Ancaman terhadap jalur energi global menguat di tengah perang AS-Israel melawan Iran. Laporan mengenai kemungkinan penutupan Bab al-Mandeb oleh Houthi di Yaman menambah risiko gangguan pelayaran menuju Laut Merah.
Di saat yang sama, Mojtaba Khamenei memperingatkan Amerika Serikat bahwa Iran dan aliansi regionalnya menyiapkan “pelajaran yang tak terlupakan”. Pernyataan itu disiarkan televisi pemerintah Iran ketika eskalasi serangan terhadap infrastruktur sipil terus dilaporkan.
Bab al-Mandeb Jadi Titik Kerawanan
Bab al-Mandeb merupakan jalur laut strategis yang dapat memengaruhi pergerakan energi global. Penutupan rute tersebut, bila terjadi, dikhawatirkan mengguncang pasar energi dan mendorong kenaikan inflasi.
Tekanan ekonomi akibat gangguan pelayaran juga disebut dapat menambah beban politik bagi Presiden Donald Trump. Konflik ini dilaporkan tidak populer di Amerika Serikat dan telah menimbulkan kerugian ekonomi bagi warganya.
Situasi di laut memperluas dampak perang yang sebelumnya berpusat pada serangan di daratan. Negara-negara Teluk pun menghadapi kekhawatiran baru terkait keamanan wilayah dan keberlanjutan pasokan energi.
Serangan Infrastruktur Sipil Meluas
Amerika Serikat meningkatkan serangan terhadap Iran pada pekan ini dengan menyasar sejumlah infrastruktur sipil. Target yang disebut meliputi jembatan, jalur kereta api, dan pabrik desalinasi air.
Iran kemudian disebut menyerang infrastruktur sipil di Kuwait sebagai respons atas eskalasi tersebut. Otoritas Kuwait meminta masyarakat menghemat listrik setelah serangan itu dilaporkan terjadi.
| Pihak | Infrastruktur yang Dilaporkan Menjadi Sasaran | Dampak yang Disebut |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | Jembatan, jalur kereta api, dan pabrik desalinasi air di Iran | Tekanan terhadap infrastruktur sipil Iran meningkat |
| Iran | Infrastruktur sipil di Kuwait | Warga Kuwait diminta menghemat listrik |
Perang yang dimulai pada Februari itu dipandang sebagai ancaman terhadap eksistensi Kuwait. Di tengah tekanan keamanan tersebut, negara-negara kawasan terus berupaya mendorong penghentian perang melalui diplomasi di balik layar.
Tudingan soal Kesepakatan yang Berakhir
Pernyataan Mojtaba dibacakan pada Sabtu, 18 Juli 2026, dan menuduh Washington berulang kali melanggar nota kesepahaman antara kedua negara. Ia menilai pelanggaran pada bulan sebelumnya menunjukkan tanda tangan Trump tidak memiliki nilai maupun keabsahan.
Menurut Kompas.com yang mengutip Al Jazeera, nota kesepahaman tersebut sebelumnya dimediasi Qatar dan Pakistan. Kesepakatan itu dirancang untuk menciptakan kondisi bagi penghentian perang secara permanen.
Namun, Teheran dan Washington kemudian sama-sama menyatakan kesepakatan itu telah berakhir. Kedua pihak saling menuduh pihak lawan sebagai pelanggar komitmen yang telah dibuat.
Dalam pernyataan tertulisnya, Mojtaba melontarkan kritik keras terhadap kebijakan Amerika. “Kebiadaban adalah komponen yang tak terpisahkan dari keyakinan dan doktrin Amerika,” bunyi pernyataan tersebut.
Ia juga menyatakan bahwa pihak yang memicu perang harus siap menanggung biaya lebih besar dan penghinaan lebih lanjut. Mojtaba menyerukan warga Iran agar tetap mempercayai kepemimpinan serta waspada selama pertempuran berlangsung.
Risiko Eskalasi Tetap Terbuka
Pernyataan dari Teheran menunjukkan bahwa Iran belum melihat tanda akan menyerah pada tuntutan yang meningkat dari pemerintahan Trump. Kegagalan kesepakatan yang dimediasi Qatar dan Pakistan membuat jalur peredaan konflik semakin rapuh.
Selama serangan terhadap infrastruktur sipil dan tudingan pelanggaran kesepakatan terus berlanjut, risiko meluasnya perang tetap terbuka. Dampaknya tidak hanya dirasakan Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara Teluk serta pasar energi dunia.
