Di Australia, bebek telinga pink menempati posisi yang tidak biasa di antara burung air lain. Spesies ini bukan hanya terbatas sebarannya, tetapi juga punya cara makan yang membuatnya menonjol dari bebek pada umumnya.
Burung yang bernama ilmiah Malacorhynchus membranaceus ini dikenal lewat paruh panjang berwarna hitam dan bentuk tubuh yang relatif kecil. Panjang maksimalnya tercatat sekitar 45 sentimeter, sehingga penampilannya tampak ringkas dibanding banyak burung air lain.
Tanda paling mudah dikenali ada di bagian wajah. Di sekitar kepala terdapat corak cokelat, lalu ada bercak pink kecil di belakang mata yang menjadi ciri paling khas.
Bagian tubuh lain juga punya pola warna yang jelas. Tubuh bawahnya berwarna putih dengan garis cokelat tua yang rapat, sementara sayap bagian atas terlihat lebih cokelat terang dan bagian bawah ekornya cokelat dengan nuansa jingga.
Habitat bebek telinga pink tidak tersebar luas. Data BirdLife DataZone menyebut spesies ini hanya berada di Australia, dengan keberadaan menetap di beberapa wilayah seperti Perth dan Melbourne di Australia bagian selatan.
Di luar itu, burung ini lebih sering tercatat sebagai pengunjung musiman di wilayah lain. Ia bisa ditemukan di sungai, danau, kolam, area pesisir, hingga kawasan kering yang jarang menerima hujan.
Sebaran yang sempit membuat kehidupannya sangat bergantung pada kondisi lingkungan Australia. Saat habitat berubah, ruang hidup spesies ini ikut terpengaruh.
Soal makanan, bebek telinga pink juga berbeda dari gambaran bebek yang umum dikenal. Menurut JungleDragon, makanan utamanya adalah plankton, disertai hewan kecil seperti krustasea, moluska, dan serangga.
Bentuk paruhnya sangat mendukung kebiasaan itu. Paruh yang datar dan panjang membantu burung ini menyerok air lalu menyaring mikroorganisme yang ada di dalamnya.
Ada pula cara makan unik yang disebut vortexing. Dalam metode ini, dua ekor bebek berputar di satu titik sehingga makanan terkonsentrasi di area yang sama dan lebih mudah diambil.
Riwayat ilmiahnya juga menarik perhatian. Bebek telinga pink pertama kali dideskripsikan oleh John Latham pada 1801 dengan nama Anas membranacea sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam genus Malacorhynchus.
Kini, burung ini menjadi satu-satunya spesies yang masih hidup dari genus tersebut. Ada satu spesies lain, yaitu bebek scarlett atau Malacorhynchus scarletti dari Selandia Baru, tetapi spesies itu sudah punah.
Hubungan spesies ini dengan manusia tidak selalu menguntungkan. Di Australia, bebek telinga pink justru menjadi hewan buruan, dan Atlas of Living Australia mencatat perburuan itu terjadi di seluruh wilayah Australia kecuali Tasmania.
Dampaknya juga bukan sekadar soal jumlah populasi. Penelitian dalam jurnal Wildlife Research menemukan bahwa 6 hingga 19 persen bebek yang diburu dan berhasil selamat masih menyimpan peluru di dalam tubuhnya.
Kondisi tersebut memicu kecaman dari berbagai pihak. Di saat yang sama, ketergantungan bebek telinga pink pada habitat Australia membuat nasibnya tetap rapuh di tengah perubahan lingkungan.
Source: www.idntimes.com