Kepastian pasokan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri sudah diamankan hingga Desember, sehingga kebutuhan kilang tetap memiliki pegangan dalam jangka pendek. Pemerintah menempatkan kontrak pembelian ini sebagai langkah penting untuk menjaga suplai di tengah tekanan impor yang masih besar.
Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka menjadi dasar untuk memastikan ketersediaan crude tetap terjaga. Ia menegaskan pasokan minyak mentah untuk satu tahun ke depan sudah dipastikan, sehingga kebutuhan masyarakat maupun industri diharapkan tidak terganggu.
Pasokan jangka pendek masih terkendali
Menurut Bahlil, stok minyak mentah aman mulai bulan ini sampai Desember. Kepastian itu menjadi penting karena crude merupakan bahan baku utama bagi kilang dalam negeri, sehingga gangguan pasokan dapat berdampak langsung pada produksi BBM dan distribusi energi nasional.
Karena itu, pengamanan suplai dipandang sebagai prioritas pemerintah. Stabilitas pasokan dinilai perlu dijaga agar rantai pasok energi tidak mudah terganggu ketika kebutuhan dalam negeri tetap tinggi.
Kilang domestik ikut didorong lebih optimal
Setelah kepastian suplai jangka pendek didapat, perhatian pemerintah juga diarahkan ke penguatan kilang dalam negeri. Langkah ini diharapkan membuat kapasitas pengolahan minyak meningkat dan serapan crude di dalam negeri menjadi lebih besar.
Pemerintah melihat penguatan kilang sebagai salah satu cara untuk menekan ketergantungan pada impor yang masih tinggi. Meski impor belum bisa dihindari, kemampuan mengolah minyak di dalam negeri tetap menjadi bagian penting dari ketahanan energi nasional.
Sejumlah fokus yang sedang didorong mencakup kestabilan suplai crude, peningkatan operasi kilang, penyiapan jalur pasokan dari negara mitra, dan penjagaan ketahanan energi di tengah fluktuasi pasar global. Pendekatan ini menunjukkan strategi energi tidak bertumpu pada satu sumber pasokan saja.
Jalur impor baru tetap dibuka
Kementerian ESDM juga tengah membahas rencana impor minyak mentah, BBM, dan LPG dari Rusia. Tim dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi disebut sudah berada di Rusia untuk menjajaki skema kerja sama jangka panjang.
Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman mengatakan pembahasan masih berlangsung dan belum masuk ke volume pasti maupun mekanisme pengadaan akhir. Meski begitu, ia menilai komitmen Rusia untuk membuka kerja sama pasokan energi menjadi kabar positif bagi ketahanan energi Indonesia.
Pembahasan tersebut memperlihatkan upaya pemerintah untuk tidak bergantung pada satu negara pemasok. Diversifikasi sumber impor dinilai penting agar risiko gangguan pasokan bisa ditekan jika terjadi masalah di pasar global atau pada negara mitra tertentu.
Impor dari Amerika Serikat sudah berjalan
Selain Rusia, Indonesia juga sudah merealisasikan impor minyak mentah dari Amerika Serikat. Namun, pengadaan BBM dari negara tersebut belum berjalan, meski ada komitmen dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade yang diteken pada Februari.
Dalam dokumen itu, Indonesia disebut berkomitmen memfasilitasi pembelian produk energi dari Amerika Serikat dengan rincian LPG senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp59,13 triliun, minyak mentah senilai US$4,5 miliar atau Rp76,02 triliun, serta bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun. Nilai itu menunjukkan energi tetap menjadi bagian penting dalam hubungan dagang Indonesia dengan mitra strategis.
Ketergantungan impor masih tinggi
Data Badan Pusat Statistik mencatat impor minyak mentah Indonesia pada Januari hingga Februari mencapai 2,9 juta ton. Angka itu setara sekitar 3,43 juta kiloliter dan memperlihatkan bahwa pasokan dari luar negeri masih memegang peran besar dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.
Dengan kondisi tersebut, kontrak pasokan hingga Desember menjadi penopang penting untuk jangka pendek. Namun, selama kapasitas pengolahan domestik dan sumber pasokan belum sepenuhnya kuat, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan antara kepastian suplai, penguatan kilang, dan pembukaan jalur impor dari berbagai negara mitra.
