Hasil PCR Negatif Buka Jalan Karantina Mandiri, Kemenkes Tetap Pantau Kontak Erat Hantavirus

Author: Redaksi Android62

Hasil pemeriksaan PCR terhadap kontak erat kasus hantavirus dari kapal MV Hondius dinyatakan negatif, dan temuan itu menjadi dasar penting bagi opsi isolasi mandiri. Kementerian Kesehatan menegaskan, langkah tersebut sejalan dengan panduan WHO untuk kontak erat yang tidak menunjukkan hasil positif.

Meski begitu, pemantauan terhadap para kontak erat masih terus dilakukan di RSPI Sulianti Saroso. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyampaikan bahwa pengawasan tetap berjalan sambil menunggu perkembangan kondisi mereka.

Andi mengatakan para kontak erat itu masih berada di Rumah Sakit Infeksi Sulianti Saroso setelah konferensi pers di Auditorium Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat. Ia juga menyoroti bahwa ada kontak erat yang tempat tinggalnya dinilai layak untuk isolasi mandiri.

Menurut dia, fasilitas tersebut berada di apartemen dengan tingkat pengamanan dan kelengkapan yang memadai. Karena itu, isolasi mandiri dinilai sangat memungkinkan dilakukan selama tetap mengikuti prosedur yang berlaku.

PCR negatif dan panduan WHO

Kemenkes menempatkan hasil PCR negatif sebagai dasar yang cukup untuk menjalani karantina mandiri. Andi menjelaskan, panduan WHO memang memperbolehkan isolasi atau karantina mandiri bagi kontak erat yang hasil pemeriksaannya negatif.

Pernyataan itu menegaskan bahwa pemeriksaan laboratorium menjadi acuan awal dalam menentukan penanganan lanjutan bagi orang yang pernah terpapar. Dengan hasil negatif, penanganan tidak selalu harus dilakukan di fasilitas perawatan, selama kondisi dan tempat tinggal mendukung.

Pengawasan pintu masuk internasional diperketat

Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat pengawasan di pintu masuk internasional melalui 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan atau BKK. Unit yang sebelumnya dikenal sebagai Kantor Karantina Kesehatan itu memiliki tugas utama mencegah masuk dan menyebarnya penyakit menular dari luar negeri.

Andi menekankan pentingnya pengawasan ini ketika ada peningkatan kasus yang berpotensi menjadi wabah di negara lain. Karena itu, pelaku perjalanan dari negara atau wilayah yang teridentifikasi berisiko mendapat perhatian lebih intensif.

Kasus hantavirus disebut menjadi salah satu alasan mengapa kewaspadaan terhadap penumpang internasional tetap harus dijaga. Pemerintah ingin memastikan kemungkinan masuknya penyakit melalui jalur kedatangan internasional bisa dicegah sejak awal.

Skrining dilakukan di bandara dan pelabuhan

Pemeriksaan awal terhadap pelaku perjalanan dilakukan melalui thermal scanner di bandara dan pelabuhan internasional. Pemeriksaan suhu tubuh ini menjadi salah satu pintu skrining sebelum seseorang melanjutkan perjalanan di dalam negeri.

Selain itu, pemerintah juga memakai sistem digital kesehatan untuk pelaku perjalanan internasional lewat aplikasi All Indonesia. Sistem ini menggantikan formulir manual berbasis kertas yang sebelumnya digunakan dalam pelaporan kesehatan.

Andi menjelaskan, data yang diisi pelaku perjalanan dapat membantu otoritas kesehatan mengenali gejala yang mencurigakan lebih cepat. Jika ada kecenderungan seperti demam atau batuk berat, sistem dapat memberi sinyal awal bagi petugas.

Bila data mengarah pada penyakit tertentu, penumpang dapat langsung dirujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk pemerintah. Dengan begitu, penanganan medis bisa dilakukan lebih cepat sambil pengawasan kesehatan publik tetap berjalan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru