Dedi Mulyadi menegaskan penolakannya terhadap cap “barbar” yang diarahkan kepada Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat itu menilai label tersebut tidak layak disematkan kepada masyarakat Jabar karena kehidupan sosial di daerah tersebut justru berjalan dalam suasana terbuka dan toleran.
Sikap tegas itu muncul setelah pernyataan Abu Janda yang menyebut Jawa Barat sebagai provinsi yang tidak toleran dan “barbar” ramai diperbincangkan publik. Di tengah sorotan tersebut, Dedi memilih merespons dengan bantahan langsung, tanpa memberi ruang bagi generalisasi yang dianggap merugikan nama baik warganya.
Masalah Tidak Bisa Digeneralisasi
Menurut Dedi, isu intoleransi yang kerap dilekatkan pada Jawa Barat tidak selalu menunjukkan adanya sikap yang mengakar di tengah masyarakat. Ia menilai banyak persoalan justru berawal dari miskomunikasi antarwarga, sehingga tidak tepat jika kemudian seluruh daerah disimpulkan bermasalah.
Dedi juga menyoroti bahwa konflik yang muncul biasanya terjadi di wilayah perkotaan. Di wilayah seperti itu, masyarakat cenderung lebih beragam, sehingga interaksi antara pendatang dan warga setempat menjadi lebih kompleks.
Ia menilai kondisi tersebut sering memunculkan gesekan yang kemudian dibaca terlalu jauh. Bahkan, Dedi menegaskan bahwa pelaku konflik yang kerap disorot tidak selalu warga asli Jawa Barat, sehingga penyamarataan terhadap seluruh masyarakat Jabar dinilai tidak adil.
Jawa Barat Dianggap Semakin Kondusif
Selain membantah label negatif tersebut, Dedi menyampaikan bahwa situasi sosial di Jawa Barat saat ini semakin kondusif. Ia menyebut potensi gesekan yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik juga terus menurun.
Bagi Dedi, fakta bahwa Jawa Barat tetap menjadi tempat tinggal dan tempat bekerja bagi banyak orang dari berbagai daerah menunjukkan bahwa provinsi itu terbuka. Mobilitas penduduk yang tinggi, menurut dia, menjadi salah satu tanda bahwa Jabar menerima kehadiran warga dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Dedi juga menekankan bahwa semua orang bisa hidup dengan nyaman di Jawa Barat. Ia melihat keberagaman justru sebagai kekuatan yang mendukung kehidupan sosial yang harmonis, bukan alasan untuk memberi cap keras kepada masyarakatnya.
Sorotan Publik yang Belum Reda
Polemik ini membuat cara memandang Jawa Barat kembali menjadi perbincangan. Di satu sisi, muncul tudingan tajam dari Abu Janda, sementara di sisi lain Dedi tampil membela Jabar dengan bantahan yang terbuka dan tegas.
Respons Dedi juga memperlihatkan upayanya menjaga nama baik Jawa Barat sekaligus mendorong publik melihat persoalan sosial secara lebih jernih. Dalam pandangannya, keterbukaan, toleransi, dan dinamika warga adalah gambaran yang lebih tepat untuk menjelaskan kondisi Jawa Barat hari ini.
Source: aceh.tribunnews.com