Kerugian VinFast Tembus Rp 67,35 Triliun, Impas Kini Diincar pada 2027

Author: Redaksi Android62

VinFast kini menatap titik impas lebih lambat dari rencana awal, dengan target baru yang mengarah ke 2027. Perubahan sasaran itu muncul di tengah beban ekspansi global yang masih besar, sementara perusahaan asal Vietnam tersebut terus menanggung kerugian dalam skala triliunan rupiah.

Laporan keuangan terbaru menunjukkan kerugian VinFast melebar menjadi 3,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67,35 triliun. Kondisi itu terjadi meski penjualan unit perusahaan tumbuh dua kali lipat, yang menandakan kenaikan volume belum cukup untuk menutup ongkos produksi massal dan biaya perluasan pasar.

Ekspansi luar negeri masih menjadi tekanan utama

Salah satu sumber beban terbesar VinFast datang dari langkah agresifnya masuk ke berbagai pasar internasional. Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masuk dalam daftar wilayah yang ingin digarap perusahaan, namun ekspansi seperti ini membutuhkan distribusi, infrastruktur, dan operasional yang tidak kecil.

Di saat yang sama, VinFast tetap berupaya memperbesar kapasitas produksi agar bisa bersaing lebih kuat di pasar kendaraan listrik dunia. Strategi itu memang mendorong skala bisnis, tetapi juga membuat arus kas perusahaan berada di bawah tekanan lebih lama karena investasi pasar baru dan investasi produksi berjalan bersamaan.

Pasar Vietnam tetap jadi basis penting

Meski ekspansi global terus berjalan, VinFast masih bertumpu pada Vietnam sebagai fondasi utama pertumbuhan. Chairman Vingroup sekaligus pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong, menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan pengiriman ratusan ribu unit mobil listrik dengan fokus utama pada pasar domestik.

Arah tersebut menunjukkan bahwa permintaan internal masih dipandang penting untuk menjaga skala bisnis. Pasar dalam negeri juga menjadi penyangga saat VinFast harus mengeluarkan modal besar untuk membangun pijakan di luar Vietnam.

Dukungan ekosistem ikut disiapkan

Vingroup juga menyiapkan penguatan dari sisi ekosistem melalui rencana penawaran saham perdana untuk unit taksi listrik Green SM. Vuong menyebut, “IPO ini diharapkan akan memberikan nilai yang sangat besar bagi Vingroup,” yang menegaskan posisi unit itu sebagai bagian strategis dalam rantai bisnis kendaraan listrik grup.

Rencana melantai di bursa tersebut dijadwalkan berlangsung pada paruh kedua 2028. Jika berjalan sesuai rencana, langkah ini berpotensi memperkuat integrasi bisnis Vingroup sekaligus menciptakan permintaan yang lebih stabil bagi kendaraan buatan VinFast.

Arah menuju impas masih bergantung pada efisiensi

VinFast menyebut sejumlah analisis pasar yang dipantau perusahaan memberi gambaran serupa soal waktu perbaikan kinerja. Juru bicara perusahaan mengatakan, “Terdapat pandangan yang konsisten di seluruh analisis yang kami pantau bahwa titik impas laba kotor dapat tercapai sekitar tahun 2027-2028,” seperti dikutip dari Reuters.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa efisiensi biaya dan peningkatan penjualan tetap menjadi dua hal yang paling menentukan. VinFast juga terus memperkuat pasar Vietnam lewat infrastruktur pengisian daya dan model kendaraan yang lebih terjangkau, lalu memperluasnya melalui integrasi layanan taksi dan rental dalam ekosistem Vingroup.

Dengan kombinasi itu, VinFast berusaha membangun permintaan internal yang lebih stabil sambil menahan laju kerugian yang masih besar. Namun selama biaya ekspansi global dan pengembangan kapasitas produksi tetap tinggi, jalan menuju impas masih akan sangat bergantung pada seberapa cepat penjualan bisa mengejar beban operasional yang ada.

Berita Terbaru