Investasi Hilirisasi Tembus Rp300,1 Triliun, Bauksit Kini Menyalip Nikel

Author: Redaksi Android62

Investasi hilirisasi Indonesia mencapai Rp300,1 triliun pada semester I 2026, setara 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional sebesar Rp1.010,6 triliun. Nilai tersebut memperlihatkan hampir sepertiga investasi nasional kini mengarah ke pengolahan komoditas di dalam negeri.

Capaian itu naik 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menilai tren ini menandakan penguatan hilirisasi di tengah pertumbuhan investasi yang lebih luas.

Mayoritas investasi berada di luar Jawa

Penyebaran investasi hilirisasi masih bertumpu di luar Pulau Jawa, dengan porsi mencapai 75,7 persen. Nilainya sekitar Rp227,3 triliun, sejalan dengan lokasi banyak bahan baku utama Indonesia.

Konsentrasi tersebut menunjukkan industri pengolahan berkembang dekat dengan wilayah penghasil sumber daya. Namun, pemerintah juga menekankan bahwa pengembangan sektor ini tidak cukup berhenti pada pengolahan awal.

Rosan menyatakan pemerintah mendorong rantai industri yang lebih lengkap, dari bahan mentah hingga produk bernilai tambah lebih tinggi. Model yang telah berkembang di ekosistem nikel menjadi salah satu arah pengembangan untuk komoditas lain.

Di sektor nikel, rantai produksi telah bergerak dari pengolahan bijih hingga pembuatan baterai kendaraan listrik secara terintegrasi. Pendekatan serupa akan diarahkan ke kelapa sawit, bauksit, karet, kayu, pasir silika, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan.

Mineral menjadi penopang utama

Sektor mineral menyerap investasi hilirisasi terbesar, mencapai Rp206,5 triliun pada semester I 2026. Angka itu jauh melampaui investasi pada sektor perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan.

Sektor Hilirisasi Nilai Investasi Komoditas Utama
Mineral Rp206,5 triliun Nikel, bauksit, tembaga, besi baja
Perkebunan dan kehutanan Rp54,4 triliun Kelapa sawit, kayu log, karet
Minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun Minyak bumi dan gas bumi
Perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun Garam, tuna, udang, rumput laut

Di dalam sektor mineral, nikel menyumbang Rp71 triliun, diikuti bauksit Rp53,8 triliun dan tembaga Rp37,4 triliun. Investasi pada besi baja mencapai Rp30,2 triliun, sedangkan pasir silika menyumbang Rp5,9 triliun.

Komoditas mineral lainnya mengumpulkan Rp8,2 triliun. Kelompok ini meliputi timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang.

Bauksit memimpin pada kuartal II

Pergeseran terjadi pada kuartal II 2026 ketika bauksit menjadi komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar, menggeser posisi nikel yang biasanya berada di urutan teratas. Investasi hilirisasi sepanjang kuartal tersebut tercatat Rp152,7 triliun atau 29,8 persen dari total realisasi investasi kuartalan.

Rosan menjelaskan perubahan itu berkaitan dengan beberapa proyek pembangunan bauksit oleh investor domestik dan asing. Pernyataan tersebut disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan pada Kamis, 16 Juli 2026.

Untuk sektor perkebunan dan kehutanan, kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar dengan Rp29,5 triliun. Kayu log menyerap Rp16,3 triliun, karet Rp5 triliun, sementara pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel menyumbang Rp3,6 triliun.

Di sektor minyak dan gas bumi, investasi minyak bumi mencapai Rp26,4 triliun dan gas bumi Rp9 triliun. Dari sisi asal modal, Hong Kong tercatat sebagai penyumbang investasi hilirisasi terbesar dengan Rp75,2 triliun, diikuti Singapura Rp65,7 triliun dan China Rp28,3 triliun.

Jepang menyumbang Rp8,7 triliun, sedangkan Amerika Serikat mencapai Rp8,1 triliun. Komposisi modal ini memperlihatkan bahwa pengembangan investasi hilirisasi tetap menarik bagi investor dari sejumlah negara dan wilayah.

Source: money.kompas.com
Berita Terbaru