Kredit Macet Paylater Naik Ke 5,06 Persen, Pertumbuhan Outstanding Menyentuh Rp 56,3 Triliun

Author: Redaksi Android62

Rasio kredit macet paylater naik ke 5,06 persen pada Februari 2026, bersamaan dengan outstanding yang melesat hingga Rp 56,3 triliun. Di saat yang sama, jumlah debitur paylater sudah mencapai 26,2 juta orang, sehingga skala penggunaan layanan ini makin besar sekaligus makin sensitif terhadap kemampuan bayar.

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa paylater tidak lagi sekadar menjadi produk tambahan dalam layanan keuangan digital. Pergerakannya kini sudah masuk ke level yang menuntut pengawasan lebih ketat, terutama karena pertumbuhan pembiayaan tidak selalu diiringi dengan kualitas aset yang stabil.

Pertumbuhan cepat, risiko ikut membesar

Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi menilai ekspansi pembiayaan paylater bergerak jauh lebih agresif dibandingkan kredit konvensional lain. Pandangan itu ia sampaikan dalam media gathering pada Selasa (28/4/2026), dengan sorotan bahwa akselerasi tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh kesehatan portofolio.

Bank umum masih menjadi penyalur terbesar di segmen ini dengan nilai Rp 18,9 triliun. Selain perbankan, industri fintech peer-to-peer lending juga ikut memperluas akses paylater ke masyarakat, sehingga sebaran pengguna dan kanal pembiayaannya terus bertambah.

Glant menekankan bahwa kondisi ini perlu ditopang prinsip responsible lending yang lebih kuat. Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan data yang lebih presisi dan edukasi keuangan agar perluasan kredit digital tidak berubah menjadi sumber risiko baru.

Kredit macet belum kembali ke level aman

Kualitas pembiayaan paylater belum menunjukkan pemulihan yang benar-benar stabil sejak 2023. Saat itu, NPL berada di 5,31 persen, sempat membaik pada 2024, lalu kembali naik dan diperkirakan masih berlanjut pada tahun ini.

Glant berharap rasio itu bisa dijaga mendekati level 2023, tetapi ia menilai tekanan terhadap kualitas pembiayaan masih sulit dihindari. Bahkan, ia melihat tekanan tersebut berpotensi bertahan setidaknya sampai bulan ke-9.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan jumlah pengguna tidak otomatis membuat portofolio lebih sehat. Dalam pembiayaan paylater, volume transaksi yang terus naik justru bisa memperbesar risiko bila analisis kredit tidak dilakukan dengan hati-hati.

Banyak fasilitas kredit dalam satu genggaman

Salah satu sumber kerentanan datang dari kebiasaan sebagian debitur yang memegang banyak fasilitas kredit sekaligus. Data IdScore menunjukkan rata-rata satu debitur memiliki tujuh fasilitas kredit aktif pada saat yang sama.

Ada pula temuan ekstrem, yakni satu individu yang menguasai lebih dari 1.000 fasilitas pinjaman. Temuan tersebut menggambarkan tingginya potensi overleverage ketika akses kredit diberikan tanpa pengawasan yang memadai.

Glant menilai kondisi itu menjadi cermin bahwa ekosistem kredit digital rentan terhadap penumpukan kewajiban. Risiko semakin besar jika pengguna belum memiliki riwayat kredit formal yang kuat.

Lima puluh lebih persen bukan untuk kebutuhan produktif?

IdScore mengidentifikasi enam faktor struktural yang ikut menjelaskan tingginya kredit macet pada paylater. Salah satu yang paling menonjol adalah tidak adanya agunan, karena pembiayaan tanpa jaminan membuat kedisiplinan bayar sangat bergantung pada perilaku nasabah.

Faktor lain datang dari karakter transaksi digital yang minim tatap muka. Proses yang sangat cepat dapat menurunkan komitmen psikologis pengguna dalam memenuhi kewajiban pembayaran, terutama saat keputusan belanja diambil secara instan.

Sekitar 42 persen transaksi paylater juga digunakan untuk kebutuhan non-produktif, seperti fesyen dan makanan. Pola konsumsi ini membuat cicilan lebih mudah menumpuk tanpa diimbangi peningkatan kemampuan bayar.

Profil pengguna turut menjadi perhatian karena mayoritas masuk kelompok unbanked atau belum memiliki riwayat kredit formal. Dalam kelompok ini, risiko gagal bayar disebut bisa 2,3 kali lebih tinggi.

Tekanan daya beli dan biaya dana

Selain faktor perilaku pengguna, tekanan ekonomi juga ikut membebani segmen ini. Glant menyoroti daya beli masyarakat yang tertekan di tengah ketidakpastian ekonomi global, sehingga ruang pengeluaran rumah tangga makin sempit.

Dalam kondisi seperti itu, cicilan digital dapat terasa lebih berat untuk dipenuhi secara konsisten. Ia juga menambahkan bahwa biaya dana yang tinggi memberi tekanan tambahan pada industri pembiayaan.

Kombinasi faktor makro dan perilaku membuat paylater berada pada posisi yang sensitif terhadap perubahan ekonomi. Sementara itu, total outstanding kredit nasional masih tumbuh positif di angka Rp 9.938,2 triliun, dan IdScore memperkirakan pertumbuhan kredit nasional tahun ini tetap stabil di kisaran 10 hingga 11 persen.

Di tengah ekspansi yang masih berlanjut, perhatian utama tetap tertuju pada keseimbangan antara perluasan akses pembiayaan, pemakaian data yang lebih akurat, dan perlindungan terhadap risiko gagal bayar. Dalam paylater, tantangan terbesarnya bukan hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga memastikan kualitas kredit tetap terjaga saat jumlah pengguna terus membesar.

Berita Terbaru