Kerja Sama Maritim Indonesia-Rusia Masuk Tahap Teknisi, Tiga Kelompok Kerja Disiapkan di Moskow

Author: Redaksi Android62

Indonesia dan Rusia mulai menata kerja sama maritim ke arah yang lebih teknis dan terukur. Dalam konsultasi bilateral di Moskow, kedua negara sepakat membentuk tiga kelompok kerja strategis agar agenda yang dibahas tidak berhenti di level pernyataan politik.

Kelompok kerja itu dibagi ke dalam tiga fokus. Satu kelompok menangani industri galangan kapal dan pelabuhan berkelanjutan, kelompok kedua membahas sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan, sedangkan kelompok ketiga mengurusi sumber daya manusia, riset, dan pelatihan.

Menko AHY memimpin langsung pertemuan konsultasi bilateral Indonesia-Rusia di bidang kemaritiman bersama Penasihat Presiden Federasi Rusia sekaligus Ketua Dewan Maritim Federasi Rusia, Nikolai Patrushev. Pertemuan ini menandai dorongan baru agar hubungan kedua negara bergerak dari relasi diplomatik menuju kemitraan strategis yang lebih operasional.

Fokus pembahasan tidak hanya menyentuh sektor pelayaran. Agenda juga mencakup pembangunan ekonomi, konektivitas, teknologi, dan ketahanan wilayah dengan laut sebagai ruang kerja sama utama.

AHY menekankan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17.380 pulau. Karena itu, sistem konektivitas dinilai harus terintegrasi dan berkelanjutan supaya pembangunan bisa merata dan biaya logistik nasional dapat ditekan.

Ia juga menilai konektivitas tidak boleh bertumpu pada satu moda transportasi saja. Menurutnya, keseimbangan antarmoda dibutuhkan untuk menjaga pemerataan pembangunan, memperlancar distribusi barang, dan mendukung mobilitas masyarakat.

Dalam forum itu, pengalaman Rusia di bidang transportasi, infrastruktur, logistik, dan teknologi maritim dipandang relevan. Kedua negara sama-sama memiliki karakter sebagai negara maritim besar, sehingga ruang kemitraan jangka panjang terbuka cukup luas.

Sejumlah prioritas teknis ikut dibahas dalam pertemuan tersebut. Di antaranya peningkatan kapasitas angkutan laut, kerja sama ilmiah dan teknis maritim, pembangunan pelabuhan berkelanjutan, industri galangan kapal, pendidikan dan pelatihan SDM maritim, serta pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

AHY menyebut mekanisme kelompok kerja penting agar hasil kerja sama bisa diukur dan dipantau. Dengan cara itu, setiap agenda diharapkan memberi manfaat nyata bagi kedua pihak, bukan hanya berhenti pada kesepakatan umum.

Pembahasan di Moskow juga sudah masuk ke tahap tindak lanjut teknis. Salah satunya adalah kerja sama PT PAL Indonesia dan Rosatom terkait Floating Nuclear Power Plant atau FNPP, yang telah diawali penandatanganan Non-Disclosure Agreement pada April 2026 dan akan dilanjutkan dengan penyusunan nota kesepahaman.

Selain itu, pembahasan kerja sama pembangunan kapal antara PT PAL Indonesia dan Ak Bars Shipbuilding Corporation masih berjalan. PT Pelindo juga menindaklanjuti kerja sama dengan CIFREX untuk pengembangan kapal berkecepatan tinggi.

Di sisi penguatan kapasitas, pemerintah ikut mengoordinasikan pengiriman tenaga terampil sektor galangan kapal ke Rusia. Langkah ini dijalankan oleh Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Luar Negeri RI sebagai bagian dari penguatan SDM maritim.

AHY menegaskan Indonesia datang dengan semangat kemitraan yang setara dan siap melangkah bersama Rusia menuju masa depan maritim yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih sejahtera. Dalam pertemuan itu, ia didampingi Deputi Nazib Faizal dan Deputi Odo R.M Manuhutu.

Menutup agenda di Moskow, AHY menekankan pentingnya agar kerja sama maritim Indonesia-Rusia segera masuk tahap implementasi. Ia menilai langkah tersebut akan berdampak pada konektivitas, daya saing industri, dan pertumbuhan ekonomi.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru