saat yang sama, pendapatan bunga bersih atau net interest income naik 15,58% menjadi Rp370,20 miliar. Kombinasi pertumbuhan pendapatan operasional dan pendapatan bunga bersih membuat bisnis inti bank tetap berada dalam jalur yang sehat.

Direktur Utama Amar Bank Vishal Tulsian menyebut capaian itu mencerminkan strategi bank dalam memperkuat basis pendanaan, menjaga kualitas kredit, dan memperluas hubungan dengan nasabah. Ia juga menilai profitabilitas perusahaan didukung oleh struktur pendanaan yang berkelanjutan.

Dana pihak ketiga melompat tajam

Penguatan pendanaan terlihat jelas dari lonjakan dana pihak ketiga yang tumbuh 115,52% secara tahunan menjadi Rp2,91 triliun. Pada kuartal I/2025, posisi dana pihak ketiga bank tercatat Rp1,35 triliun.

Kenaikan dana pihak ketiga itu membuat rasio loan to deposit ratio atau LDR membaik menjadi 142,56%. Sebelumnya, rasio tersebut berada di 235,04% pada periode yang sama tahun lalu.

Perbaikan LDR memberi bantalan likuiditas yang lebih baik bagi ekspansi kredit. Dengan struktur pendanaan yang lebih seimbang, bank memiliki ruang lebih besar untuk bertumbuh tanpa memberi tekanan berlebihan pada neraca.

Ruang modal masih sangat lapang

Selain pendanaan dan kualitas aset, modal Amar Bank juga tercatat sangat kuat. Capital adequacy ratio atau CAR perseroan berada di level 99,17%, jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Posisi modal sebesar itu memberi ruang besar bagi bank untuk melanjutkan ekspansi. Ruang tersebut juga dapat menopang investasi pada teknologi, pengembangan produk digital, dan penguatan manajemen risiko.

Untuk tahun ini, Amar Bank memusatkan perhatian pada tiga area utama. Fokus itu meliputi retail dan UMKM, pengembangan ekosistem embedded banking & financing, serta dukungan terhadap industri kreatif.

Dengan laba yang tetap tumbuh, kredit yang melaju, pendanaan yang menguat, dan risiko yang menurun, Amar Bank memulai tahun dengan fondasi yang terlihat lebih kokoh. Kombinasi itu menjadi modal penting bagi langkah pertumbuhan berikutnya.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru