Komputer Kuantum Bisa Membobol Bitcoin Dalam Hitungan Menit, Komunitas Punya 5–10 Tahun Bersiap

Author: Redaksi Android62

Bitcoin tidak hanya menghadapi risiko dari peretasan biasa, tetapi juga dari lompatan besar di bidang komputasi kuantum yang bisa membuat serangan berlangsung sangat cepat. John Martinis, fisikawan peraih Nobel, menilai bahwa jika komputer kuantum mencapai kemampuan yang cukup maju, jaringan Bitcoin dapat menjadi sasaran dalam hitungan menit.

Peringatan itu diarahkan pada fondasi keamanan Bitcoin, bukan sekadar pada dompet digital atau aplikasinya. Menurut Martinis, ada celah penting ketika transaksi sudah disiarkan ke jaringan tetapi belum sepenuhnya final di blockchain, karena pada tahap itu kunci publik bisa terlihat dan berpotensi dimanfaatkan untuk menurunkan kunci privat.

Celah yang muncul saat transaksi diumumkan

Masalah utama yang disorot Martinis berada pada momen singkat sebelum transaksi benar-benar dikonfirmasi. Pada fase itu, informasi yang terekspos dapat membuka peluang bagi pihak yang memiliki kemampuan komputasi sangat tinggi untuk bergerak lebih cepat daripada penyelesaian transaksi itu sendiri.

Dalam skenario seperti itu, komputer kuantum yang memadai tidak perlu menunggu lama untuk mencoba mengekstrak kunci privat dari kunci publik yang terlihat. Jika proses itu berhasil, dana bisa dialihkan sebelum jaringan sempat menyelesaikan validasi transaksi secara penuh.

Kriptografi kurva eliptik jadi titik perhatian

Bitcoin selama ini bertumpu pada elliptic curve cryptography atau kriptografi kurva eliptik untuk menjaga keamanan transaksi dan dompet. Sistem ini dikenal kuat dalam komputasi klasik, tetapi juga menjadi target menarik bagi mesin kuantum karena sifat matematisnya memungkinkan pemrosesan tertentu dilakukan jauh lebih cepat.

Martinis menyebut pemecahan kriptografi sebagai salah satu sasaran yang relatif “lebih mudah” bagi komputer kuantum. Ia menggambarkannya sebagai “low-hanging fruit”, istilah yang menandakan bahwa serangan terhadap enkripsi bisa menjadi salah satu target awal yang mungkin dicapai lebih cepat dibanding banyak tantangan kuantum lainnya.

Mengapa ancamannya terasa cepat

Kekhawatiran terbesar bukan hanya pada kemungkinan kunci privat terbuka, tetapi juga pada kecepatannya. Begitu kunci publik terekspos di jaringan, perangkat kuantum yang cukup kuat secara teori dapat memanfaatkan jeda waktu yang sangat singkat untuk melakukan serangan sebelum transaksi benar-benar selesai diproses.

Itulah yang membuat ancaman ini berbeda dari peretasan konvensional. Risiko terhadap Bitcoin tidak terutama muncul dari kesalahan software, melainkan dari kemampuan perangkat keras yang melompat terlalu jauh dibanding kesiapan sistem keamanan yang ada saat ini.

Membangun komputer kuantum tetap sangat sulit

Meski peringatannya terdengar keras, Martinis juga menegaskan bahwa membuat komputer kuantum yang mampu melakukan serangan seperti itu bukan hal sederhana. Hambatan besarnya ada pada skala sistem, tingkat keandalan, serta kebutuhan koreksi kesalahan yang sangat rumit.

Ia menekankan bahwa ancaman tersebut tidak datang dari aplikasi yang ceroboh, melainkan dari perkembangan teknologi keras yang membutuhkan lompatan besar. Dalam pandangan Martinis, makalah Google yang ia sorot ikut memperkuat gambaran bahwa begitu kemampuan kuantum mencapai level tertentu, waktu serangan bisa menjadi sangat singkat.

Komunitas kripto masih punya waktu untuk bersiap

Martinis memperkirakan komunitas masih memiliki ruang sekitar 5–10 tahun untuk mulai berpindah ke enkripsi yang lebih tahan terhadap serangan kuantum. Namun, ia mengingatkan bahwa waktu itu sebaiknya tidak dipakai untuk menunda, karena konsekuensi serangan terhadap Bitcoin bisa sangat serius jika transisi baru dilakukan saat ancaman sudah mendekat.

Ia menegaskan, “Given the serious consequences, you deal with it. You have time, but you have to work on it.” Inti pesannya jelas: kesiapan teknis harus dimulai sekarang, bukan setelah komputer kuantum benar-benar mampu memecahkan sistem yang ada.

Latar belakang Martinis membuat peringatannya diperhatikan

Bobot pernyataan Martinis juga datang dari pengalamannya di bidang kuantum. Ia pernah memimpin program perangkat keras kuantum Google, termasuk eksperimen “quantum supremacy” pada 2019, dan kini menjabat sebagai CTO serta salah satu pendiri Qolab.

Qolab adalah perusahaan yang mengembangkan komputer kuantum superkonduktor skala utilitas. Karena latar itu, peringatannya dibaca sebagai sinyal dari orang yang memahami arah perkembangan teknologi kuantum secara langsung, bukan sekadar spekulasi dari luar ekosistem riset.

Di tengah dorongan inovasi digital, peringatan Martinis menempatkan Bitcoin pada titik yang sensitif antara kemajuan komputasi dan kesiapan keamanan. Selama jendela 5–10 tahun itu masih terbuka, fokus utama komunitas kripto adalah menyiapkan perlindungan yang mampu bertahan sebelum kemampuan kuantum benar-benar menguji fondasi kriptografi Bitcoin.

Berita Terbaru